Jauh Sebelum Darwin, Al Jahiz Ciptakan Teori Struggle for Existence

0
149 views
Kitab_Al_Hayawan
Kitab_Al_Hayawan

Kalau kita pelajari sejarah peradaban Islam, ternyata tak hanya dalam ilmu kimia capaian para pakar Muslim di era keemasan itu. Ilmuwan Muslim di zaman kekhalifahan juga tercatat banyak menorehkan sejarah penemuan di bidang biologi. Temuan-temuan itu antara lain dipersembahkan oleh Al-Jahiz, Al-Qazwini, Al-Damiri, Abu Zakariya Yahya, Abdullah Ibn Ahmad Ibn Al-Baytar, Al-Mashudi, dan lain-lain.

Al-Jahiz dilahirkan di Basra (Irak) pada tahun 781 Masehi. Ia adalah pencetus pertama teori evolusi. Sayang namanya tidak disebutkan dalam buku-buku pelajaran biologi di sekolah maupun di perguruan tinggi. Pelajar dan mahasiswa lebih mengenal nama Charles Darwin, ilmuwan yang hidup seribu tahun sepeninggal Al-Jahiz. Darwin yang hidup pada masa 1809-1882 itu dikenal melalui bukunya bertajuk On the Origin of Species (1859).

Jika Darwin pernah menulis soal migrasi burung-burung di Kepulauan Galapagos, maka jauh sebelum itu Al-Jahiz juga pernah melakukannya. Al-Jahiz adalah ahli biologi pertama yang mencatat perubahan hidup burung melalui migrasi. Dia berpendapat, lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik makhluk hidup. Asal muasal beragamnya warna kulit manusia, misalnya, terjadi sebagai akibat dari lingkungan tempat mereka tinggal.

Al-Jahiz (781 M – 869 M) merupakan ahli biologi pertama yang mengungkapkan teori struggle for existence (berjuang untuk tetap hidup). Makhluk hidup, kata Al-Jahiz, agar bisa bertahan hidup harus berjuang. Berjuang untuk mengatasi pengaruh dampak lingkungan, persaingan memperoleh makanan, dan rasa aman.

Ilmuwan asal Irak itu menulis Kitab Al-Hayawan (buku tentang kehidupan binatang). Dalam kitab itu dia menulis tentang teori evolusi, adaptasi, dan psikologi binatang. Untuk dapat bertahan hidup, makhluk hidup harus berjuang sebagaimana ia dahulu berjuang untuk bisa tetap hidup di tengah-tengah keluarga yang miskin.

Al-Jahiz memang dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga miskin. Ia harus membantu perekonomian keluarga yang morat-marit dengan berjualan ikan di pasar. Kendati sibuk membantu keluarga, namun Al-Jahiz tidak putus sekolah. Bahkan ia termasuk pelajar berprestasi dan rajin berdiskusi tentang sains. Di sekolah, Al-Jahiz mempelajari puisi, filsafat, sejarah Arab dan Persia sebelum Islam, Al Quran, Hadits, dan lain-lain. Pemilik nama lengkap Abu Uthman Amr ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri, ini bersekolah hingga usia 25 tahun.

Al-Jahiz juga dikenal sebagai seorang penulis. Ia banyak menulis artikel dan buku. Karirnya sebagai penulis ia awali dengan menulis artikel saat masih tinggal di Basra. Kegemarannya menulis ini terus berlanjut di Bagdad –pada tahun 816 M Al-Jahiz pindah ke Bagdad dan meninggal di kota itu pada tahun 869 dalam usia 93 tahun. Selama hidupnya ia telah menulis 200 buku. Bukunya antara lain: Kitab al-Bukhala, Kitab al-Bayan wa al-Tabyin, Kitab Moufakharat al Jawari wal Ghilman, dan Risalat Mufakharat al-Sudan ‘ala al-Bidan.

Karya-karya Al-Jahiz banyak menginspirasi para ilmuwan lain seperti Al-Qazwini (ilmuwan Persia) dan Al-Damiri (Mesir). Bahkan karyanya juga diakui kalangan Barat. Pakar biologi Barat yang sezaman dengan Charles Darwin, Jhon William Draper, misalnya mengatakan, ”Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam melebihi apa yang kami lakukan. Mereka meneliti berbagai hal tentang anorganik dan mineral.” Tak heran jika Al-Jahiz pun dikenal sebagai pakar biologi terbesar yang pernah lahir di dunia Islam.

Selain Al-Jahiz, peradaban Islam juga pernah melahirkan pakar biologi lain yang mengkaji tentang evolusi. Mereka antara lain Al-Mashudi dan Ibnu Maskawaih. Al-Mashudi dikenal telah meletakkan dasar-dasar teori evolusi dalam karyanya yang dikenal sebagai “Padang rumput emas”. Karya Al-Mashudi lainnya ada dalam Kitab Al-Tanbih wal Ishraq. Dalam kitab ini ia menjelaskan teori evolusi dari mineral ke tumbuhan, dari tumbuhan ke binatang, dan seterusnya.

Sedangkan Ibnu Maskawaih menulis teori evolusinya dalam kitab The Epistles of Ikhwan Al-Safa. Dalam kitab ini ia mengungkapkan tentang tingkatan perkembangan sebuah species. Mulai dari air, mineral, tanaman, hewan, dan seterusnya. Karya Ibnu Maskawaih ini sangat populer di dunia Barat. Bahkan  teori evolusinya telah banyak mempengaruhi penganut paham Darwin.
Pakar biologi Muslim lainnya adalah Al-Damiri. Ilmuwan yang wafat di Kairo, Mesir, tahun 1405 M itu banyak diinspirasi oleh Al-Jahiz yang dikenal sebagai ahli zoologi paling terkemuka di dunia Islam.

Al-Damiri menuliskan karyanya dalam Kitab Hayat al- Hayawan (Kehidupan Binatang). Ini adalah sebuah eksiklopedi tentang kehidupan binatang dan menjadi sumber informasi penting tentang binatang. Karya Al-Damiri merupakan karya yang sangat penting dalam kajian zoologi. Ensiklopedi sejarah binatang itu tercatat 700 tahun lebih awal dari yang ditulis ahli biologi Barat, Buffon. Namun nama Buffon lebih dikenal ketimbang Al-Damiri. Ini bukti peradaban Barat banyak menyembunyikan temuan-temuan ilmuwan Muslim.

Khazanah peradaban Islam di bidang biologi masih menyimpan beberapa nama ilmuwan lain. Mereka antara lain Abu Zakaria Yahya Ibn Muhammad Ibn Al-Awwan, Abdullah Ibn Ahmad Al-Baytar, dan Abul Abbas Al-Nabati.

Abu Zakaria Yahya adalah penulis Kitab Al-Filahah. Ilmuwan yang menulis di akhir abad ke-12 di Sevilla (Spanyol) itu adalah penulis ilmu-ilmu pertanian. Bukunya memuat 585 jenis tanaman dan teknik budidaya lebih dari 50 tanaman buah-buahan. Ia juga menulis penyakit-penyakit tanaman dan cara mengatasinya, serta jenis-jenis tanah, kesuburan, dan cara pemupukannya.

Masa keemasan Islam di Spanyol juga melahirkan Abdullah Ibn Ahmad Al-Baytar. Ia adalah ahli botani dan sekaligus pakar obat-obatan (farmasi) terkemuka di Spanyol saat itu. Ia menjelajahi wilayah Mediterania, dari Spanyol sampai Syiria, untuk mengumpulkan tanaman-tanaman yang bisa digunakan untuk pengobatan (herbal).

Al-Baytar menjelaskan lebih dari 1.400 obat-obatan herbal dan membandingkannya dengan temuan-temuan lebih dari 150 penulis Muslim sebelumnya. Ilmuwan yang meninggal di Damaskus, Syiria, ini menjadi herbalis terkemuka di dunia Islam.
Karya-karya Al-Baytar antara lain Al-Mughani-fi al- Adwiyah al-Mufradah (kitab tentang obat-obatan) dan Al-Jami fi al-Adwiyah al-Mufradah (kitab tentang obat-obatan dari binatang, buah-buahan dan mineral). Kitab ini juga memuat 200 tanaman yang saat itu belum dikenal orang.

Nama lainnya adalah Abul Abbàs Al-Nabati. Sebagaimana Al-Baytar, Al-Nabati juga seorang pengembara. Ia berkelana sepanjang pantai-pantai Afrika dari Spanyol sampai ke negeri-negeri Arab di Timur Tengah untuk mengumpulkan dan meneliti tanaman-tanaman herbal. Al-Nabati menemukan sejumlah tanaman langka di pantai Laut Merah. Nama Al-Nabati, dan juga pakar biologi Muslim lainnya tetap dikenang hingga sekarang karena sumbangsihnya yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia. Bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari, nama Nabati sangat akrab di telinga kita. Anda lebih senang mengonsumsi minyak nabati?

infoB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here