Anak-anak adalah Masa Depan Kita

0
84 views
sheila cantik
sheila alfiana putri anak cerdas

Jika kamu berpikir setahun ke depan, tanamlah bijih.
Jika kamu berpikir sedekade ke depan, tanamlah pohon.
Jika kamu berpikir seabad ke depan, didiklah masyarakat.

APA yang kita ingat tentang masa kanak-kanak kita?  Apa yang membuat kita punya kepribadian seperti yang kita punya saat ini? Kira-kira apa yang membentuknya?  Apakah nasehat atau petuah-petuah orang tua kita yang membentuknya.  Masih ingatkah dengan petuah mereka saat kita kanak-kanak dulu?

Barangkali itu pertanyaan yang mengada-ada dan sulit untuk dijawab. Bagi saya sendiri, tidak banyak yang bisa bisa diingat tentang masa kanak-kanak.  Yang paling sering bisa aku ingat adalah teman-teman masa kecil. Masa bermain-main dengan mereka lengkap dengan petualangan-petualangan nakal dan menyenangkan.

Kenangan bersama orangtua malah susah diingat. Seperti sesuatu yang kental dan susah diurai satu-satu. Kenangan bersama orangtua bagai tali yang mengikat dan menyatukan semua kenangan.  Seperti mata kita yang bisa melihat sekeliling tapi tidak bisa melihat mata kita sendiri.  Demikian nyata terasa tapi tak bisa melihatnya.  Satu tapi merangkum banyak hal. Itulah kenanganku tentang orangtua.

Pertanyaan lainnya yang cukup mengganjal adalah, “Benarkah aku ini anak mereka?”.  Bagaimana aku bisa yakin bahwa aku ini anak mereka? Aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri saat aku lahir. Aku hanya tahu karena diberitahu oleh kakek, nenek dan orang-orang sekitarku.  Mungkin wajahku yang mirip-mirip kayak mereka?  Sifatku yang mirip-mirip kayak mereka? Dan dalam akte lahir juga disebutkan bahwa saya adalah anak dari pasangan suami isteri bernama nama orangtuaku.

Tapi apakah semua itu jaminan bukti kebenaran? Bukankah ada anak pungut yang tidak tahu bahwa ia sebenarnya anak pungut dari orangtuanya?  Mereka tahu secara langsung atau lewat perantara tentang kebenaran statusnya setelah dewasa.

Ketika orangtuaku pindah kampung, aku punya teman baru di kampung yang statusnya sebagai anak pungut.  Tetangga di desa yang sederhana tidak dikarunia anak dan memungut dua anak satu lelaki dan satu perempuan. Aku tidak tahu pasti kenapa tetanggaku itu tidak dikarunia anak. Padahal usia mereka juga masih muda. Kata beberapa orangtua, kudengar slentingan bahwa yang wanita mandul.

Asal-usul anak tersebut hingga kini tidak pernah aku tahu. Aku tahu keduanya adalah anak pungut setelah aku SMP.  Itupun kutahu setelah dikasih tahu oleh nenekku.  Entah darimana nenekku dapat bocoran informasi itu. Tapi informasi itu ternyata dibenarkan oleh teman-teman sepermainan lainnya. Aku tidak bertanya lagi.

Waktu kecil kami main bersama dan tidak ada yang aneh dengan mereka berdua.  Wajar saja sebagaimana kakak beradik dan orangtua sebagaimana mestinya. Tidak terusik sama sekali bahwa mereka tidak bersaudara dan bahkan orangtua mereka adalah bukan darah mereka.

Karena mereka dari keluarga tidak mampu, temanku sejak kecil sudah kerja keras.  Mencari kayu bakar, mengisi kamar mandi, mengupas ketela dan lain-lain pekerjaan. Sedang kakak perempuannya sama. Ia sering kudapati membantu masak ibunya di dapur dan ikut ke pasar. Mereka jualan makanan kecil yang terbuat dari ketela pohon di pasar.  Berangkat pagi-pagi hampir bersamaan saat aku berangkat ke sekolah.

Ketika di aku duduk di SMP, kami sudah jarang bermain bersama lagi. Temanku tidak melanjutkan sekolahnya begitu lulus SD.  Ia ikut bapaknya bekerja di bangunan. Temanku memboncengkan bapaknya naik sepeda berangkat pagi dan pulangnya sore.  Dari hari ke hari kulihat badan temanku makin kekar dan melegam. Sampai aku lulus SMP, temanku itu masih bekerja di bangunan bersama bapaknya.  Tidak ada yang aneh.  Mereka berdua rukun dan kompak sebagaimana anak dan bapak.

Tapi sayang begitu aku di kelas dua SMA mereka pindah rumah ke lain kampung.  Ternyata rumah mereka hanya menyewa. Sejak itu kami saling kehilangan kontak.  Hubungan kami memang tidak begitu akrab, karena ia jarang ikut bermain-main.  Hidupnya adalah kerja dan kerja.  Kadang saja ia main-main.  Dan itupun cuma sebentar karena kerjaan yang menunggunya untuk diselesaikan. Dan kami semua teman sepermainan maklum saja waktu itu.

Aku membayangkan seandainya dia itu aku.  Jika kebetulan saja aku yang dipungut orang lain. Bagaimana kira-kira sikapku pada orangtua angkatku?  Bagaimana jika bukti-bukti kelahiranku itu ternyata tidak asli? Yang namanya akte kelahiran bisa didapat dengan gampang. Pasport, ijasah, SIM, uang, arloji rolex, mobile phone saja bisa dipalsu. Untuk memalsu akte kelahiran bukanlah pekerjaan sulit. Dan selama ini aku yakin dan percaya saja tanpa mencoba mencari bukti kebenaran ontentiknya.  Bagaimana jika sebenarnya aku ini anak angkat kedua orangtuaku?  Bagaimana aku bisa tahu dengan pasti?

Perlukah periksa DNA? Bagaimana itu bisa dilakukan? Sampai saat ini pun teknologi di tempatku belum secanggih itu.

Pertanyaan-pertanyaan yang menggangguku kala itu, sedikit demi sedikit tanpa kusadari menghilang secara perlahan tanpa kusadari. Apa yang menghilangkan kegundahanku adalah kasih sayang dan perhatian dari orangtuaku. Aku tidak pernah mempertanyakan ketulusan kasih sayang dan perhatiannya.  Kegundahan itu bagai genangan air yang tertiup angin yang datang dengan lembut menyaputnya. Genangan air sebesar apapun, sekotor apapun akan menguap juga oleh tiupan angin meski selembut desahan nafas bayi.

Mungkin saja temanku yang pindah itu tidak mempertanyakan keberadaan statusnya sebagai anak. Ia juga merasakan hembusan angin selembut nafas bayi itu? Apalah artinya mempertanyakan status orangtua jika kita telah mendapat apa yang kita butuhkan?  Apalah artinya ikatan darah jika kita temukan orang tanpa ikatan darahpun bisa memberi apa yang kita butuhkan dalam hidup?

sheila lucu

Semua Saudara

Ketika mahasiswa, aku punya kenalan yang isterinya orang Eropa. Mereka bercerai dan temanku itu membawa anak bulenya pulang ke Indonesia.  Kenalanku itu dilahirkan dan dibesarkan dalam kebudayaan Jawa, maka anaknya yang berkulit orang Eropa itu juga bernama Jawa.

Ketika melihat pertama kali, aku sempat kaget. Meski penampakan fisiknya sebagaimana keturunan orang kulit putih dan pirang rambutnya, tapi ngomongnya bahasa Jawa sebagaimana anak lainnya.  Kala itu ia pulang sekolah di SD dan masih berseragam pramuka. Ternyata warna kulit itu hanya di luar saja yang membuat beda. Selebihnya sama dengan anak-anak Jawa umumnya. Ngomongnya basa Jawa, caranya merengek ya kayak anak Jawa. Kalau menangis ya sama kayak anak-anak orang Jawa atau anak-anak lain sebagaimana umumnya.

Meski aneh untuk awalnya, tapi lama-lama jadi biasa saja setelah kenal dekat dengannya. Ia tidak lebih dari anak-anak sebagaimana umumnya. Tidak terkesan sedikitpun perbedaannya.  Bahkan ia sendiri nampak biasa saja.  Tidak menyadari bahwa dirinya secara penampakan fisik berbeda.

Ketika saya tinggal di luar negeri, juga kenal beberapa pasangan campuran. Orang Indonesia dan Australia, orang Afrika dan Australia dan berbagai macam campuran warna kulit. Bahkan ada juga orang Australia yang mengadopsi anak Asia. Anak-anak mereka sepertinya punya sifat sebagaimana anak-anak pada umumnya jika merengek, protes, tertawa atau menangis.

Tentu saja semua ngomong bahasa Inggris.  Sebagian dari mereka juga bisa bahasa orangtuanya. Luar biasa, sejak kecil sudah bisa dua bahasa sekaligus. Saat berada di sekolah, mereka juga menemukan teman mereka dari berbagai negara dan bangsa. Bahkan dalam satu sekolah bisa sampai 50 bangsa. Sekolah tersebut bangga sekali sebagai sekolah multikultural.

Jika sejak kecil mereka biasa bergaul dengan orang beda kulit, beda fisik, beda latar belakang, beda kebangsaan maka bisa dibayangkan pandangan hidup mereka di saat dewasa.  Tentunya mereka lebih toleran terhadap perbedaan warna kulit atau penampakan fisik lainnya.

Perbedaan warna kulit hanyalah bagian luar tapi dalamnya sama. Mereka juga manusia. Tempat kelahiran bisa ada di mana-mana.  Kebetulan kita dilahirkan di suatu tempat dan dibesarkan lewat adat istiadat, kebudayaan, sistem sosial kita berada. Mungkin faktor lingkungan itu bisa membuat kita punya pandangan beda, tapi semua tetap saja sebagai manusia.

Kesadaran bahwa kita semua bersaudara amat penting bagi perkembangan kemanusiaan di masa datang.  Di India, China, Philipina dan juga di Sulawesi Utara kesadaran bahwa kita semua bersaudara dibina lewat sistem sosial dan  pendidikan. Bangsa India persuasi bahwa semua bangsa India adalah bersaudara dilakukan sejak bangku SD. Hal serupa di Indonesia saat upacara kita bacakan Pancasila.  Kesadaran bahwa kita bersaudara tersebut amat penting dalam menciptakan budaya kerjasama di masa depan.  Hanya dengan kerjasama dengan dasar ethos semangat sama, tujuan besar akan lebih mudah dicapai.

nikofarizki/infoBanua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.