Jangan Ketinggalan! Mulai Bisnis Online Detik Ini juga

0
61 views
bukalapak
Achmad Zaky merupakan pendiri & CEO Bukalapak.

Masih teringat di kepala saya dulu pertama kali membangun Bukalapak di tahun 2010 setelah lulus dari ITB, hampir semua orang di sekeliling saya skeptis dengan yang namanya internet business, apalagi e-commerce.

Saya pun sampai tidak enak kalau ditanya saudara atau keluarga, kerja dimana, jawaban saya selalu “lagi interview di perusahaan X, Y, Z” yang semuanya perusahaan top.

Tapi saya memang keras kepala, saya keukeuh bahwa Bukalapak adalah masa depan kami. Kami bermimpi suatu saat usaha-usaha offline itu akanonline, belanja pun juga akan online semua. Apapun akan terkoneksi dengan internet di masa depan.

Sambil mencoba tidak mendengar apa kata orang, sejak Bukalapak live, kita mulai bekerja mengajak siapapun yang punya usaha untuk bergabung, ada yang di mall, di pasar sampai via internet di Facebook, Forum, Twitter semuanya kita ajak.

Waktu kami dari pagi sampai tengah malam habis untuk mengajak berbagai kalangan usaha untuk bergabung Bukalapak. Seringkali kami tidur di garasi kecil kami di bilangan Haji Nawi, Jakarta Selatan.Weekend kami pun diisi dengan membangun Bukalapak, kadang refreshing sebentar ke Pondok Indah Mall, walau cuma bisa lihat-lihat saja, setelah itu balik ke garasi…he..he..

Tidak Dianggap

Yang menarik dari perjuangan kami bukan cerita-cerita kami di atas tentunya, ada sekelumit cerita sukses di luar sana yang jumlahnya jauh lebih besar. Dari ribuan kalangan usaha yang kami ajak, justru yang tertarik dan antusias bergabung adalah yang usahanya masih kecil-kecil alias baru memulai.

Sementara banyak sekali usaha besar atau yang sudah established, terutama di mall-mall tidak tertarik untuk bergabung dengan Bukalapak. Mereka sudah nyaman dengan Mall offline mereka yang dengan duduk-duduk saja bisa mendapatkan pembelian tanpa bersusah-payah packing, melayani customersiang malam, dan mengirim barang seperti di online.

Sementara yang baru memulai usaha ini memang struggle kondisi mereka. Mereka tidak memiliki lapak offline kebanyakan, kalaupun memiliki mungkin di rumah mereka dan itu pun kecil sekali. Mereka juga umumnya tidak memiliki dana untuk menggaji SPG atau customer service.

Pertumbuhan kelompok usaha-usaha baru dan kecil ini semakin membesar dari hari ke hari, di tahun pertama kami berdiri, kami memiliki 10 ribu pengusahaonline. Tahun kedua 30 ribu dan hingga kini kami memiliki 190 ribu, jumlah yang membuat kami geleng-geleng. Mereka bak virus. Mungkin kalau mereka dikumpulkan sekarang, dua stadion Gelora Bung Karno penuh.

Jumlah mereka yang besar selalu menjadi bahan jualan kami entah ke partner ataupun investor. Partner kami yang umumnya korporasi bank atau perusahaan kartu kredit menganggap usaha-usaha kecil yang ada di Bukalapak ini terlalu kecil, sehingga kita terpaksa tidak bisa membuka jalur pembayaran yang canggih yang mereka miliki.

Mereka berdalih, usaha-usaha baru dan kecil ini tidak bisa dipercaya, mereka sumber fraud/penipuan, barang-barang mereka juga banyak yang tidak jelas dan masih banyak alasan lain sehingga sampai sekarang pun Bukalapak belum bisa membuka kanal kartu kredit karena hal ini. Namun begitu kami percaya suatu saat pasti mereka membuka diri.

Dari sisi investor juga sama, banyak yang menanggapi masa depan e-commerce/internet bukan di usaha baru dan kecil (padahal jualan kami itu). Mereka memandang membesarkan usaha kecil tidak akan ada untungnya, marjinnya kecil apalagi mereka susah diatur. Investor lebih senang jualan barang langsung atau berhubungan dengan usaha yang sudah establishedyang memiliki karyawan dan toko banyak serta modal kuat, lebih banyak untungnya, dan bisa monopoli.

Kami ditolak mentah-mentah oleh banyak investor dalam perjalanan kami karena alasan-alasan di atas. Namun kami bertekad, pasti ada yang spesial dari usaha baru dan kecil-kecil ini sehingga jumlahnya bisa sebegitu besar dan tumbuh bak virus. Kami percaya suatu saat mereka bisa besar.

Dunia yang Setara

Animo kelompok-kelompok usaha baru atau kecil yang begitu besar kepada Bukalapak ini membuat kami selalu penasaran dan mencari tahu siapa mereka ini. Kenapa mereka juga sekeras kepala kami, pantang menyerah dan antusias sekali menjalani dunia online ini.

Buat kami, karakter mereka sama seperti karakter kami di balik Bukalapak ini. Kami merasakan hal yang sama seperti apa yang mereka rasakan. Kami seperti saudara dengan mereka. Kami terus mencari tahu tentang mereka, berdiskusi dengan mereka baik di luar maupun rumah mereka. Dari pertemuan yang intens inilah kami tahu mereka.

Salah satu temuan kami adalah, mereka menilai, hanya lewat internet lah peluang mereka untuk hidup dan bertahan. Mereka tidak memiliki banyak resource untuk bisa bertahan di dunia offline.

Belakangan saya juga baru tahu ternyata bisnis offline juga tidak mudah, selainmarket yang kecil, biaya-biaya lainnya termasuk preman juga banyak. Ini yang menggerus profit mereka, selain itu mereka memandang dunia offline itu tidakfair, mereka yang punya modal kuat lah yang menang. Bagi mereka, di onlinesemua sama.

Di dunia online, performance individu lebih dilihat bukan penampilan atau letak lokasi yang strategis yang umumnya mahal. Tak jarang kami menemui top seller yang hanya memiliki kamar kecil sekali yang jauh berbeda dengan kenyamanan di Mall.

Tapi pembeli online tetap lebih memilih layanan yang baik, pengiriman yang cepat dan tepat waktu, barang yang jujur sesuai dengan yang digambarkan. Mereka bahkan tidak pernah melihat muka pelapak yang berjualan, cukup melihat track record pelapak tersebut lewat feedback.

Alasan menarik lain yang mereka ungkapkan, karena online ini open, mereka bisa belajar dari siapapun dan dari manapun. Mereka bisa membuka tips-tips dari YouTube, blog-blog, atau pengetahuan dasar di Wikipedia. Selain itu mereka juga biasa mengikuti kuliah online jarak jauh baik yang sekelas webinar sampai dengan kuliah strategi di universitas internasional ternama.

Inilah era baru, era dimana usaha-usaha baru alias kecil tumbuh cepat dan akan terus tumbuh subur. Era yang merupakan berkah bagi entrepreneur-entrepreneur muda Indonesia yang mayoritas 90% usahanya kecil untuk bisa sedikit naik kelas. Mereka bisa membuka pasar yang sangat lebar tidak hanya nasional, tapi juga internasional.

Mereka bisa belajar apapun dari mana pun, tanpa biaya. Tidak ada jarak, strata ekonomi, sosial, dan halangan apapun. Usaha kecil di Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi kita, sebagian besar GDP kita mengalir ke usaha kecil, selain itu 90% golongan pekerja kita ada di usaha kecil.

Internet harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh usaha-usaha kecil yang lain untuk berkembang, atau tergilas dimakan zaman

*) Penulis, Achmad Zaky merupakan pendiri & CEO Bukalapak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.