Pelindo III Berhasil Tekan Dwelling Time

0
111 views
peti kemas banjarmasin
aktivitas di terminal petikemas Pelabuhan Trisakti Bandarmasih Kota Banjarmasin. (ida)

Hampir dua tahun pelaku usaha di Kota Banjarmasin mengeluhkan lamanya rata-rata waktu tinggal kontainer (dwelling time) di Pelabuhan Trisakti Bandarmasih Kota Banjarmasin.
Persoalan dwelling time memang kerap juga dialami di beberapa pelabuhan di wilayah Pelindo III, yang mengelola 43 pelabuhan di tujuh provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, serta memiliki 10 anak perusahaan dan afiliasi.
Waktu itu para pelaku usaha pengangkutan sampai harus mengirim surat protes ke Menko Perekonomian terkait masalah tersebut karena situasi itu sangat mengganggu arus kelancaran keluar masuk barang. Pemerintah pun sampai menugaskan Wakil Menteri Keuangan untuk berkantor di Pelabuhan Tanjung Priok untuk menekan dwelling time itu.

Setelah dua tahun, tentu sekarang ceritanya sudah berubah. Dwelling time pun sudah jauh membaik, meski belum sepenuhnya seperti yang diharapkan para pelaku usaha.
Saat ini rata-rata dwelling time di Pelabuhan Trisakti berkisar 5,3 hari. Angka tersebut berasal dari kontribusi dari layanan pre-clearance atau pre-custom yang mencapai 2,7 hari, Bea dan Cukai setengah hari dan sisanya berada pada proses post custom.
Sekali lagi, pencapaian dwelling time 5,3 hari ini memang merupakan langkah maju ketimbang yang terjadi beberapa waktu silam. Namun bila dibandingkan dengan pelabuhan lain di kawasan Asia Tenggara, kita tetap masih tertinggal. Singapura misalnya, masa tunggu bongkar kontainer di sana berkisar 1 hari.
Guna menekan (dwelling time) Pelindo III memang tidak bisa seorang diri, karena banyak pihak yang terkait dengan penatalaksanaan arus barang di pelabuhan. Pelindo bersama-sama dengan berbagai pihak terkait.
Berdasarkan data , “dwelling time” di sejumlah terminal yang dikelola Pelindo III saat ini bervariasi. Contohnya, di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya selama 4 hari, di PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) 5,8 hari, PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI) Surabaya 5 hari, Terminal Teluk Lamong Surabaya 5 hari dan Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) 5,5 hari, Terminal Peti Kemas Trisakti 5 hari.

Pelabuhan_Petikemas_Banjarmasin
Pelabuhan Trisakti Bandarmasih Kota Banjarmasin Kalsel

Oleh karena itu wajar bila karena proses bongkar muat di pelabuhan Indonesia yang lama ini mengakibatkan Indeks Kinerja Logistik negara ini masih sangat rendah. Indeks Kinerja Logistik merupakan indeks yang diterbitkan Bank Dunia untuk mengukur persepsi pelaku usaha freight forwarders internasional dalam berbisnis di suatu negara.

Berdasarkan Indeks Kinerja Logistik Bank Dunia 2012, Indonesia berada pada posisi ke-59 dari 115 negara di dunia. Posisi ini memang naik dari tahun 2010 yang berada pada urutan 75, namun masih tetap di bawah Singapura, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, China, bahkan Malaysia, Thailand, Philipina dan Vietnam. Artinya, terendah di antara negara-negara di Asia Tenggara.

Tentu hal seperti itu harus segera diperbaiki. Pekan lalu Presiden Joko Widodo telah memerintahkan pembentukan satuan tugas untuk menyelesaikan masalah lamanya dwelling time di sejumlah pelabuhan di Indonesia.

Khusus di Tanjung Priok, yang merupakan pintu gerbang utama perdagangan internasional Indonesia, dwelling time diupayakan ditekan ke level 4,7 hari dalam waktu tiga bulan mendatang. Tentu ini memerlukan kerja keras dan koordinasi yang kuat dari sejumlah instansi karena hal ini merupakan persoalan lintas sektoral.

Kita memahami hal ini bukan persoalan mudah karena ada berbagai lembaga dan kementerian yang beroperasi di pelabuhan dan seringkali lebih mengedepankan ego masing-masing. Di sinilah peran seorang menteri koordinator sangat dibutuhkan untuk menjembatani komunikasi antarinstansi yang berbeda.

Awal pekan ini sudah dimulai pertemuan antarberbagai instansi untuk menekan dwelling time ini. Salah satu hasil pertemuan itu adalah beberapa kementerian dibagi menjadi tiga kelompok yang secara simultan berperan untuk menekan dwelling time
.
Terkait dengan upaya menekan waktu tinggal kontainer di pelabuhan Indonesia, implementasi Indonesia Port Net—yang diinisasi Kemenhub—benar-benar harus terealisasi. Sistem ini merupakan portal elektronik yang memungkinkan terjadinya pertukaran data dan informasi pada layanan kepelabuhanan di empat pelabuhan—Priok, Tanjung Perak Surabaya, Makassar dan Belawan.
Lewat sistem ini jadwal kedatangan kapal, kapal berlayar, aktivitas di dermaga, waktu bersandar, dan berapa truk bongkar muat dapat diketahui secara real time. Artinya, lalu-lintas barang bisa lebih cepat dan efisien.
Jadi tak perlu terlalu berlebihan Indonesia Port Net ini beroperasi di seluruh pelabuhan di Indonesia. Cukup beroperasi di empat pelabuhan utama di Indonesia saja, kasus dwelling time yang sempat bikin Presiden Joko Widodo berang, terus berkurang karena bisa ditekan.
(Ida Yusnita S.Sos)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here