Komjen Budi Gunawan, Proxy War & Perang Asimetris

Komjen Budi Gunawan, Proxy War & Perang Asimetris

Image result for budi gunawan kepala bin

Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan, menjadi salah satu tokoh penting dalam penyusunan strategi nasional terkait peta situasi dunia yang baru. Dimana, ancaman keamanan di dalam negeri, tidak bisa dilepaskan dari berubahnya peta “perkubuan” global. Istilah populernya: Proxy War.

Bentuk-bentuk kejahatan atau gangguan yang mengancam kehidupan warga negara, warga asing dan bahkan warga dunia, tidak lagi konvensional yang “melulu” hanya terjadi karena motif perut belaka. Begitu juga polanya, terus menemukan bentuk-bentuk baru.

Kejahatan, bahkan sudah mampu pada tingkatan manipulatif pada level yang paling mendasar pada kehidupan bernegara, yaitu ideologi, konstitusi, struktur kemasyarakatan, bahkan prilaku. Teknologi yang sesungguhnya diciptakan untuk memberi manfaat pada umat manusia, pun bisa “alat kejahatan” yang berbahaya dalam efek kerusakan yang lebih massif. Istilah populernya: Perang Asimetris.

Dalam situasi dimana institusi Kepolisian tengah membangun kepercayaan publik —pada titik personal—, saat Komjen Pol Budi Gunawan ditunjuk untuk menjadi calon Kapolri oleh Presiden, pada saat itulah “kualitas pengabdian” terlihat jelas.

Komjen Pol Budi Gunawan memilih “Jalan Sunyi”: mundur sebagai calon Kapolri untuk menghindari “polemik dan kebisingan politik” yang, tentu saja, bisa menyulitkan bagi institusi untuk segera membangun kepercayaan publik dan melakukan konsolidasi internal untuk peningkatan profesionalisme-nya.

Bahkan, persoalan pribadinya yang menyangkut harkat dan martabatnya sebagai pribadi dan warga negara atas “Sangkaan” yang tidak terbukti di pengadilan, pun tak pernah direhabilitasi.

Nama Komjen Pol Budi Gunawan muncul lagi sebagai calon yang diajukan Presiden sebagai Kepala Badan Intelijen Negara. Muncul berbagai spekulasi: positif maupun meragukan.

Persoalan ini menjadi wajar, jika yang meragukan kapasitas Komjen Pol Budi Gunawan tidak memiliki referensi yang cukup terkait apa yang telah dibangun dan dilaluinya. Namun, menjadi sangat kentara sebagai sebuah “operasi politik”, ketika dengan referensi yang sangat minim, memberi penilaian tidak akurat pada profil Komjen Pol Budi Gunawan. Sementara, bangsa ini semakin membutuhkan sebuah lembaga intelijen yang lebih kuat, kokoh, dan mampu melindungi kehidupan warga negaranya.

Ada beberapa persolan yang dimunculkan di publik untuk membangun keraguan terhadap kapasitas dan profil Komjen Pol Budi Gunawan di dunia intelijen.

Soal domain militer dan non-militer, misalnya.

Bagi yang memiliki referensi yang cukup, sudah jelas bahwa Komjen Pol Budi Gunawan bukan orang yang pertama dari Kepolisian, yang pernah memimpin BIN. Sebelumnya, mantan Presiden SBY pernah menunjuk Jenderal (Pur) Sutanto, mantan Kapolri, sebagai Kepala BIN.

Sepanjang pengabdiannya di lembaga intelijen, Jenderal (Pur) Sutanto memberikan kontribusi yang sangat besar. Banyak prestasi yang telah disumbangkan, terutama dalam mengantisipasi persoalan pertahanan dan keamanan dalam negeri.

Selain itu, sebagai lembaga negara, BIN berada di bawah kewenangan Presiden, yang diberikan kewenangan untuk memilih Kepala-nya, dengan ketentuan bahwa pada tingkatan organisasi, sesungguhnya telah terbangun mekanisme karier dan fungsional yang telah diatur sepanjang lembaga itu berdiri.

Ditambah lagi, Komjen Pol Budi Gunawan adalah “Angkatan 83”, yang pada saat ini menjadi angkatan senior yang masih aktif dalam “jenjang senioritas” di jajaran para Jenderal, baik di Kepolisian maupun di Matra Darat, Laut atau Udara.

Dalam “peta perkubuan global” yang telah meletuskan perang proxy dan perang asimetris, kemampuan untuk membaca apa yang sesungguhnya terjadi dan apa implikasinya bagi kehidupan suatu bangsa, menjadi sangat penting bagi lembaga intelijen.

Membangun dikotomi tanpa referensi yang cukup terhadap calon Kepala BIN, tentu sangat berisiko. Terutama untuk memastikan bahwa negara bisa mencukupi kebutuhan rakyatnya terhadap rasa aman dalam kehidupan yang adil dan sejahtera.

Kemampuan kepemimpinan yang mampu menembus jalur informasi dan komunikasi, menjadi penting. Karena sesungguhnya, informasi dan komunikasi telah menjadi “senjata perang” yang daya ledaknya melebihi bom atom, sekalipun.

Di beberapa negara, informasi dan perangkat komunikasi telah membuktikan telah mampu membangun sebuah rezim. Dan, tentu saja juga mampu menjatuhkannya!

Bagi yang memiliki referensi bagaimana Komjen Pol Budi Gunawan ikut terlibat aktif dalam membangun strategi terkait dengan situasi global ini, tentu sangat berharap bahwa Komjen Pol Budi Gunawan bisa memimpin lembaga intelijen ini.

Apalagi, lembaga intelijen di negara ini telah memiliki beberapa catatan sejarah yang hingga saat ini masih menjadi pertanyaan. Terutama terkait dengan perannya dalam sebuah rezim pemerintahan.

Dengan referensi, terutama soal “kualitas pengabdian” kepada negara, Komjen Pol Budi Gunawan saat ini menjadi pilihan paling rasional untuk membangun sebuah lembaga intelijen yang mampu melindungi warga negara, dalam pemerintahan yang tidak bisa lepas dari peta global yang telah terlibat dalam perang proxy dan perang asimetris saat ini.

Dunia intelijen, menjadi harapan membawa perubahan yang signifikan bagi kebaikan umat!

* penulis adalah jurnalis

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply