Menangkal Provokasi di Dunia Maya

Menangkal Provokasi di Dunia Maya

sosial-mediaaaOleh : Firman *)

Upaya pemerintah dalam menampung aspirasi masyarakat, mendapat kritikan dari berbagai pihak. Hal ini berkaitan dengan adanya aksi unjuk rasa bertema Bela Islam yang dilakukan sebagian masyarakat muslim Indonesia dan dimotori oleh beberapa ormas Islam seperti FPI, HTI, IM, dan beberapa kelompok lainya. Tujuan dari aksi unjuk rasa ini sudah diketahui oleh banyak khalayak publik, yaitu ditetapkannya Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai tersangka kasus penistaan agama pasca beredarnya video Ahok sewaktu memberikan sambutan di Kepulauan Seribu.

Apa yang diinginkan oleh sebagian masyarakat muslim pada saat itu sesuai dengan tujuan dari pelaksanaan aksi tersebut, pada akhirnya Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri telah resmi menetapkan Ahok sebagai tersangka. Namun satu hal lain yang perlu diingat oleh masyarakat luas selain aksi Bela Islam merupakan aksi unjuk rasa terbesar sepanjang sejarah berdirinya NKRI adalah begitu liarnya pemberitaan – pemberitaan yang tersebar luas di dunia maya mengenai aksi Bela Islam dan Ahok sebagai penistaan agama yang menjadi pusat dari pusaran masalah ini.

Rasanya tidak perlu lagi untuk mencontohkan media – media mana saja yang dinilai memberikan pemberitaan yang benar ataupun salah. Intinya adalah banyak sekali media – media kawakan maupun media kepentingan yang terlihat berupaya untuk memperkeruh suasana. Arah dari upaya tersebut dapat kita lihat dengan mudah di hampir semua media sosial yang bisa diakses oleh orang Indonesia saat ini, banyak pihak yang seperti berusaha untuk menguatkan sentimen agama dalam permasalahan ini. Ujung – ujungnya pemerintah terpaksa harus campur tangan dalam menetralkan masalah ini karena ditakutkan dapat berkembang dengan sangat luas tanpa ada filter yang menahannya. Langkah yang pemerintah lakukan akhirnya adalah dengan memblokir beberapa situs maupun akun yang berupaya memprovokasi dengan isu SARA.

Sejatinya pemerintah telah mengambil tindakan yang bijak dengan mengarahkan dan memfasilitasi aksi unjuk rasa pada 4 November 2016 silam. Walaupun sempat penuh dengan kontroversi yang lagi – lagi juga ditimbulkan dari dunia maya dengan mengatakan bahwa pemerintah melakukan tindakan kekerasan seperti pada tragedi 98, tetapi kita tetap patut untuk memberikan apresiasi atas usaha pemerintah yang berupaya untuk netral dan tetap berupaya untuk melindungi warganya.

Dalam keadaan seperti ini, sangat bisa dipahami jika banyak orang yang mulai memiliki perbedaan pandangan karena mengkonsumsi informasi – informasi yang disebarkan di dunia maya tersebut. Banyak yang tiba – tiba menjadi seorang ahli agama dan politik dengan gencarnya menyampaikan kepada masyarakat pandangan pribadi yang seringkali disampaikan dengan kata – kata kasar dan sumpah serapah. Hal tersebut akhirnya menimbulkan perdebatan dari masyarakat umum lainnya hingga berakhir dengan debat kusir yang tidak ada habisnya.

Sebagai seorang manusia yang diberikan hak untuk mengemukakan pendapat dan dilindungi oleh hukum konstitusional maka sebaiknya kita dapat berlaku bijak dalam mengkonsumsi informasi yang diberitakan media, terutama yang berkaitan dengan hal – hal sensitif dan mengandung unsur SARA. Terlebih jika informasi tersebut sudah disebarkan oleh media – media yang tidak jelas kepemilikannya, mengenal media kepentingan ini cukup gampang. Dalam pemberitaannya sudah pasti selalu terlhat mendiskreditkan pemerintah.

Masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi dan dapat fokus terhadap apa yang diperjuangkan oleh masyarakat Muslim Indonesia pada awalnya dan tidak ikut – ikutan berkomentar mengatakan pemerintah tidak kompeten dan pemerintah memihak dalam kasus penistaan agama. Syukur – Syukur jika masyarakat Muslim Indonesia sudah bisa legowo dan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada pemerintah kita dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

*) Pengamat Sosial dan Komunikasi Masyarakat

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan