Seniman Lukis Kalsel Galau, Karya Seni Mereka Merasa Kurang Diapresiasi

Seniman Lukis Kalsel Galau, Karya Seni Mereka Merasa Kurang Diapresiasi

lukis
Kalsel selain dikenal sebagai lahan kayu dan tambang batubara, juga bertabur seniman salah satunya seniman lukis. Tapi ironisnya, karya puluhan lukisan indah yang dipamerkan di rumah Anno 1925 sejak 17 Maret tadi kurang diapresiasi para pejabat dan pengusaha Kalsel. Beberapa pelukis yang karyanya ikut dalam pameran ini karyanya bahkan sudah dihargai dunia. Namun seminggu menggelar pameran di Banjarmasin, satu lukisan pun tidak ada yang terbeli.

Kemarin adalah hari terakhir pameran. Para seniman lukis sendiri merasa gamang melihat kenyataan hingga detik akhir tak satupun lukisan dibeli pengunjung. Sejak pameran dibuka pengunjung yang datang tiap hari sebenarnya banyak, utamanya malam hari. Namun kata para pelukis, pengunjung dari ragam usia dan kondisi finansial itu hanya menikmati sambil berfoto selfie.

Pelukis senior Umar Sidik mengatakan, di Kalsel penghargaan terhadap karya seni rupa memang masih minim. Dia pun menepis anggapan karena harga seni rupa yang mahal jadi penyebabnya.

Sekadar diketahui, lukisan Umar Sidik dengan judul Tergerus Daratan dibandrol di kisaran Rp15 juta. Karya ini dilukis selama sebulan, dengan mengangkat tema lokal, dimana para penjual dengan jukung semakin berkurang.

Umar yang sudah melukis mulai sejak SMP ini menambahkan, perlunya membangun kesadaran seni di Banua. Sehingga apresiasi terhadap seni rupa juga bisa meningkat. Meski dia juga sepakat jika para pelukis juga harus lebih kreatif lagi.

Senior seni rupa Misbach Tamrin, juga senada. Tidak ada satupun lukisan yang terbeli, merupakan “pukulan” pedas terhadap para peseni rupa di Banua. Namun dia tidak menampik kalau hal itu juga dipengaruhi ekonomi lokal yang belum stabil.

Hanya dia melihat, bahwa jika peran semua pihak sinergi maka lukisan tidak laku tidak akan terjadi. Banyak cara kata dia bisa dilakukan agar mendatangkan para pembeli. Karena jelasnya, seni rupa yang dipamerkan kali ini jauh meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya, baik itu tema ataupun teknik melukis.

Pelukis yang memulai karir sejak tahun 60-an ini menjelaskan, karya seni rupa mampu mendorong kemajuan di bidang pariwisata. Misalnya pemerintah bekerjasama dengan hotel membeli lukisan untuk dipajang di hotel.

“Karena lukisan itu menggambarkan situasi lokal. Dia mewakili sudut pandang seniman dalam membingkai berbagai macam hal. Melukis itu tanggungjawab terhadap fenomena di sekitar kita,” ujarnya

Pun begitu, senada dengan Umar Sidik, bahwa para peseni rupa ke depan harus lebih kreatif lagi. Bagaimana mereka bisa meracik tema, sehingga membuka peluang pasar itu sendiri. Bukan hanya berharap agar lukisan dibeli dengan alasan karya seni.

Fathur Rahmy, pendiri Sanggar Solihin yang juga ketua panitia pameran, mengatakan sangat jarang terjadi pada sebuah event pameran, lukisan satu pun tidak ada terbeli. Untuk itu katanya, para pelukis pun sepakat membuat pernyataan bersama.

Adapun pernyataan bersama itu dibacakan pelukis Aswin Noor. Beberapa poinnya adalah, pemerintah diharapkan bisa membeli atau mengkoleksi lukisan old master karya perupa Banua, sebagai hiasan dinding kantor atau tempat lain. Juga meminta pemerintah mengimbau pelaku usaha untuk membeli karya perupa Banua.

Sementara agar terjadi regenerasi, pelukis juga meminta pemerintah mendirikan sekolah atau perguruan tinggi seni rupa di Kalsel. “Kita belum ada sekolah ini,” kata Umar Sidik.

Dan secara khusus mereka juga meminta agar Panggung Terbuka di Taman Budaya diberi nama Panggung Terbuka Bakhtiar Sanderta. Serta memberikan rekomendasi kepada Pemkab Tala sebagai pelaksana Pameran Seni Rupa Kalsel 2018.

Pelukis termuda di pameran, Badri saat ditanya soal kegamangan para senior, mengaku maklum. Badri membenarkan, dunia seni rupa di Banua bukan profesi yang menjanjikan finansial. Jauh dari profesi populer yang diidamkan anak muda. Namun katanya profesi itu tetap dia tekuni. “Ini hanya menyalurkan jiwa seni saja, ada kepuasan,” ujarnya.

Beberapa pengunjung yang datang ke pameran, mengaku tertarik dengan beberapa lukisan di sana. “Memang beda lukisan sama foto. Ada sesuatu yang susah dijelaskan, seperti lukisan Tergerus Daratan, kayak sedih aja kalau melihat wajah Ibu penjual itu,” ujar Purnama salah satu pengunjung.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply