Kepala Sekolah Bukan Tugas Tambahan

Kepala Sekolah Bukan Tugas Tambahan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan atas PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru yang menyebutkan ketentuan kepala sekolah tidak lagi wajib mengajar untuk pemenuhan syarat tunjangan profesi.

Hal tersebut dikatakan Muryadi , Kepala Sekolah SMKN3 Banjarmasin,Selasa (11/10), bahwa kalau dulu kepala sekolah itu adalah guru yang diberi tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah sedangkan Kemendikbud 17 tahun 2017 ini Kepala Sekolah itu guru yang diangkat menjadi kepala sekolah, karena guru yang diangkat menjadi kepala sekolah ada semacam penghargaan kepada kepala sekolah jabatan kepala sekolah tugas pokok dan beban kerja kepala sekolah itu meliputi tiga hal yang pertama melakukan sebagai manager, melakukan supervisi, interpreneur, kewirausahaan. Jadi tugas pokok dan tugas utamanya ini tiga sedangkan tugas mengajar itu bisa dilakukan bisa mengajar boleh, tidak mengajar pun boleh.

“Yang ketiga tidak ada lagi periodeisasi jabatan kepala sekolah,kalau dulu jabatan kepala sekolah empat tahun , kalau berprestasi bisa di perpanjang menjadi empat tahun lagi periode kedua kalau sudah dua periode itu bagaimanapun prestasinya sudah kembali kehabitatnya sebagai guru,” jelas Muryadi

Dikatakan Muryadi, kalau Kemendikbud 19 Tahun 2017 ini kepala sekolah itu tidak ada batasan selama dia bisa berprestasi menunjukkan kinerja yang baik dan tidak bermasalah catatannya sampai akhir masa jabatan sebagai kepala sekolah. Memang tugas kepala sekolah itu memang paling berat, kalau dulu itu seolah-olah tugas sampingan kepala sekolah itu, sehingga tugas pokok kita adalah sebagai guru, kepala sekolah sebagai tambahan.

“Sekarang ini kepala sekolah difokuskan untuk melakukan manajerial, melakukan supervisi dalam pengembangan kopetensi guru dan peningkatan mutu kelulusan kemudian interpreneur. Jadi akan fokus ketiga aspek itu diharapkan kepemimpinan kepala sekolah itu bisa melakukan langkah-langkah atau hal positif dalam rangka pengembangan sekolah tersebut,” katanya.

Muryadi mengatakan, apalagi di SMK N 3 Banjarmasin ini sepertinya membawahi beberapa kepala sekolah karena kepala jurusan-kepala jurusan seperti kepala sekolah. Siswa SMKN3 Banjarmasin berjumlah 1837 terdiri dari 8 jurusan, tiap-tiap jurusan masing-masing itu ada kepalanya. Kalau dilingkup sekolah-sekolah kecil seperti kepala sekolah diatas kepala sekolah. Sementara, ini tidak ada problem di SMKN3 Banjarmasin, dengan jurusan macam-macam tiap-tiap jurusan ada ketua jurusan atau kepala sekolah kecil karena koordinasi , komunikasi dan kolaborasi berjalan dengan baik sehingga tidak ada problem.

“Mengapa kita mengatakan kepala sekolah di SMK itu seperti kepala sekolah diatas kepala sekolah karena yang memberi akreditasi kan sendiri-sendiri, jurusan akutansi akreditasinya sendiri, kalau di SMK wajib 8 akreditasi,” ucapnya.

Ditambahkannya, dengan Kemendikbud 19 tahun 2017 in, diharapkan melihat kreatifitas dan inovasi kepala sekolah dalam memajukan sekolah akan lebih berkembang.dan sekolah-sekolah tambah maju tambah baik lagi dalam persiapan lulusan terbaik dan bisa masuk pasar kerja atau berwirausaha dimasa-masa akan datang.ida/inf

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan