Jika (Aku) Jadi Wali (Nya) Kota

Jika (Aku) Jadi Wali (Nya) Kota

Kepedulian dari Subhan Syarief terhadap ‘kotanya’ dituangkan dalam karya buku setebal 160 halaman. Layak menjadi referensi bagi pemangkukepentingan, setidaknya gagasan sederhana untuk menata Kota Banjarmasin memasuki abad ke enam.

Subhan Syarief mengulasnya secara detail sebanyak 19 topik,yakni
1. Jika (Aku) Jadi Wali(Nya) Kota
2. Pentingkah Banjarmasin Mencari Manajer Kota?
3. Banjarmasin , Untuk Siapa?
4. Harmonisasi Belied Menata Kota
5. Bisakah Kota Banjarmasin Menjadi Kota Kreatif?
6. MampukahMimpi Memproduktifkan Kota Terwujud?
7. Pentingkah Memformat Banjarmasin Menuju Kota Metropolitan?
8. Mencari Manajer Kota
9. Mengemas Hutan Kota (Konsepsi Ringkas Menata Kota Banjarmasin Menuju “Green City”)
10. Menggagas Sudimampir Unggul, Mengapa Tidak?
11. Memformat Kawasan Ujung Murung Agar Tidak Terlihat Murung.
12. Kawasan Pasar Harum Manis, Bisakah Kembali Manis?
13. Memformat Pasar Blauran Sebagai Kawasan Kota Pusaka
14. Bisakah Kota Banjarmasin Berkembang Menjadi Kota Pusaka?
15. Sungai A.Yani Riwayatmu Dulu
16. Kembalikan Sungaiku
17. Revitalisasi Ataukah Devitalisasi Sungai?
18. Menjadi ‘Walikota Sungai’, Mampukah?
19. Rumah Lanting, Kisahmu Kini

Infobanua.co.id akan menyajikan intisari pemikiran dari almuni S2 ITS Surabaya yang kini dipercaya mengemban amanah Ketua Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Kalsel.
Berikut salah satu buah pemikirannya yang di ulas dengan judul Jika (Aku) Jadi Wali (Nya) Kota

Dari tahun ke tahun, bila kita cermat dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan Kota Banjarmasin kemudian mengorelasikannya dengan kareteristik, Karakteristik,geografis, sosial budaya serta potensi khas yang dimiliki Kota Banjarmasin.

Lihat saja bagaimana produksi sampah yang setiap tahunnya semakin bertambah. Namun dari sisi penanganannya belum memiliki format atau metode yang tepat dan berkesinambunan. Belum lagi, ruwetnya kemacetan akibat melubernya pertambahann kendaraan di jalan yang kontradiktif dengan kondisi ruas jalan tersedia. Hal ini diperparah dengan pertambahan ruas jalan yang tertatih-tatih sehingga kemacetan pastilah akan selalu membayangi bahkan menghantui Kota Banjarmasin.

Memang setiap tahun, ketika Hari Jadi Kota Banjarmasin berbagai citra kesuksesan pemerintah kota telah dikemukakan oleh para penguasa kota. Hiruk-pikuk pencitaan akan suksesnya pembangunan yang digebrak para stakeholder dan pengambil kebijakan kota dengan didukung sorak-sorai dan teriakan tinggi melalui iklan media, kadang terasa amat sumbang. Pembangunan yang berbasis ‘project’ dengan berbagai ‘chasing’ seperti normalisasi ataupun penataan sungai, mengatasi kemacetan kota ataupun pembuatan saluran drainase untuk menanggulangi banjir dan hal lainnya yang senada terasa kontras. Bahkan dengan sedikit utak-utik pikir berdasar ilmu plus pengalaman kadang insting dan naluri penciuman ataupun pendengaran bisa merasakan bisik sesaat dan bau aroma busuk yang penuh tipu-tipu berlabel proyek-proyek yang pada dasarnya bila dicermati tidak banyak memberi manfaat bagi kota dan masyarakatnya.

Kadang bila dikaji lebih mendalam sering terjadi ujungnya adalah lebih ke arah kepentingan terselubung untuk menggelontorkan dana APBD ataupun dana rakyat lainnya agar bisa tesedot ke arah pembangunan yang bertahun jamak, terus- menerus dikerjakan dam tentunya juga menyedot dana besar . Yang penting adalah setingannya tidak berkesan mark-up ataupun korupsi tapi percayalah dibalik layar permainan tetaplah berjalan mulus.

Kesumpekan dan kekumuhan semakin terasa disaat jam sibuk dan padat pengunjung. Hal ini ditambah dengan lalu lalangnya kendaraan yang tidak tertata dengan baik. Parkirpun dipaksa ditempatkan di area badan jalan sehingga kemacetan kawasan menjadi santapan keseharian. Belum lagi kondisi trotoar atau jalur pedesterian bagi pejalan kaki di depa toko-toko yang semestinya sebagai area lalu lalangnya para pengunjung semakin tergerus oleh kios pedagang kaki lima (PKL). Dampaknya kenyamanan untuk menikmati etalase pajangan barang toko menjadi terganggu dan puncaknya belanja menjadi ruwet dan kacau.

Di Kota Banjarmasin dalam 20 tahun terakhir telah terjadi sedikitnya 5 kali pergantian pejabat kota (walikota), tetapi wajah dan tampilan Kota Banjarmasin masih saja sama.Tak ada perubahan yang terlalu signifikan. Bahkan yang dirasakan adalah sebaliknya, kenyamanan, keindahan, kehumanisan dan kekhasan kota telah semakin menjauh.

Salah satu jalan yang mesti dilakoni oleh Kota Banjarmasin yang kehilangan jati dirinya, pengembalian kejayaan pasar-pasar tradisional merupakan sebuah keharusan. Pasar-pasar dikota ini terutama pasar berskala besar seperti Pasar Lama, Pasar Sudimampir, Pasar Lima, Pasar Ujung Murung ataupun kawasan Pasar Niaga plus Pasar Blauran sepatutnya dilakukan optimalisasi dan revitalisasi. Kawasan yang dulunya menjadi kawasan unggulan Kota Banjarmasin dari segi sektor pembangkit ekonomi ini harus kembali diberdayakan.

Kelemahan utama dan mendasar masih dimiliki atai diterima adalah kondisi pasar-pasar di Kota Banjarmasin, terutama dalam manajemen pengelolaan pasar. Manajemen pengelolaan pasar masih konvensional dan tidak kreatif untuk memicu terangkatnya potensi yang dimiliki kawasan pasar. Potensi yang dimiliki dari kurun puluhan tahun sampai saat ini masih saja belum bisa diangkat kepermukaan.

Langkah strategis segera dilakukan terhadap kawasan bahari ini yang menyimpan banyak potensi untuk dipoles, diolah dan ditampilkan dengan sentuhan profesional yang mengabungkan antara khas kebahariannya dengan kebutuhan serta perkembangan prospek ke depan. Sebuah sentuhan modernitas berbasis keunikan lokal pelu dijadikan pegangan dalam menata kawasan tersebut. Keunggulan dan keunikan Pasar Sudimampir dan sekitarnya Pasar Lima, Ujung Murung, Harum Manis dan Pasar Niaga diolah secara komprehensip dan tidak bisa terbagi-bagi atau jalan sendiri-sendiri. Kawasan ini wajib dikemas dalam satu paket kegiatan penataan komprehensip, berkesinambungan dan berjangka panjang termasuk penataan infrastruktur hulu hilirnya.

Kondisi geografis Kota Banjarmasin yang dikelilingi, bahkan dibelah banyaknya sungai baik sungai besar maupun kecil tentu menjadi sebuah keunikan. Keunikan ini yang membuat kota ini mendapat julukan sebagai Kota Seribu Sungai.

Bila suasana kehidupan sungai yang unik tradisional ini bisa dimunculkan kepermukaan sebagai kekhasan Kota Banjarmasin, maka dipastikan ujungnya bisa memancing para wisatawan datang berkunjung . Kota inipun agar semakin dikenal seantero nusantara juga mancanegara sebagai kota berjati diri.

Keunggulan ini mesti disiapkan dan dimunculkan oleh Kota Banjarmasin untuk menjadi filosofis utama dalam mengembangkan kota kedepan. Bila cermat dan jeli melihat potensi sungai maka begitu banyak peluang yang bisa dikembangkan oleh Kota Banjarmasin sebagai bahan dagangan wisata yang bisa menambah pendapatan daerah.

Akan tetapi sampai saat ini potensi semacam ini belum bisa tergarap dengan baik. Sungai hanya diolah dan ditata lebih ke sektor fisiknya yang tentu saja menyerobot biaya besar. Padahal sektor pemberdayaan potensial non fisik sungai mutlak menjadi faktor utama yang perlu untuk ditimbulkan sebagai ruh dalam program penataan dan pengembangan kawasan sungai.

Seandainya sebuah masterplan penataan sungai bisa disiapkan secara terpadu dengan didasari oleh berbagai kajian, pengolahan potensi-potensi yang bisa dihasilkan maka arah penataan sungai pasti akan bisa lebih berkesinambungan dan dapat memberi manfaat dari berbagai segi. Biaya besar untuk melakukan penyiringan seperti saat ini dilakukan tidak akan menjadi sebuah langkah yang diutamakan. Mungkin kita akan dapatkan formulasi dari metode penyiringan yang lebih murah meriah dengan manfaat yang multi effect atau berdampak ganda bagi kepentingan sungai , kepentingan ekosistem lingkungan sungai plus tentu kepentingan masyarakat kota. Disamping itu tentu dana besar yang digunakan menyiring sungai dengan tiang pancang beton saat ini dilakukan bisa dialihkan untuk digunakan kepentingan lain, misalnya untuk menormalisasi plus mengoptimalkan fungsi sungai-sungai di Kota Banjarmasin. Atau bisa juga untuk digunakan membeli area-area resapan air untuk dijadikan embung ataupun situ yang digunakan sebagai rumah penampungan air.

Bila sungai-sungai kawasan bantarannya bisa terolah dengan bai, tergarap secara berkesinambungan dan terpadu aspek hulu hilirnya dan menghasilkan rona kawasan yang unik, eksotic plus kebahariannya bisa terjaga. Dipastikan akan menghasilkan devisa yang besar bagi Kota Banjarmasin Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan ini akan bisa memberikan nilai tambah bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tentu peningkatan bagi pendapatan warga kota akan semakin produktif, berdaya guna dan memiliki jati diri yang membanggakan bagi penduduk kota.

(BERSAMBUNG)

tentang penulis:

Ir H Subhan Syarief MT merupakan arsitek lulusan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Jawa Timur. Subhan Syarief menggagas berdirinya Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)Kalimantan Selatan Tahun 1998, pernah menjabat Sekretaris IAI Kalsel , Ketua II IAI Kalsel dan Ketua I IAI Kalsel.

Di Dunia kontruksi Subhan sempat menjadi Ketua bidang Profesi Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi Daerah (LPJKD) Kalsel, hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (inkindo) Kalsel, dan kini diberi amanah menjadi ketua Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Provinsi Kalsel periode 2014-2017.

rel/ida

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan