Biar Miskin dan Rentan Sakit-sakitan, Asal Bisa Merokok

0
65

Dita Sari tahu kalau rokok tak baik bagi kesehatan suaminya, tapi ia tak pernah melarang langsung sang suami untuk berhenti. Dia punya cara lain yang lebih asertif.

“Kan suamiku dulu kurus banget, jadi aku bilangin: coba kamu berisi dikit dong badannya,” ungkap Dita.

Anaknya yang balita juga sering mengulang-ulang sebuah iklan yang punya pesan: “Rokok murah, tapi obatnya yang mahal”.

Sang suami akhirnya berhenti merokok. Agar lebih semangat, uang belanja rokok setiap harinya ditabung. Suami Dita biasanya bisa menghabiskan sebungkus rokok per hari. Jadi, ia menabung Rp20 ribu sehari ke dalam celengan khusus di bekas akuarium. Namun, tak dinyana uang tabungan itu akhirnya mampu membeli sebuah motor baru dalam waktu relatif singkat 1,5 tahun.

Dita sempat membagikan kisah itu di media sosialnya, dan jadi viral. Orang-orang lantas ramai meminta tips agar bisa menabung konsisten seperti dirinya. Namun, tak banyak yang menyadari pesan penting lain yang terselip dalam kisah Dita: bahwa rupanya pengeluaran rokok bisa sangat besar bila dikumpulkan dalam waktu lama.

Besarnya angka pengeluaran rokok dibenarkan Kepala Unit Komunikasi dan Pengelolaan Pengetahuan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Ruddy Gobel. Uniknya, pengeluaran rokok itu malah lebih besar terjadi pada kelompok masyarakat miskin. “Harga rokok mungkin memang terjangkau, tapi dalam waktu lama, jumlahnya bisa jadi besar sekali,” ungkap Ruddy.

“Masalahnya, konsumsi rokok di masyarakat menengah ke atas, dengan asumsi mereka punya akses informasi dan pendidikan lebih baik justru menurun. Di kalangan orang kaya juga menurun, meskipun lebih kecil. Tapi di kalangan orang miskin angkanya naik lebih tinggi.”

Dari data yang diolah TNP2K, yang termasuk kalangan miskin jumlahnya 10,64 persen dari rakyat Indonesia atau sekitar 27 juta orang, ini belum termasuk yang hampir miskin. Jumlah perokok dari kalangan keluarga miskin, dalam enam – tujuh tahun terakhir meningkat dari 30 persen menjadi 43 persen. Padahal, ASEAN punya 10 persen perokok dunia, sebesar 52,2 persen adalah orang Indonesia.

Rokok bahkan jadi pengeluaran terbesar kedua di kelompok ini. Di daerah perkotaan, pengeluaran rokok mencapai 11,79 persen. Sementara di pedesaan, angkanya 11,53 persen. Pengeluaran itu bahkan 3,2 kali lebih besar untuk telur dan susu, 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk pendidikan, dan 13 kali besar dari pengeluaran rata-rata mereka untuk kesehatan. Dari catatan TNP2K, pengeluaran masyarakat miskin kota untuk pendidikan cuma 2,41 persen, sementara masyarakat miskin desa cuma 1,45 persen. Untuk kesehatan bahkan lebih kecil lagi, anya 0,9 persen oleh masyarakat kota dan 0,86 persen oleh masyarakat miskin.

Hal ini menunjukkan prioritas masyarakat tentang pengeluarannya. Rokok nyatanya lebih penting dikeluarkan ketimbang pendidikan dan kesehatan, bahkan telur, tahu, dan tempe yang merupakan sumber protein besar yang murah.

Tingginya perokok di kalangan masyarakat miskin dipengaruhi harga rokok di Indonesia yang terjangkau. Faktor lain adalah regulasi iklan rokok di Indonesia dinilai masih yang paling ramah se-ASEAN. Catatan Atlas, Indonesia bahkan satu-satunya negara ASEAN yang tidak melarang iklan rokok tayang di televisi. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) jadi salah satu lembaga yang paling vokal memprotes hal ini.

Hal ini yang membuat miris, menurut Profesor Hasbullah Thabrany, Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia.“(Orang) miskin yang royal. Miskin, tapi mau menyumbang untuk kelompok orang terkaya di Indonesia, beli rokok dia membuat orang terkaya makin kaya, dan dia sendiri makin miskin,” ungkap Thabrany.

Menurut laporan Oxfam bersama International NGO Forum on Indonesia Development (lNFlD), kesenjangan ekonomi di Indonesia memang tinggi. Harta 4 orang superkaya di Indonesia bahkan setara dengan 100 juta orang miskin.

“Orang kalau sudah nyandu susah keluar, kita sering dengar orang bilang mulut asem dan sebagainya sehingga beli rokok lagi, padahal kebutuhan lainnya juga besar. Dia susah merelakan rokoknya untuk beli telur, biaya pendidikan,” tambah Thabrany.

Selain orang miskin, terjangkaunya harga rokok dan kurangnya prioritas pada pendidikan, membuat Indonesia sebagai surga bagi prokok muda. Catatan TNP2K, estimasi perokok baru remaja sampai angka 16,5 juta pada 2013, sesuai data sensus terakhir. Sementara menurut catatan Atlas, lebih dari 30 persen anak Indonesia mulai merokok sebelum usia 10 tahun.

Jumlahnya kira-kira 20 juta anak. Angka ini terus naik tiap tahunnya. Data Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak menunjukkan selama tahun 2008 hingga 2012 jumlah perokok anak di bawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai 239.000 orang. Sedangkan jumlah perokok anak antara usia 10 hingga 14 tahun mencapai 1,2 juta orang.

Centre for Health Economics and Policy Studies (CHEPS) bahkan menyarankan pemerintah untuk menaikkan harga cukai tembakau, yang pasti akan membuat harga rokok meroket. Kebijakan itu setelah dihitung-hitung bisa menguntungkan negara juga para petani. Ketakutan pada inflasi, juga dijawab CHEPS tegas, bahwa inflasi rokok tidak akan berpengaruh sebesar inflasi kenaikan harga bahan bakan minyak (BBM).

Menurut data CHEPS, kenaikan harga rokok selama ini masih jauh di bawah kenaikan pendapatan rata-rata masyarakat: pada 2010, misalnya. Harga rokok cuma 10,7 persen pendapatan per kapita. Sementara pada 2015, harga rokok cuma 9,5 persen dari pendapatan per kapita.

Ketua CHEPS Budi Hidayata bahkan mengusulkan agar tarif cukai rokok naik 150-200 persen. berdasarkan kajian mereka, harga rokok yang naik sejak September 2013 justru berbanding terbalik dengan angka inflasi yang terus turun. Harga rokok per Januari 2017 sudah naik 8,4 persen karena ada kenaikan cukai, tapi inflasi justru hanya naik 3,6 persen.

Naiknya harga rokok dapat membuat orang miskin berpikir-pikir lagi untuk membeli, dan memprioritaskan pengeluarannya kepada hal lain. “Pengeluaran per kapita keluarga miskin di daerah perkotaan adalah sekitar Rp. 380.000. Pengeluaran terbesar adalah untuk beras sekitar 20 persen, sedangkan pengeluaran rumah tangga terbesar kedua yaitu sebesar 11,7 persen digunakan untuk rokok,” ungkap Ruddy.

Jeratan rokok pada kelompok miskin ini sudah semestinya jadi tanggungan pemerintah, agar yang miskin tak semakin miskin, dan yang superkaya tak peduli realitas.

rel/tim/tir-to

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here