Ampas Tahu Sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif

Ampas Tahu Sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif

Ada yang berbeda dari suara mesin sebuah motor jenis skuter matik (skutik) di ajang “Indonesia Science Expo 2017” yang digelar di Balai Kartini Expo, Jakarta, pekan lalu.

Tak seperti motor biasa yang mesinnya menderu, suara mesin motor ini terdengar lebih kalem walau gas dipuntir lebih dalam.

Selain suara yang lebih halus–mirip suara sepeda atau motor listrik–gas buang yang keluar dari knalpot pun tak berbau. Sepertinya tak mengandung karbon monoksida (CO), gas beracun yang biasanya dihasilkan mesin kendaraan.

Gas yang keluar dari knalpot motor tersebut juga terasa tidak sepanas gas buang dari motor lain. Padahal skutik yang digunakan adalah Honda Vario yang tampak sama seperti yang sering saya lihat.

“Ini bahan bakarnya hidrogen, makanya suaranya lebih halus,” kata Arifin Nur menjawab kebingungan Beritagar.id di gerai pamer Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung, Rabu (25/10).

Sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut, Arifin kemudian mematikan mesin motor dan saat ia membuka jok, barulah tampak hal yang membuat skutik itu berbeda.

Di bawah jok tetap ada bagasi kecil, namun tak terdapat tangki bensin. Tangki itu digantikan oleh dua buah tabung aluminium dengan posisi berdampingan. Di dekatnya ada pressure gauge (alat pengukur tekanan) dan panel yang berbentuk seperti keran.

“Tabung ini isinya gas hidrogen yang diperoleh dari ekstrak tahu,” jelasnya.

Bahwa tabung tersebut berisi hidrogen, saya sudah menduganya. Akan tetapi, bahwa hidrogennya berasal dari ekstrak tahu, cukup membuat saya kaget.

Arifin kemudian mengajak saya ke sebuah meja dengan deretan tabung reaksi yang hilirnya berupa bejana besar berisi air. Air yang ternyata ekstrak tahu itulah yang dikatakannya akan memicu uap biohidrogen untuk menjadi bahan bakar sepeda motor yang saat ini tengah dikembangkan LIPI.

“Biohidrogen muncul akibat reaksi kimia dari mikro alga yang hidup di ekstrak tahu tersebut,” Arifin menjelaskan. “…untuk mendapatkan uap, kami lakukan proses fotosintesis dengan memberinya sinar.”

Satu tabung yang ada di bagasi motor itu berkapasitas 45 gram hidrogen dan jumlah tersebut bisa didapat melalui proses selama tiga hari.

Dengan menggunakan dua tabung, berarti motor skutik tersebut berisi 90 gram uap biohidrogen. Masalahnya, bahan bakar sebanyak itu hanya bisa membawa motor sejauh maksimal 7 kilometer.

Efisiensi, menurut Arifin, adalah masalah besar yang masih mereka coba cari pemecahannya. Oleh karena itu, ia mengakui masih jauh langkah bagi penemuan ini untuk menjadi produk massal.
Arifin saat memeragakan performa motor berbahan bakar biohidrogen dari ampas tahu di depan pengunjung Indonesia Science Expo 2017.

Karena menurutnya bahan bakar yang efisien adalah bahan bakar yang prosesnya mudah, murah, serta memberikan nilai ekonomis.

“Sekarang memang masih terus intensif dilakukan pengembangan, terkait volume dan jarak tempuh motor. Karena akan menjadi sangat kurang efisien jika dua tabung ini hanya sanggup untuk jarak pendek. Akan sangat menyulitkan untuk dijadikan sebuah kendaraan komuter nantinya,” paparnya.

Dalam hal lainnya, hasil penelitian ini, menurut Arifin, amat menjanjikan.

Nilai emisi yang dihasilkan diklaim sangat rendah dengan nilai oktan 102, lebih tinggi dari Pertamax Turbo yang beroktan 98, bahkan Pertamax Racing yang beroktan 100.

BBM dengan oktan setinggi itu biasanya hanya digunakan oleh para pemilik kendaraan mewah karena harganya relatif mahal. Di Jakarta Pertamax Turbo dijual Rp9.350 per liter, sementara Pertamax Racing mencapai Rp42.000 per liter.

Arifin menyatakan belum menghitung berapa biaya produksi hidrogen dari ampas tahu tersebut, tetapi biaya konversi dari tangki bensin yang digunakan motor itu ke tabung biohidrogen membutuhkan uang sekitar Rp3 juta.

Dipilihnya motor berkapasitas mesin 110 cc sebagai bahan percobaan, menurut dia, karena kapasitas mesin itu tidak terlalu besar dan ideal untuk pengujian.

“Jika memakai motor dengan kapasitas mesin besar, tentunya volume bahan bakar–dalam tabung–yang harus dipersiapkan lebih besar. Selain itu motor matik menjadi pilihan karena motor ini banyak digunakan masyarakat,” jelasnya.

Peneliti LIPI Dwi Susilaningsih disebut Arifin sebagai inisiator dari proyek percobaan tersebut.

Walau masih dalam pengembangan untuk mencapai kesempurnaan, LIPI telah mendaftarkan paten penemuan tersebut ke Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

“Patennya (telah diajukan) sekitar pertengahan Oktober, atau dua minggu sebelum Expo,” pungkas Arifin.

Saat ini para produsen kendaraan sudah mulai bergerak untuk membangun produk yang tak lagi mengandalkan BBM demi lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Jadi, walau jalan menuju produksi massal masih panjang, temuan peneliti LIPI ini membuka alternatif baru menuju ke arah itu.

rel/yus/tirto

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan