S o s o k

S o s o k

Oleh : ARIF CAHYO KARTIKO

Dua puluh kursi berwarna coklat,dengan meja yang seolah saling menyambung membentuk huruf U, berdiri diatas karpet berwarna merah dengan corak hitam bermotif menyerupai bunga-bunga ,membuat tatanan ruangan nampak begitu mewah.

Dibeberapa bagian dinding dipajang beberapa kertas kecil warna-warni,dengan berbagai macam tulisan yang akan menyentuh hati setiap orang yang akan membacanya.

Ya,itulah tulisan yang kami buat kemarin,tulisan yang dapat merubah hidup kami,tulisan yang dapat membuat api semangat dalam diri kami menyala dengan dahsyat,tulisan yang membuat kami yakin bahwa kami bisa menjadi seorang penulis besar.

Bukk’’ tiba-tiba sesuatu terbungkus plastik jatuh dihadapanku.’’Besok kalian akan terjun langsung kelapangan untuk melakukan wawancara’’teriak seorang perempuan cantik yang dari tadi berdiri dibelakangku. Ya.. dia adalah kak Nisa,Toyyibatunnisa nama lengkapnya.Dia adalah salah satu panitia dalam acara ini.

Disinilah aku sekarang ,aku terpilih dari sekian banyak santri untuk mengikuti sebuah acara workshop dan pelatihan untuk santri yang bertemakan’’Islam dan Tradisi Damai ‘’Bertempat dihotel NASA Banjarmasin selama lima hari empat malam.

Ini adalah hari kedua aku dan teman –teman berada dihotel,dan bagi sebagian kami ini adalah pertama kalinya kami menginjakkan kaki dihotel.Hal ini membuat kami merasa canggung dengan lingkungan yang ada disini.

Bahkan,tak jarang diantara kami melakukan hal-hal yang aneh yang akan menjadi perhatian bagi pengguna hotel lainnya. Hal itu disebabkan karena tingkah laku kami yang cenderung terlihat kampungan.

’’ Besok jam 07.30 semua harus sudah siap,dan tolong bajunya yang tadi dibagi dipakai ‘’. Ia kak’jawab sebagian dari kami,dan sebagian lagi hanya menganggukkan kepala tanda faham apa yang dimaksud.

Instruksi dari kak Nisa menjadi penutup pertemuan kami hari ini,selanjutnya kami dipersilahkan kembali kekamar masing-masing untuk beristirahat.

Santri Adalah Kuntji 1 itulah kalimat yang tertulis dibelangkang baju yang kami dapat tadi malam.Entah mengapa tulisan itu begitu mudah terpatri dalam jiwaku,mengobarkan semangat dalam jiwa,menimbulkan keyakinan kami pasti bisa.

Kami adalah dua puluh peserta yang berasal dari sepuluh pondok pesantren di Kalimantan Selatan dikumpulkan dalam satu wadah,disatukan dalam tali ikatan yang aku namakan ikatan jiwa santri.

Sentuhan lembut dan kehangatan ‘’sang surya’’ menyambut keluarnya kami dari hotel.Hari ini kami aka pergi berjalan menuju ‘’SIRING’’ salah satu destinasi yang ada dikota seribu sungai Banjarmasin.

Suasana jalanan pada akhir pekan memang sangat padat dengan banyaknya para pejalan kaki.Keadaan ini membuatku merasakan suatu kebebasan yang padahal aku tidak pernah terkekang dengan apapun.Berfoto dengan pak polisi,selfie bersama,bernyanyi dijalan dan berbagai macam hal lain yang kami lakukan dijalan membuat hatiku menjadi senang.

‘’Semua berbaris!!! Perintah kak Nisa kepada kami.Kemudian kak Nisa menjelaskan apa saja yang harus kami lakukan disini.Kami berpencar mencari narasumber yang akan diwawancarai masing-masing barjalan dengan teman satu pondok untuk melakukan wawancara.

Bang Dian ! kita kearah mana?’’ bang Dian,atau lengkapnya Ardian itulah nama yang diberikan orangtuaku padaku.’’ Dia adalah teman satu pondokku juga teman satu kelas.

Tak lama berjalan aku melihat sepeda hijau dipinggir jalan yang dibelakangnya penuh denga balon,disampingnya seorang pria bermata sayu dengan pakaian kumal duduk sendirian.

‘’Assalamualaikum,’’ kami menyapanya,Waalaikumsalam’’ jawab beliau dengan senyum ramah kepada kami.’’balonnya pak dua’’kataku kepada sang penjual balon,lalu kami mulai memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangan kami kepada beliau.

Beliau dengan senang hati untuk menerima maksud kami,dan kami pun sangat antusias ingin mendengarkan tentang beliau.Kami yakin dari sosoknya ada banyak cerita kehidupan yang bisa kami ambil manfaatnya.

Pak Diman adalah nama beliau,usianya 47 tahun,beliau bukanlah asli orang Kalimantan.Pak Diman berasal dari Jawa Timur yang berhijrah ketanah Kalimantan,dikarenakan keadaan ekonomi yang dianggap sulit.Maka ditahun 1981 pada saat usia 8 tahun pak Diman dan keluarganya pergi ke Kalimantan dengan harapan agar ekonomi keluarga dapat membaik.

Pak Diman mempunyai istri yang bernama Sunira yang usianya 35 tahun.Ibu Sunira bekerja sebagai seorang pembantu disalah satu rumah tetangganya.Pasangan ini mempunyai satu anak perempuan dan satu anak laki –laki.

Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun di Kalimantan ,pak Diman belumlah mampu untuk membangun tempat tinggalnya sendiri,beliau mengontrak sebuah rumah kecil di kompleks Kampung Melayu, tidak jauh dari beliau berjualan.

Ternyata menjual balon bukan satu-satunya pekerjaan yang beliau pernah lakukan .Pak Diman pernah bekerja sebagai kuli bangunan,tukang parkir,penjual minyak,bahkan tukang sampah dan yang terakhir penjual balon.

Pendapatan pak Diman cendrung kurang dalam sehari,hal ini dikarenakan banyaknya keperluan rumah tangga yang mendesak. Akan tetapi pak Diman terus bersabar dan berusaha semampunya untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga.

Beliau sangat berkeinginan suatu saat nanti dapat mempunyai tempat tinggal sendiri, serta dapat membahagiakan keluarga kecilnya. Aku dan Cahyo mendengarkan cerita pak Diman dengan antusias,sesekali kami merespon dengan sebuah pertanyaan atau hanya sekedar tanggapan.

Kami sempat berdo’a bersama agar pak Diman dan keluarganya diberikan keberkahan oleh Allah.SWT.
Melihat keadaan pak Diman aku jadi teringat orang tuaku yang berjuang keras dalam mencari nafkah.Ayahku sudah tua,beliau sudah tidak mampu lagi untuk bekerja disawah.Bundalah yang jadi tulang punggung keluarga,bunda punya warung kecil di Sekolah dasar dekat dengan rumah kami,setiap hari barang dagangannya diangkat dari rumah kewarung yang jaraknya kurang lebih dua puluh meter.

Bagiku bunda adalah sosok yang luar biasa,sosok yang kuat,penyabar dan penuh dengan kasih sayang.Bunda rela kerja keras asalkan anak –anaknya sama dengan anak-anak orang yang keadaan ekonominya jauh diatas kami,dalam hal berpakaian fasilitas serta apapun itu.

Bunda tidak ingin aku diluar sana dalam keadaan terasingkan,dan bunda akan berusaha membuat orang yang melihatku mengganggap keadaan keluarga kami adalah orang yang sama dengan mereka.

‘’Bang,waktu kita sudah mau habis!!!’’ bisik Cahyo sambil menarik pelan lengan baju bagian kiriku.Aku mengangguk pelan pertanda faham bahwa kami harus segera kembali.’’Pak harga balonnya berapa?’’ ujarku,sambil memasukkan tangan kedalam tas ‘’dua puluh ribu.’’

Ini adalah balon pertama yang terjual hari ini’’ jawab pak Diman sambil tersenyum bahagia.’’ Ini pak uangnya’’ kembaliannya biar buat bapak aja’’ ‘’ terima kasih buat pengalamannya.Kamipun bergegas pulang untuk beristirahat dikamar. Hari ini aku baru sadar bahwa kita semua punya pahlawan dan contoh yang harus ditiru,bagaimana kasih sayang orang tua pada anak,bagaimana sebuah usaha yang dilakukan sungguh-sungguh akan berbuah manis pada saatnya.

Semua itu ada pada diri orang tua kita masing-masing, maka hargai mereka,muliakan serta ingat lah selalu sebab tanpa orang tua kita bukanlah apa-apa.

*) penulis meraih kategori terbaik kelompok santri berbakat se Kalsel dibidang pengembangan bakat karya tulis dan Olimpiade Sains Nasional SMA 2017 Kalsel.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan