Bank Indonesia Genjot Pengembangan UMKM

0
57 views

Seiring terus membaiknya perekonomian Indonesia saat ini, Bank Indonesia juga mengimbangi dengan terus menggenjot pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui program klaster sesuai dengan potensi daerah. Program ini akan mampu  membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat, dalam upaya mengendalikan inflasi.

“Kami ingin meningkatkan produktivitas dengan fokus pada komoditas penyumbang inflasi. Hal ini terkait dengan sasaran pencapaian inflasi, salah satu strategi kebijakan yang dilakukan oleh BI adalah mengembangkan UMKM,” kata Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Yoga Affandi ketika memberikan pemaparan pada Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia, di Grand Sahid Hotel Jakarta, Senin (20/11).

Yoga mengungkapkan, sejak 2014 pengembangan program pengendalian inflasi melalui klaster itu difokuskan kepada komoditas ketahanan pangan dan komoditas yang menjadi sumber tekanan inflasi di antaranya seperti beras, cabai, bawang merah dan bawang putih, komoditas yang berorientasi ekspor.

“Hingga kuartal pertama 2017 total sebanyak 173 klaster binaan di seluruh Indonesia dengan memanfaatkan lahan seluas 7.534 hektare dan melibatkan sekitar 13.700 petani dan peterak. Tidak hanya itu melalui program klaster tersebut, lebih dari 27.500 tenaga kerja telah terserap dunia usaha mikro, kecil dan menengah.” paparnya.

Sementara itu pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Lana Soelistyoningsih dalam kesempatan yang sama mengatakan inflasi menjadi kunci kesejahteraan masyarakat karena mempengaruhi daya beli. Semakin tinggi inflasi maka daya beli masyarakat dapat menurun sedangkan jika inflasi menurun maka daya beli masyarakat dapat bertumbuh.

Mengutip data BPS, ia menyebutkan bahwa tingkat inflasi per Oktober 2017 mencapai 0,01 persen, tercatat dibawah rata-rata bulan Oktober sejak tahun 2009 yang mencapai 0,16 persen. Meski tren inflasi menurun, dosen di Fakultas Ekonomi UI itu mengatakan tingkat daya beli di antaranya untuk sektor ritel mengalami perlambatan salah satunya diprediksi karena kelas menengah menunda pembelian namun lebih banyak menabung. Perubahan cara bertransaksi masyarakat dari konvensional ke “e-commerce” atau transaksi dalam jaringan juga diprediksi berkontribusi meski belum ada data pasti yang menunjukkan peningkatan transaksi online.

Ekonom dari PT Samuel Aset Manajemen itu menambahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah memiliki kebijakan untuk menstabilkan harga melalui peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan menentukan harga eceran tertinggi (HET). Selain itu, upaya meningkatkan pendapatan masyarakat dapat distimulasi di antaranya melalui pencairan bantuan sosial yang bersifat sementara dan penggunaan dana desa yang diprioritaskan untuk proyek padat karya agar menciptakan lapangan pekerjaan.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.