Jaringan Kas Titipan Bank Indonesia Tersebar di Semua Wilayah Terpencil

0
163 views

Jakarta – Guna memenuhi kebutuhan uang tunai terutama di daerah terpencil, langkah strategis sudah dilakukan Bank Indonesia yang bekerjasama dengan bank umum di beberapa Provinsi di Indonesia untuk melakukan kegiatan kas titipan. Sampai dengan bulan Nopemer 2017, terdapat 102 lokasi layanan kas titipan yang diselenggarakan oleh BI bekerjasama dengan beberapa bank umum.

“Bank Indonesia (BI) menargetkan memperluas jaringan kas titipan di seluruh Indonesia sehingga mampu mendistribusikan rupiah sampai pelosok desa. Saat ini sudah ada 102 kas titipan di Indonesia. Sampai akhir tahun 2017, BI menargetkan hingga 107 kas titipan di seluruh Indonesia,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Suhaedi dalam Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia 2017 di Grand Sahid Jakarta, Senin (20/11/2017).

Bank Indonesia juga sudah menyempurnakan mekanisme dan operasional Layanan Kas Titipan tersebut, Bank Indonesia telah menerbitkan Surat Edaran Bank Indonesia No.18/78/INTERN tentang Kas Titipan Bank Indonesia pada tanggal 28 September 2016.

Beberapa hal yang disempurnakan dalam ketentuan tersebut, yakni jangka waktu perjanjian Kas Titipan diperpanjang, dari semula satu tahun menjadi dua tahun. Penyelesaian transaksi penyetoran uang dan penarikan uang dilakukan dengan cara pemindahbukuan menggunakan sistem BI-RTGS. Penguatan aspek legal standing antara Bank Pengelola dan Bank Peserta melalui Perjanjian Kepesertaan (dimana semula menggunakan Gentlement Agreement).

“Disini adanya kewajiban bank pengelola dan bank peserta untuk memberikan layanan penukaran uang bagi masyarakat, yang meliputi penukaran uang rusak, uang cacat, dan atau uang yang dicabut dan ditarik dari peredaran,” ujarnya.

Suheadi mengungkapkan, bank pengelola dan seluruh bank peserta kas titipan wajib menandatangani perjanjian kepesertaan dengan mengacu pada PKS Kas Titipan. Menaati prinsip dan mekanisme ketentuan penyetoran dan penarikan uang oleh Bank Umum di Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam PKS Kas Titipan dan perjanjian kepersertaan kas titipan.

“Bank pengelola wajib memastikan seluruh uang kas titipan dijamin oleh pihak asuransi dengan jenis asuransi cash in safe dan cash in cashier box dengan melakukan perpanjangan polis asuransi sesuai dengan jangka waktu PKS kas titipan. Bank pengelola wajib menatausahakan, mencatat saldo uang kas titipan dalam suatu rekening administratif khusus, yang pencatatannya dilakukan secara off balance sheet,” katanya.

Seperti diketahui Bank Indonesia sebelumnya sudah meluncurkan pilot project “BI Jangkau”, yang bertujuan meningkatkan perluasan jangkauan distribusi uang dan layanan kas BI hingga mencapai area desa yang selama ini sulit mendapatkan uang dengan kualitas yang baik. Peresmian pilot project sudah dilakukan di salah satu daerah terluar Indonesia, yaitu Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota’ain, Atambua, Provinsi NTT.Program BI Jangkau dilakukan bersinergi dengan lembaga lain, dengan mengoptimalkan jaringan yang sudah dimiliki di berbagai daerah di Indonesia. Dimana program ini akan memperlancar peredaran uang dari dua sisi, melalui percepatan distribusi uang layak edar dan memudahkan penyerapan uang tidak layak edar di masyarakat.

Pilot project BI Jangkau akan dilakukan di 8 (delapan) provinsi yang memiliki daerah 3T (terpencil, terdepan, dan terluar), yaitu Kepulauan Riau, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Papua. Kerja sama dalam pilot project BI Jangkau dilakukan dengan perbankan, khususnya Himbara, serta Pegadaian, mengingat luasnya jaringan kedua lembaga tersebut yang menjangkau kabupaten-kabupaten di Indonesia. Dalam hal ini, kerja sama dilakukan dalam bentuk kas titipan, yaitu titik distribusi uang yang dilaksanakan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Bank Indonesia, sehingga merupakan kepanjangan tangan dari Bank Indonesia dalam melakukan peredaran uang.

Program BI jangkau merupakan penguatan dari program layanan kas yang telah dilakukan sebelumnya, antara lain dengan menambah jumlah kerja sama kas titipan dari yang dilakukan selama ini. Selain itu, Bank Indonesia juga akan tetap melaksanakan dan memperkuat kerja sama distribusi uang dengan lembaga lainnya, antara lain kerja sama dengan TNI AL untuk menjangkau pulau-pulau terluar Indonesia.

Melalui program BI Jangkau, masyarakat di daerah terpencil, terdepan dan terluar pun akan lebih mudah mendapatkan uang layak edar, serta menukarkan uang mereka yang sudah tidak layak edar. Dalam peresmian pilot project di Atambua, dipastikan pula tersedianya mesin anjungan tunai mandiri (automated teller machine – ATM) dan layanan penukaran valuta asing (money changer). Dengan demikian, penduduk maupun pendatang di wilayah NKRI akan lebih mudah mendapatkan uang Rupiah. Hal ini mendukung kebijakan Bank Indonesia untuk menjaga tersedianya uang bersih (clean money policy) serta kewajiban penggunaan Rupiah di wilayah NKRI.

ida yusnita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here