Sehatkan Tanaman Dengan PGPR Akar Bambu

0
1.599 views

Sejalan dengan program pengendalian organisme pengganggu tanaman dengan bahan ramah lingkungan didasari oleh kesadaran masyarakat akan dampak buruk terhadap produk-produk pangan yang mengandung residu pestisida, maka harus ada solusi yang tepat dalam mengatasi permasalahan ketergantungan petani terhadap pestisida kimia sintetis.

Pada dasarnya dilingkungan agroekosistem secara alami telah tercipta keseimbangan antara berbagai mikroorganisme yang berfungsi sebagai patogen dan yang berfungsi sebagai antagonisnya. Titik persoalannya adalah penyebaran dari mikroorganisme tersebut tidak merata dimana apabila banyak mikroorganisme jenis patogen sedangkan antagonismenya kurang maka timbulah serangan penyakit, sebaliknya apabila lebih banyak mikroorganisme antagonism maka pertanaman aman.

Infeksi oleh patogen penyebab penyakit tanaman khususnya tular tanah (soil born disease) dapat terjadi melalui akar dan jaringan pangkal batang. Untuk mencegah masuknya patogen baik jenis bakteri atau jamur diperlukan peran mikroorganisme antagonis. PGPR adalah koloni jenis mikroorganisme rhizosfer yang dapat dieksplorasi dari perakaran bambu diketahui lebih banyak ditemukan bakteri Bacillus sp, Pseudomonas fluorescens dan juga jamur Trichodema sp.

Mikroorganisme ini hidup bersimbiose dengan tanaman bambu dimana eksudat dari akar bambu dimanfaatkan oleh mikroorganisme tersebut sebagai energinya untuk tumbuh dan berkembang, menyelimuti akar menjadi penghalang terhadap patogen untuk menginfeksi akar, sementara keuntungan bagi bambu adalah tersedianya unsur hara phosfat hasil kerja Bacillus sp yang dapat mendegradasi dari phosfat yang dalam keadaan terikat sehingga terurai dan dapat diserap akar tanaman.

Mikroorganisme rhizosfer ini juga berperan menginduksi ketahanan tanaman secara sistemik. Dengan memahami fungsi dari bakteri yang terkandung dalam PGPR tersebut maka dapat digunakan sebagai perlakuan benih (seed treatment), aplikasi pada lahan pada saat pra tanam atau aplikasi susulan dengan cara kocor.

PGPR ini dapat diperbanyak dengan bahan – bahan sebagai berikut : 1 galon air steril, ¼ kg akar bambu atau lebih, 400 gr terasi, 800 gr gula pasir dan ¼ kg dedak halus. Peralatan yang diperlukan yaitu : kompor, panci, timbangan, alat fermentor (aerator,slang plastik, botol plastik, kapas saring dan PK Kristal).

Proses pembuatan adalah sebagai berikut : ambil akar bambu beserta sebagian tanahnya tidak perlu dibersihkan sebanyak ¼ kg atau lebih kemudian direndam dengan air steril secukupnya dalam wadah tertutup selam 3 – 4 hari. Bahan lain yaitu terasi, gula pasir dan dedak halus direbus dengan sebagian air galon selama 20 menit dihitung dari mendidih, kemudian dimasukkan dalam jerigen tambahkan sisa air galon.

Setelah suhunya dingin masukkan air rendaman akar bambu dan lakukan fermentasi dengan udara steril selama 5-6 hari. Ciri dari PGPR yang sudah jadi yaitu dapat dilihat dari warna media akan berwarna keputihan yang merupakan massa bakteri dan baunya sedikit asam. Biakan bakteri PGPR ini dapat disimpan dalam waktu 3-4 bulan.

Cara aplikasi untuk penyemprotan lahan pratanam adalah larutkan 1 (satu) liter PGPR kedalam satu tangki semprot lalu disemprotkan pada lahan secara merata. Untuk perlakuan kocor, larutkan 1 (satu) liter PGPR dengan 20 liter air kemudian diaduk merata, lakukan pengocoran pada pangkal batang tanaman sayuran seperti tomat, terong, cabai, dll sebanyak segelas air mineral perbatang. Pengocoran ini dapat diulang setiap 2 – 3 minggu sekali.

Untuk perlakuan benih (seed treatment) larutkan PGPR dengan air konsentrasi 5 % kemudian rendam benih/biji dengan lama perendaman tergantung dari jenis tanaman. Untuk biji berkulit tipis perendaman selama 15 menit dan untuk biji berkulit tebal seperti padi direndam selama 8 jam kemudian disemai. Kunci keberhasilah teknologi pengendalian OPT dengan PGPR ini tentunya adalah kualitas dari PGPR itu sendiri sehingga diperlukan keterampilan petani untuk perbanyakan PGPR dengan baik. Selamat mencoba.

Bahan Oleh : Kasidal, SP. POPT LPHP Banjar, Kalimantan Selatan
Penulis/Publish : Ayi Kuswana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.