Awas! Bom Waktu, Aneurisma Aorta

0
61 views

Bondan Winarno, seorang jurnalis senior yang kemudian tenar sebagai presenter acara kuliner di televisi dengan jargon “Maknyus”-nya, meninggal dunia pada Rabu (29/11/2017) dalam usia 67 tahun.

Mantan pemimpin redaksi harian sore Suara Pembaruan tersebut wafat akibat aneurisma aorta yang baru diketahui diidapnya saat melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan di sebuah rumah sakit di Malaysia pada 2015.

Aneurisma aorta, menurut situs Alodokter.com adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya benjolan pada dinding aorta atau melemahnya dinding aorta. Aorta merupakan pembuluh darah utama dan terbesar pada tubuh manusia yang berfungsi untuk mengalirkan darah dengan kandungan oksigen tinggi dari jantung ke seluruh tubuh.

Kondisi ini sulit dideteksi karena seringkali berkembang secara lambat dan tanpa gejala. Hal itu pula yang terjadi pada Bondan Winarno.

Dilansir Kompas.com, Bondan sempat menjelaskan bahwa pada tahun 2005 dokter mendiagnosis telah terjadi penyumbatan pada arteri jantungnya dan harus segera dikateterisasi.

Namun saat mencari second opinion dengan memeriksakan diri pada dokter lain, jantungnya dinyatakan sama sekali tidak bermasalah. Analisis dokter kedua itu kemudian diperkuat setelah pemeriksaan di Kuala Lumpur, Malaysia, yang menggunakan MSCT (Multi Slice CT Scan)–CT Scan generasi baru yang dapat memberikan informasi dan gambaran diagnostik yang lebih baik.

Baru kemudian, seperti telah disebutkan di atas, aneurisma aorta itu diketahui saat ia melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan di HSC Medical Center, Kuala Lumpur. Saat itu dokter sudah memperingatkan agar pengawasan selalu dilakukan untuk mengetahui adanya pembengkakan atau tidak, untuk berjaga-jaga jika perlu dilakukan operasi.

Pada bulan Juli 2017, almarhum memeriksakan diri pada dokter Iwan Dakota, seorang ahli pembuluh darah. Dan mendapati masalah lain. Katup aortanya, yang berfungsi memberikan oksigen pada darah untuk disalurkan ke seluruh tubuh, bocor.

Bondan menyebutkan dalam tulisannya di milis Jalansutra (6/10) bahwa dirinya menjalani dua operasi sekaligus pada 27 September, yaitu penggantian katup aorta dan penggantian aorta yang mengalami penggelembungan.

Namun kemudian kondisi tubuhnya memburuk dan Bondan Winarno akhirnya meninggal dunia.
Tiga jenis aneurisma aorta

Sebenarnya apa gejala dan penyebab aneurisma aorta yang diderita Bondan Winarno?

Situs National Geographic Indonesia menyebutkan bahwa aneurisma aorta merupakan bom waktu yang setiap saat bisa pecah dan mematikan, karena penggelembungan atau aneurisme bisa pecah dan menyebabkan perdarahan, bahkan kematian.

Sebagian besar aneurisma terjadi di aorta, arteri utama yang jalurnya dari jantung hingga ke dada dan perut.

Oleh karena itu terdapat tiga jenis aneurisma aorta; aneurisma aorta torakalis yang terjadi di bagian aorta yang berada di dada, aneurisma aorta abdominalis yang terjadi di bagian aorta yang berada di perut, dan aneurisma aorta torako-abdominal, yang terjadi di antara bagian atas dan bawah aorta.

Aneurisma torakalis dibagi menjadi dua, tergantung pada letak pembengkakannya, yaitu menaik dan menurun.

Aneurisma jenis ini biasanya diderita oleh orang yang lahir dengan katup aorta yang abnormal atau orang dengan kondisi tubuh yang memengaruhi tisu dan pembuluh darah, seperti Sindrom Marfan atau Sindrom Ehlers-Danlos.

Luka pada aorta akibat kecelakaan saat berolahraga atau berkendara juga bisa melemahkan aorta torakalis.
Ilustrasi Aneurisma aorta perut.
Ilustrasi Aneurisma aorta perut.
© Alila Medical Media /Shutterstock

Sementara, aneurisme aorta perut, seperti namanya, mendera aorta pada bagian perut. Jenis yang satu ini lebih umum diderita orang daripada aorta torakalis.

Aneurisma Aorta, menukil Healthline.com dan Alodokter.com, biasa diderita oleh orang yang punya sejarah merokok, arterosklerosis (pengerasan arteri), tekanan darah tinggi, keturunan (genetik), dan infeksi pada aorta atau bagian tubuh lain yang tidak terobati.

Sementara National Geographic Indonesia menambahkan diabetes, plak atau lapisan pada pembuluh darah, serta tekanan darah tinggi juga dapat menjadi pemicunya.

Gejalanya meliputi rasa nyeri dan denyutan di perut, seperti rasa seperti menusuk sampai punggung dan bersifat menetap.

Ketika aneurisme semakin besar, maka akan semakin terasa beberapa gejala seperti nyeri dada, nyeri punggung, rasa tidak nyaman pada dada bagian atas, lemas, pusing, napas pendek, mati rasa atau kesemutan, denyut jantung cepat, sensasi dingin pada tangan atau kaki, hingga pingsan.

Jika pembuluh darah pecah maka darah akan mengalir ke bagian tubuh lain dan bisa menghalangi aliran darah ke organ-organ penting seperti paru-paru, hati, ginjal, yang kemudian membuat organ-organ tersebut berhenti berfungsi.

Dokter BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJP (K), FIHA, yang juga Wakil Sekjen Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler, pada detik.com mengatakan bahwa gejala aneurisma berbeda-beda, tergantung letak terjadinya.

“Aneurisma aorta biasanya tidak menimbulkan gejala di awal,” ungkapnya. “Gejala baru muncul saat aneurisma semakin besar.”

Hal inilah yang menyebabkan kondisi penderita menjadi fatal, karena mereka baru menyadari adanya masalah setelah penggelembungan sudah sangat besar atau telanjur pecah, yang biasanya sudah terlambat untuk diselamatkan.

Biasanya, tulis National Geographic Indonesia, aneurisma baru ditemukan jika seseorang sengaja memeriksakan kesehatan dirinya.
Dapatkah kita mencegah aneurisma aorta?

Menukil Healthline.com, kendati tidak ada ukuran tertentu untuk mencegah penyakit ini, akan tetapi gaya hidup seseorang dapat menentukan kesehatan jantung.

Sehingga untuk memperkecil risiko terkena aneurisma aorta ini, seseorang sebaiknya mulai untuk menurunkan tekanan darah hingga ke batas yang sehat dan menormalkan tingkat kolesterol.

Selain itu juga sangat dianjurkan untuk berolahraga secara teratur, mempertahankan berat badan sesuai dengan indeks massa tubuh, berhenti merokok atau menggunakan tembakau dalam bentuk apapun, serta mengurangi makanan berlemak, gula, dan garam dalam konsumsi sehari-hari.
Bagaimana cara perawatannya?

Pada tahap awal, aneurisma mungkin tak membutuhkan perawatan. Biasanya dokter akan meminta penderita untuk memonitor secara berkala. Demikian dipaparkan Healthline.com.

Baru setelah tampak berisiko, dokter akan menyarankan untuk melakukan operasi sebelum aorta itu pecah.

Ada dua jenis operasi yang bisa dilakukan untuk penderita aneurisma, yaitu operasi terbuka dan endovascular.

Dokter juga mungkin akan meresepkan obat untuk mengontrol tekanan darah tinggi dan kondisi lain yang bisa memperparah aneurisma.

rel/world health journal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here