Mengasuh Anak Ala Milenial

0
68

Di era serba digital, gawai seperti smartphone makin dekat dengan kehidupan anak-anak. Bagaimana seharusnya menyikapinya?

Anak tak sendiri, fenomena semacam ini terjadi tak hanya di Indonesia. Di era digital dengan kemajuan teknologi seolah menggantikan peran orang tua dalam mengasuh buah hatinya. Anak-anak jadi jamak memainkan ponsel pintar atau tablet di rumah, pinggir jalan, atau di transportasi umum secara berlebihan. Sementara orang tua mereka juga sibuk melakukan pekerjaan lain yang dianggap tak kalah penting dari anaknya.

Survei yang dilakukan oleh babies.co.uk sebuah situs seputar bayi yang berbasis di Birmingham, Inggris pada 2013 yang berjudul “Babies Using Smartphones?” mendapati sebanyak 55 persen orang tua membiarkan anaknya menggunakan smartphone atau tablet.

Dari jumlah tersebut, sebesar 30 persen membolehkan perangkat digunakan hanya di bawah 1 jam per hari. Namun, ada 14 persen orang tua memberi kelonggaran pada anaknya untuk memainkan smartphone atau tablet selama empat jam atau lebih dalam sehari.

Lamanya bermain dengan layar smartphone yang dilakukan anak-anak tentu punya konsekuensi. Kecenderungan anak-anak generasi z memiliki “screen time” lebih lama ketimbang generasi sebelumnya. Selain berdampak pada tumbuh kembang, juga menyangkut kesehatan pancaindera.

Seharusnya, orang tua mendorong banyak aktivitas fisik saat anak berada di masa balita. Setidaknya balita harus berkegiatan aktif selama tiga jam untuk menjaga pertumbuhan sehat. Bahkan, American Academy of Pediatrics (AAP) melarang anak di bawah usia 2 tahun memiliki “screen time”.

Alasannya sederhana, waktu yang seharusnya dipakai untuk belajar merangkak, berdiri, berjalan, dan berbicara jadi teralihkan karena gadget. Anak-anak juga rentan terkena obesitas, sulit tidur, imajinasi tumpul, nilai akademis rendah, dan ragam masalah kesehatan penglihatan.

dr Johan A. Hutauruk, SpM (K), spesialis mata mengungkapkan, meski karena kemajuan teknologi, radiasi gadget jadi tidak terlalu besar. Namun. paparan terus menerus tetap membikin mata mengalami rabun dekat. Kondisi ini terjadi karena mata dipaksa terus-terusan bekerja tanpa istirahat dan nutrisi cukup.

“Anak sekarang lebih banyak minus karena paparan itu, ditambah lebih jarang konsumsi sayur dan buah,” kata Johan kepada Tirto.

Ia juga menyampaikan aktivitas di luar lebih memberikan dampak positif bagi kesehatan mata. Idealnya, “screen time” pada anak hanya dilakukan maksimal 1-2 jam dalam sehari. Dalam periode tersebut juga diperlukan waktu jeda selama lima menit setiap setengah jam.

“Karena semakin melihat dekat, semakin mata muda lelah, semakin besar peluang mengalami mata minus.”
Bijak Mengenalkan Gawai
Dr Richard Graham dari Nightingale Mental Health Hospital London, seperti ditulis dalam laporan The Telegraph yang berjudul “Toddlers becoming so addicted to iPads they require therapy” berpendapat bahwa kecanduan anak terhadap gawai saat ini telah mampu disetarakan dengan kecanduan alkohol atau heroin saat perangkat tersebut disita oleh orang lain.

Ada orang-orang tua yang rela merogoh kocek cukup dalam hingga 16.000 poundsterling untuk memasukkan anaknya dalam program “detoks digital” selama 28 hari di Nightingale Mental Health Hospital London.
Sebelum sampai pada tahap yang negatif, sebaiknya orang tua mulai sadar, bahwa kondisi anak-anak tertentu yang candu oleh perangkat pintar bisa jadi ditularkan dari kebiasaan orang tuanya. Anak melihat orang tua juga asyik memainkan gawai, sehingga mereka ikut tertarik melakukan kegiatan serupa.

Faktanya, perkembangan teknologi yang begitu pesat, hampir tidak mungkin menjauhkan anak dari perangkat pintar sama sekali. Yang dapat dilakukan para orang tua hanya membatasi dan mengenalkannya secara bijak pada anak. Sebab benda-benda tersebut juga memiliki manfaat belajar ketika digunakan secara tepat.

Rahmat, 27 tahun, warga Parung Bogor, merupakan salah satu contoh orang tua yang berusaha mengenalkan gawai dengan porsi seimbang kepada anaknya. Arung, 1,5 tahun, sejak usia beberapa bulan memang sudah akrab dengan smartphone milik ayahnya. Namun, bukan untuk melihat video atau gambar gerak lainnya, tapi untuk mendengar suara.

Arung baru mulai mengenal gambar gerak saat usianya beranjak satu tahun. Ketika itu, konten video sudah mulai dikenalkan, namun dengan kontrol penuh Rahmat dan istrinya. Video yang diputar juga disaring, hanya yang berbau pendidikan saja.

“Sebagai media pembelajaran untuk mengenal suara, gambar, dan nama binatang,” kata Rahmat.

Ia sadar kemajuan teknologi tak dapat disembunyikan dari anak. Apalagi, orang tua ikut menggunakan dalam aktivitas sehari-hari. Maka, jalan keluar yang terbaik adalah mendamaikan anak dengan perangkat pintar mereka. Rahmat yakin, bila gawai digunakan secara positif dengan pengawasan orang tua, maka ia dapat menjadi media belajar yang baik.

“Kami juga berusaha memberi buku cerita saat Arung menangis, dibanding memberikan HP. Kecuali lagi di pesawat atau demam.”

Teknologi pada gawai memang menyenangkan bagi anak-anak. Memanfaatkan gawai sebagai sarana belajar yang menyenangkan tentu jadi hal yang positif. Mendampingi anak saat memainkan gawai dan memberikan waktu yang wajar bisa jadi pilihan orang tua. Namun, jangan biarkan gawai Anda jadi alat “pengasuh” bagi anak-anak.

Dr Richard Graham dari Nightingale Mental Health Hospital London, seperti ditulis dalam laporan The Telegraph yang berjudul “Toddlers becoming so addicted to iPads they require therapy” berpendapat bahwa kecanduan anak terhadap gawai saat ini telah mampu disetarakan dengan kecanduan alkohol atau heroin saat perangkat tersebut disita oleh orang lain.

Ada orang-orang tua yang rela merogoh kocek cukup dalam hingga 16.000 poundsterling untuk memasukkan anaknya dalam program “detoks digital” selama 28 hari di Nightingale Mental Health Hospital London.

Sebelum sampai pada tahap yang negatif, sebaiknya orang tua mulai sadar, bahwa kondisi anak-anak tertentu yang candu oleh perangkat pintar bisa jadi ditularkan dari kebiasaan orang tuanya. Anak melihat orang tua juga asyik memainkan gawai, sehingga mereka ikut tertarik melakukan kegiatan serupa.

Faktanya, perkembangan teknologi yang begitu pesat, hampir tidak mungkin menjauhkan anak dari perangkat pintar sama sekali. Yang dapat dilakukan para orang tua hanya membatasi dan mengenalkannya secara bijak pada anak. Sebab benda-benda tersebut juga memiliki manfaat belajar ketika digunakan secara tepat.

Rahmat, 27 tahun, warga Parung Bogor, merupakan salah satu contoh orang tua yang berusaha mengenalkan gawai dengan porsi seimbang kepada anaknya. Arung, 1,5 tahun, sejak usia beberapa bulan memang sudah akrab dengan smartphone milik ayahnya. Namun, bukan untuk melihat video atau gambar gerak lainnya, tapi untuk mendengar suara.

Arung baru mulai mengenal gambar gerak saat usianya beranjak satu tahun. Ketika itu, konten video sudah mulai dikenalkan, namun dengan kontrol penuh Rahmat dan istrinya. Video yang diputar juga disaring, hanya yang berbau pendidikan saja.

“Sebagai media pembelajaran untuk mengenal suara, gambar, dan nama binatang,” kata Rahmat.

Ia sadar kemajuan teknologi tak dapat disembunyikan dari anak. Apalagi, orang tua ikut menggunakan dalam aktivitas sehari-hari. Maka, jalan keluar yang terbaik adalah mendamaikan anak dengan perangkat pintar mereka. Rahmat yakin, bila gawai digunakan secara positif dengan pengawasan orang tua, maka ia dapat menjadi media belajar yang baik.

“Kami juga berusaha memberi buku cerita saat Arung menangis, dibanding memberikan HP. Kecuali lagi di pesawat atau demam.”

Teknologi pada gawai memang menyenangkan bagi anak-anak. Memanfaatkan gawai sebagai sarana belajar yang menyenangkan tentu jadi hal yang positif. Mendampingi anak saat memainkan gawai dan memberikan waktu yang wajar bisa jadi pilihan orang tua. Namun, jangan biarkan gawai Anda jadi alat “pengasuh” bagi anak-anak.tirto/inf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here