Gerakan TOSS TBC Dan Pencegahan

0
856 views

Salah satu penyakit yang masih banyak terjadi di Indonesia adalah tuberkulosis atau TBC. Berdasarkan laporan WHO 2017 diperkirakan ada 1.020.000 kasus TBC di Indonesia, tetapi baru terlaporkan ke Kementerian Kesehatan sebanyak 420.000 kasus.

Bertepatan dengan Hari Tuberkulosis Sedunia 2018 pada 24 Maret ini, Kementerian Kesehatan mengusung kampanye bertema “Peduli TBC, Indonesia Sehat” dan mengajak masyarakat untuk sama-sama mencegah dan mengendalikan penyakit ini dalam gerakan TOSS TBC (Temukan Obati Sampai Sembuh).

Hal ini dilakukan dengan cara menemukan penderita TBC sebanyak mungkin kemudian diobati sampai sembuh untuk memutus rantai penularan.

TBC merupakan penyakit menular yang berpotensi serius dan dapat memengaruhi paru-paru. Selain itu, juga dapat berdampak pada sistem saraf, ginjal, tulang belakang, dan otak.

Mengapa seseorang bisa terkena TBC? Salah satunya adalah bakteri yang menyebar dari orang ke orang melalui tetesan mikroskopis yang dilepas ke udara, seperti berbicara, bersin, meludah, tertawa atau bernyanyi.

“Seseorang yang batuk atau bersin akan ada puluhan ribu kuman yang terlontar dari batuk dan bersin itu, kemudian jadi menularkan penyakit tersebut. Menggunakan masker sebaiknya dilakukan sebagai upaya pencegahan,” ujar Dr. Anung Sugihantono, M.Kes, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.

Saran Anung, jika belum mengenakan masker, sebaiknya menutup mulut saat batuk atau bersin menggunakan sapu tangan atau tisu. Bila terpaksa pakai tangan, jangan lupa cuci tangan setelahnya agar bakteri dan kuman hilang dari telapak tangan.

Meski menular, sebenarnya TBC tak semudah itu mengenai seseorang. Orang lebih berisiko tertular jika tinggal atau bekerja bersama penderitanya.

TBC bisa terjadi pada siapa saja, tetapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risikonya, seperti orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, penderita diabetes, HIV atau AIDS, penyakit ginjal, kemoterapi, serta malnutrisi.
Ada beberapa tanda yang bisa dilihat saat seseorang terkena TBC, yaitu batuk yang berlangsung selama tiga minggu atau lebih, batuk berdarah, nyeri dada atau nyeri saat bernapas dan batuk, penurunan berat badan, kelelahan esktrem, berkeringat pada malam hari, demam, dan kehilangan nafsu makan.

Bagaimana cara mengobati TBC? Pada awal pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa kelenjar getah bening dan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan dengan seksama suara yang dihasilkan paru-paru saat Anda bernapas.
Kemudian, dilakukan tes kulit. Akan ada sejumlah kecil zat yang disebut PPD tuberculin disuntikkan tepat di bawah kulit lengan bawah. Pemeriksaan akan dilanjutkan dalam 48 hingga 72 jam setelah disuntik. Bila ada benjolan merah dan keras di titik suntik, Anda kemungkinan memiliki infeksi TBC.

Untuk pengobatan pasien akan diberikan antibiotik setidaknya selama enam hingga sembilan bulan. Jenis obat dan lama waktu konsumsi disesuaikan dengan usia, kesehatan secara keseluruhan, kemungkinan resistansi obat, jenis TBC, dan lokasi infeksi di dalam tubuh.

Obat yang dikonsumsi juga memiliki efek samping. Meski tak umum, tetapi berbahaya bila terjadi. Sebab semua obat TBC bisa sangat beracun bagi hati, yang dimulai dengan gejala semacam mual, kulit menguning, warna urine gelap, dan demam yang berlangsung selama tiga hari atau lebih.
Melihat panjangnya proses pengbatan dan dampaknya pada bagian tubuh lain, mulailah lakukan pencegahan TBC pada diri sendiri.

Anung Sugihantono mengatakan, bahwa TBC bisa dicegah sejak dini dengan imunisasi BCG (Baccile Calmette Guerin).
Sementara itu, Erlina Burhan, dokter spesialis paru, memberikan tip cegah TBC yang bisa dipraktikkan sehari-hari, seperti menghindari kontak dengan penderita tetapi juga tidak mendiskriminasi.

Selalu gunakan masker saat berada di ruang publik, menjaga daya tahan tubuh, serta memastikan tempat tinggal Anda memiliki saluran udara yang baik. beritagar/inf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here