Apa Saja Tracking Pertumbuhan Ekonomi Kalsel dan Survei Bank Indonesia Triwulan I -2018

0
176 views

Berdasarkan hasil tracking Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan. Disebutkan pertumbuhan ekonomi di Kalsel dan hasil survei Bank Indonesia pada triwulan I tahun 2018 terus menguat dan makin meningkat. Berikut hasil analisanya, yang disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan Herawanto, didampingi Siroth Tim Asesmen Ekonomi dan Keuangan dan Humas BI Kalsel Abdul Haris, pada acara temu media di Aula Bank Indonesia, Lantai VII, Rabu (18/4/2028),

Perekonomian Dunia dan Harga Komoditas

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada Tw.I-2018 yang lebih tinggi dari ekspektasi turut menjadi penopang lebih tingginya permintaan ekspor. Perekonomian Tiongkok pada Tw.I-2018 tumbuh 6,8% yoy, lebih tinggi dari prakiraan (6,5% yoy). Perekonomian India dan ASEAN pada awal tahun relatif masih akan stabil. Di sisi lain, perekonomian Jepang masih tertahan oleh lemahnya permintaan domestik, tercermin dari upaya pemerintah untuk terus mendorong capaian inflasi 2% di tengah tren inflasi yang masih terus turun.

Sebagai negara mitra yang dominan di Kalimantan Selatan, lebih baiknya pertumbuhan ekonomi Tiongkok utamanya ditopang oleh permintaan domestik yang menguat, penjualan ritel tumbuh di atas prakiraan. Meski demikian ke depan akan mengalami tantangan khususnya dari sisi investasi serat dibayangi risiko ekspor terkait kebijakan dagang AS.
Dari sisi perkembangan harga komoditas utama, Harga komoditas utama meliputi batubara dan karet kembali menguat pada triwulan I-2018. Penurunan produksi karet tercatat di Malaysia dan Vietnam, sementara di Thailand, India dan Indonesia masih meningkat. Harga batubara menguat, masih dipengaruhi oleh permintaan India yang tinggi berkenaan dengan terbatas suplai domestik serta penguatan ekonomi Tiongkok. Sementara itu harga CPO melemah ke 670 USD/mt dari 703 USD/mt, sejalan dengan pemulihan produksi CPO dan minyak nabati lainnya yang masih berjalan.

Tracking Pertumbuhan Ekonomi Kalsel/

Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan triwulan I 2018 berpeluang tumbuh meningkat dari triwulan sebelumnya, didukung oleh peningkatan ekspor, konsumsi pemerintah dan konsumsi LNPRT. Dari sisi sektoral utamanya didorong oleh sektor pertambangan, sektor pertanian dan PHR.

Pada sisi Permintaan, peningkatan ekspor utamanya berasal dari batubara sejalan dengan masih cukup baiknya prospek harga dan lebih baiknya pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Peningkatan konsumsi LNPRT didorong oleh kegiatan ormas Islam berkenaan adanya sejumlah event keagamaan serta persiapan Pilkada 2018 di 4 Kabupaten. Peningkatan konsumsi pemerintah didukung oleh lebih siapnya SOPD dalam merealisasikan anggaran belanja daerah.
Pada sisi sektoral, peningkatan kinerja sektor pertambangan sejalan dengan peningkatan produksi batubara. Peningkatan kinerja sektor pertanian utamanya didorong oleh peningkatan produksi karet.
Ekspor menguat seiring menguatnya ekspor batubara terkait lebih baiknya permintaan ekspor Tiongkok tercermin pada data ekspor BPS Tw.I-2018 (data per Maret 2018). Di sisi lain, investasi relatif stabil seiring meningkatnya investasi bangunan (tercermin pada data penjualan semen) di tengah sedikit melambatnya investasi nonbangunan (tercermin pada data impor mesin & peralatan).

Inflasi Kalsel

Realisasi inflasi Kalimantan Selatan pada bulan Maret 2018 sebesar 0,35% (mtm) setelah pada bulan sebelumnya deflasi 0,14% (mtm). Kenaikan inflasi terjadi pada seluruh kelompok barang terutama administered prices. Adanya kegiatan Haul Guru Sekumpul dan libur panjang pada akhir bulan Maret 2018 mendorong inflasi angkutan udara. Masih berkenaan dengan kegiatan tersebut, tekanan permintaan juga terjadi pada sejumlah makanan jadi seperti nasi dengan lauk, sop dan biskuit serta baju muslim yang mendorong inflasi inti.
Secara tahunan, inflasi Kalimantan Selatan juga mengalami kenaikan dari 2,71% (yoy) pada Feb menjadi 3,04% (yoy) pada Maret namun masih berada dalam rentang sasaran inflasi 3,75± 1% (yoy) sebagai sasaran antara menuju target inflasi nasional 3,5± 1% (yoy).

Hasil Survei Bank Indonesia

Berbagai survei dilakukan Bank Indonesia untuk mendukung asesmen makroekonomi. Saat ini Kantor Perwakilan Bank Indonesia mengelola beberapa survei terpublikasi yang dilakukan baik secara harian, mingguan, bulanan, maupun triwulanan guna mendukung tugas Bank Indonesia dalam melakukan asesmen ekonomi daerah serta sebagai masukan dalam pengambilan kebijakan nasional. Berikut adalah survei-survei dimaksud: Survei PIPHPS, Survei Konsumen, Survei Kegiatan Dunia Usaha, Survei Penjualan Eceran, dan Survei Properti Harga Properti Residensial. Selain survei rutin, Bank Indonesia juga melakukan survei insidentil sesuai kebutuhan dan isu terkini.
Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dilakukan sejak tahun 1993. Informasi yang diperoleh diantaranya perkembangan produksi dan penyerapan tenaga kerja. Hasil SKDU menunjukkan perkembangan serapan tenaga kerja sektor utama selama tahun 2017 yang cenderung lebih banyak menyatakan adanya kenaikan tercermin pada Saldo bersih Tertimbang yang positif (SBT>0). Hal ini sejalan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan tahun 2017 yang lebih tinggi dibandingkan 2016.

Survei Konsumen bertujuan untuk mengetahui keyakinan konsumen mengenai kondisi ekonomi saat ini serta ekspektasi ke depan. Pada Maret 2018, Indeks keyakinan konsumen Kalsel tercatat sebesar 94,12 atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 90,65. Hal tersebut mengindikasikan keyakinan kondisi ekonomi pada triwulan I-2018 yang lebih baik.
Survei Penjualan Eceran (SPE) menghasilkan Indeks Riil Penjualan Eceran yang merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui sumber tekanan inflasi dari sisi permintaan dan memperoleh gambaran mengenai kecenderungan perkembangan penjualan eceran serta konsumsi masyarakat umumnya. Pertumbuhan Indeks Riil Penjualan Eceran Kalsel triwulan I-2018 tercatat sebesar 42,52% (yoy) melambat dari triwulan bulan sebelum 57,33% (yoy). Terkait dengan hasil Survei Konsumen, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi pada triwulan I-2018 baik namun cenderung menahan pembelian barang konsumsi. Hal tersebut sejalan dengan prakiraan konsumsi RT yang akan tumbuh relatif stabil pada triwulan I-2018 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Survei Harga Properti Residensial (SHPR) membentuk Indeks Harga Properti Residensial, merupakan salah satu indikator ekonomi yang memberikan informasi mengenai perkembangan properti residensial baik triwulan berjalan maupun triwulan yang akan datang. Indeks harga properti residensial triwulan I-2018 tumbuh 0,64% (yoy) melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 1,46% (yoy), sejalan dengan melambatnya pertumbuhan KPR dibandingkan triwulan sebelumnya.

rel/BI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.