Kasus Pembunuhan Akhmad Berjanji Dituntut 15 Tahun Penjara

0
235 views

Kasus Pembunuhan Akhmad Berjanji, di Desa Blandean Muara Kecamatan Alalak Kabupaten Batola, Selasa (24/04) di Pengadilan Negeri Marabahan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ibnu Sina SH, Muhammad Ridwan R SH dan Amril Abdi SH. dituntut 15 tahun penjara denda Rp2500 dengan pasal 338 KUHP kepada terdakwa Sarifuddin.

Sidang ke-lima dengan agenda tuntutan dipimpin majelis hakim Ardhi Wijayanto,SH M Hum, Damar Kusuma Wardana SH, PetrusNico Kristian SH dan Panitera Septiana Damayanti SH.

Salah seorang keluarga korban Syahril Supu, usai sidang tuntutan mengatakan, sangat kecewa atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menjerat terdakwa Sarifuddin dengan pasal 338 KUHP, seharusnya pasal yang dikenakan 340 KUHP karena berdasarkan fakta persidangan itu pembunuhan berencana dengan ancaman seumur hidup.

Terdakwa terdakwa Sarifuddin selama dalam persidangan didampingi penasehat hukum dari LBH ULM Banjarmasin. Sidang akan dilanjutkan dengan agenda pledoi , Selasa (8/5/2018) yang akan datang.

Sebelumnya sidang telah menghadirkan dua orang saksi terdakwa yakni, Rahman kakak terdakwa dan Sukma kemanakan, terdakwa. Kedua orang saksi yang dihadirkan terdakwa dipersidangan, telah membuat keterangan palsu, bahkan saksi kedua yang dihadirkan bernama Sukma benar-benar tidak bisa menjawab setiap pertanyaan majelis hakim, maupun JPU, misalnya pekerjaan terdakwa yang selalu diantar jempat, klotok milik siapa dan pisau yang dibawa untuk apa kegunaannya, maupun jalan dari rumah korban menuju rumah terdakwa hanya ada satu jalan ujar saksi.

Padahal ada dua jalan, jadi bukan satu jalan,jadi semua keterangan yang disampaikan tidak benar, karena memang terdakwa maupun saksi tidak bekerja di Perusahaan PT Batola Primatama.

Menurut para saksi bahwa terdakwa bekerja di PT Batola Primatama dan sebagai kepala keamanan di perusahaan itu. Ketika di konfirmasi dengan salah seorang Pimpinan Perusahaan PT Batola Primatama Edy Santoso, ternyata tidak ada yang bernama Sarifuddin yang bekerja di perusahaan itu ungkap Edy Santoso kepada keluarga korban Baseri.
Sebelumnya Asi salah seorang staf perusahaan juga mengatakan, tidak bekerja di perusahaan ini, kata Edy Santoso, ia siap memberikan keterangan bila diperlukan kepolisian, kejaksaan maupun Hakim.

”Kami tidak bisa memberikan surat keterangan dari perusahaan bahwa Sarifuddin tidak bekerja di Perusahaan PT Batola Primatama, karena menyalahi aturan perusahaan. Tapi saya siap datang memberikan keterangan yang sebenarnya pada polisi,jaksa dan Hakim bila dipanggil untuk memberikan keterangan kesaksian ,bahwa Sarifuddin tidak bekerja di perusahaan PT Batola Primatama,” ucap Edy Santoso depan persidangan. ida/inf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.