Tiga Media Online di Banjarmasin Penuhi Panggilan Ditreskrimsus Polda Kalsel

0
196 views

Tiga media online sudah memenuhi undangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalsel untuk klarifikasi pemberitaan terkait dugaab polemik pemilihan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), salah satunya media online kalselpos.com.

Pemimpin Redaksi kalselpos.com SA Lingga mengungkapkan, dirinya ditanya 12 pertanyaan oleh penyidik Ditreskrimsus Polda Kalsel berkaitan narasumber dan mekanisme penulisan berita. “Kami jelaskan secara rinci proses pembuatan berita hingga naik cetak. Hanya sebatas klarifikasi. Ditreskrimsus juga mengetahu MoU antara Dewan Pers dan Kapolri,” tegasnya Kamis (2/8).

Direktorat Reskrimsus Polda Kalimantan Selatan memang perlu mendalami laporan terhadap lima media sebagai terlapor atas pemberitaan kisruh Pemilihan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (Pilrek ULM). Setelah memintai keterangan Pimpinan Redaksi Klikkalsel merangkap Ketua PWI Kalsel, Zainal Helmi pada Jumat pekan lalu, polisi giliran memanggil Pimred Jejakrekam, Didi Gunawan pada Senin (30/7).

Kepala Bidang Humas Polisi Daerah (Polda) Kalimantan Selatan, AKBP Mochamad Rifa’i menyatakan Polda Kalsel akan meluruskan persoalan tersebut. Menurut Rifai, kepolisan hanya meminta klarifikasi terhadap pimpinan redaksi media online, bukan melakukan pemanggilan. “Kalau pemanggilan lebih ke arah hukum,” ujar M Rifai.

Ia mengatakan klarifikasi ke pimred media online bermaksud mengkonfirmasi apakah terlapor individu atas nama Wahyu dan Dadi meminta keterangannya ditulis di media online tertentu, lalu menyebarkan sendiri berita itu ke sosial media. “Jadi yang dilaporkan oleh pihak terlapor ini adalah personal, yakni Dadi dan Wahyu, bukan medianya” ujar AKBP Rifai.

Melalui klarifikasi ke media online, polisi ingin mengumpulkan bahan keterangan dalam rangka penyelidikan. Apabila sudah cukup menemukan dua alat bukti, Rifai memastikan kasus ini bisa dinaikan ke proses penyidikan. “Yang dilaporkan dengan Undang-undang ITE, bukan Undang-undang Pers,” jelasnya.

Ia mengatakan polisi masih dalam tahap penyelidikan. Itu sebabnya, pihak penyelidik menghimpun kesaksian dari pimred media online yang memuat opini dari Dadi dan Wahyu. “Media hanya sebagai saksi,” kata M Rifai.

Adapun Didi Gunawan Sanusi mengatakan penyidik menyodorkan 21 pertanyaan ihwal konten dua berita yang dilaporkan. Ia berkata polisi hanya meminta klarifikasi soal pemberitaan yang berkonten dugaan pencemaran nama baik terhadap rektor petahana ULM, Sutarto Hadi. Di antara dua berita yang diminta klarifikasi, kata dia, hanya satu berita yang dipersoalkan karena kental mengandung opini pribadi di Jejakrekam.

“Saya jelaskan saja mekanisme mendapatkan sumber berita dan narasumber yang jelas sesuai kaidah jurnalistik,” cetus Didi.
Ia menegaskan media online bukan sebagai terlapor, melainkan hanya pihak yang dimintai klarifikasi. Didi berkata penyidik sudah mengetahui MoU antara Dewan Pers dan Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri). “Mereka menghormati hal tersebut, karena media hanya sebagai saksi” jelas Didi.

yus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here