Apkasindo Kalsel Gelar Pertemuan Penguatan Kelembagaan Koperasi Petani Kelapa Sawit

0
140 views

Guna menyatukan langkah para petani kelapa sawit di Kalsel yang tergabung di wadah Asosiasi Petani Sawit Indonesia (Apkasindo) Kalsel menggelar pertemuan Penguatan Kelembagaan Koperasi Petani Kelapa Sawit di Hotel Aria Barito Banjarmasin, Sabtu (29/9/2018). Pertemuan dihadiri ratusan petani kelapa sawit ini mengangkat tema Kemandirian Koperasi Perkebunan Kelapa Sawit Provinsi Kalimantan Selatan.

Dari hasil pertemuan ini, Apkasindo akan suarakan kepada Pemerintah tiga poin usulan yaitu pertama penyetaraan harga TBS kelapa sawit petani swadaya mandiri dan petani kemitraan. Kedua penyaluran dengan lebih cepat dana yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk pupuk, peremajaan tanaman sawit rakyat dan yang lainnya.

Dalam pertemuan ini juga dibahas soal isu dampak Peraturan Menteri Pertanian Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Pekebun. Turunnya kualitas sawit petani mandiri, sampai rencana mendirikan pabrik kelapa sawit yang dimiliki Apkasindo Kalsel. Rencananya pabrik sawit didirikan di Pelaihari Kalsel bulan Nopember 2018.

Isu lainnnya, saat ini petani kelapa sawit swadaya mandiri di Kalimantan Selatan (Kalsel) mengaku mengalami penurunan peluang pendapatan drastis hingga miliaran Rupiah perbulan.

“Hal ini disebabkan adanya selisih harga pembelian hasil tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mereka dihargai rata-rata lebih rendah hingga Rp 400 perkilogram dibanding TBS petani kelapa sawit kemitraan,” kata Ketua Harian DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Amin Nugroho, Sabtu (29/9).

Kata Amin, akibat Peraturan Menteri Pertanian Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Pekebun.

“Masalahnya dalam Permentan ini yang disebutkan petani kemitraan, padahal petani kemitraan berbeda dengan petani swadaya mandiri. Jadi banyak petani swadaya mandiri yang dirugikan,” kata Amin.

Menurut Amin, petani kelapa sawit swadaya mandiri secara nasional jumlahnya kurang lebih 2 juta orang dengan 3,5 juta hektar lahan kebun.

“Kerugian atau penurunan peluang pendapatan yang dirasakan selama empat bulan terakhir Rp 600 ribu perhektar perbulan, jadi kerugian bisa mencapai Rp 2,4 triliun perbulan,” kata Amin.

Ketua DPD Apkasindo Provinsi Kalsel, H Syamsul Bahri menjelaskan, di Kalsel dampak dari Permentan Nomor 1 Tahun 2018 ini sudah dirasakan dengan rendahnya harga pembelian TBS para petani swadaya mandiri oleh pabrik.

“Dari harga pembelian TBS yang ditetapkan tim penetapan harga pemerintah dan pengusaha, TBS petani swadaya dibeli lebih rendah di harga rata-rata Rp 1050, sedangkan TBS petani kemitraan bisa di harga lebih tinggi,” kata H Syamsul.

Menurutnya hal ini timbulkan ketidakadilan, dimana beberapa pabrik pengolahan kelapa sawit beralasan hasil TBS petani swadaya mandiri kurang baik.

Hal ini dinilai merugikan banyak petani kelapa sawit swadaya mandiri di Kalsel yang miliki jumlah lahan kebun kelapa sawit seluas 85 ribu hektar.

ida/bp

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here