Bank Indonesia Kalsel Gelar Seminar “Era Dirupsi Ekonomi Digital dan Revolusi Industri 4.0”

0
136 views

Munculnya era literasi baru tidak lepas dari era revolusi industri 4.0. Kondisi ini, adalah era dunia industri digital telah menjadi suatu paradigma dan acuan dalam tatanan kehidupan saat ini. Era revolusi industri 4.0 hadir bersamaan dengan era disrupsi yang sejak tahun 2017.

Untuk menghadapi revolusi industri 4.0 atau era disrupsi diperlukan “literasi baru” selain literasi lama. Literasi lama yang ada saat ini digunakan sebagai modal untuk berkiprah di kehidupan masyarakat. Literasi data, teknologi, dan SDM harus direspon.

Menghadapi kondisi tersebut Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalsel menggelar seminar ekonomi dan bisnis dengan tema: “Era Dirupsi Ekonomi Digital dan Revolusi Industri 4.0”. Sejumlah nara sumber dihadirkan sebagai pembicara yang dipandu oleh presenter dari Kompas TV

Salah satunya dari perwakilan World Bank di Indonesia, yang menilai Provinsi Kalsel jangan hanya memikirkan keuntungan dari sektor pertambangan dan kelapa sawit semata. “Kalsel jangan mengembangkan low material—bahan baku utama yan dimiliki, tapi harus mendorong alternatif lain, ketika harga batubara atau sawit turun, perekonomian di Kalsel masih tetap tumbuh,” kata perwakilan World Bank di Indonesia Alief Aulia Rezza, Kamis (25/10).

Kata Alief, selain sektor ekstratif sektor lain harus didukung, potensi SDA yang lain terus didukung. Secara umum, hasil kajian Bank Dunia Kalsel dinilai perekonomiannya masih stabil dan masih memungkinkan terus berkembang.

“Kami lihat nilai eksport bagus dari hasil bumi batubara dan sawit, dll. Jika dibandingkan provinsi lain Kalsel masih lebih baik. Bahkan kami belum pernah dengar keluhan lain,” katanya.

Sementara Kasubbid Pencapaian Industri Kemenperin, Moko Nugroho mengatakan, di Kalsel masih banyak sektor UMKM ditingkatkan kearah lebih moderen dan pastinya bisa memberikan kontribusi luas.

Salah satunya, usaha jamu yang ada di Kampung Pejabat Kota Banjarbaru, semestinya bisa dikembangkan dengan profesional. Sebab saat ini usaha pengolahan jamu di Loktabat masih bersifat tradisional. Dimana pelaku UMKM hanya mengolah jamu pagi ini malam harinya mengolah pagi untuk dijual keesokan harinya, begitu terus siklusnya harus habis. Jika jamu tidak habis tentu menjadi basi.

“Untuk itu harus ditemukan komposisi agar jamu olahan itu bisa tahan satu minggu atau lebih. Bisa berbentuk pengawet alamiah tapi sifatnya tidak akan merusak jamu tradisional itu,” katanya.

Kata Moko, itu salah satu contoh komoditi-komoditi ini yang seharusnya didukung oleh dinas terkait. Kemenperin sendiri sudah memberikan bimbingan teknis ke para penjual jamunya. Pada gilirannya bisa menjadi komoditi dan salah satu keunggulan khas di Kalsel.

“Selain jamu kami juga melihat potensi kopi di Astambul Kabupaten Banjar, ternyata banyak kopi yang ditanam secara alami tumbuh begitu saja tidak di ekspor . Padahal kopi ini bisa di budidayakan, bisa di kembangkan. Jika dikemas dan dikembangkan tentu tak akan kalah dari kopi asal Sulawesi, Jawa, Sumatera padahal Kalimantan itu ternyata ada juga kopi khasnya. Ini semuanya sebuah peluang yang dikembangkan,” katanya.

yus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here