Populerkan Budaya Banjar ke Tingkat Dunia, Festival Banjar Digelar di Jakarta

0
31 views

JAKARTA – Wakil menteri kementerian luar negeri RI  yang juga Ketua Bubuhan Banjar, A.M Fachir dan Ketua Panitia Pelaksana Festival Banjar, Rosiyati Mh Thamrin. (ist)

 

Jakarta – Banyak cara yang dilakukan untuk mempromosikan kebudayaan daerah hingga ke tingkat nasional bahkan internasional. Seperti yang dilakukan oleh Bubuhan Banjar atau Kerukunan Banjar, yaitu dengan menyelenggarakan “Festival Banjar”.

Festival yang memasuki tahun kedua pada 2019 itupun, dimulai pada 15 – 21 Juli, di Museum Nasional dan Bundaran HI, Jakarta. Berbagai rangkaian kegiatan budaya akan disuguhkan bagi masyarakat luas, termasuk para perwakilan dari negara-negara sahabat.

Wakil menteri kementerian luar negeri RI yang juga merupakan ketua Bubuhan Banjar, A.M Fachir mengatakan, festival tersebut merupakan ajang untuk menampilkan kearifan lokal di panggung nasional hingga internasional, yang akan diwakilkan dengan mengundang organisasi internasional, sekolah internasional hingga para duta besar negara sahabat.

“Ini tentang bagaimana membawa citra dan tradisi kearifan lokal di panggung nasional untuk kemudian diketahui masyarakat internasional,” ujar A.M Fachir ketika menggelar konferensi pers, Senin (15/7/2019), di Jakarta.

Dijelaskan A.M Fachir, Festival Banjar juga membuka peluang bagi masyarakat luas berinteraksi langsung dengan masyarakat Banjar, seperti pada replika “pasar terapung” yang akan digelar saat Car Free Day di Bunderan HI, Minggu, 21 Juli.

“Bayangkan nanti orang-orang itu mengayuh jukung (perahu) dari Museum Nasional ke Bundaran HI. Jukung itu adalah tempat orang dagang membawa buah-buahan maupun makanan. Bayangkan pasar terapung ada di CFD,” paparnya.

Selain menurut A.M Fachir keterlibatan kementerian luar negeri dalam Festival Banjar sendiri, dikarenakan hal itu merupakan bagian dari misi diplomasi publik untuk menampilkan potensi daerah ke dunia internasional.

“Untuk memposisikan diri sebagai jembatan interaksi potensi-potensi daerah ke dunia internasional. Ini (Festival Banjar) bisa menjadi model bagi pemda lainnya untuk melakukan hal yang sama. Harapannya agar membawa citra yang baik tentang daerah dan menampilkan keberagaman budaya Indonesia di luar negeri,” terang A.M Fachir.

Sementara, 41 jenis kue tradisional, 41 jukung (perahu) hingga Mahligai Sasirangan (rumah khas etnis Melayu Kalimantan Selatan) akan ditampilkan selama pelaksanaan festival.

Ketua Pantia Pelaksana Festival Banjar, Rosiyati Mh Thamrin, mengatakan, bagi rakyat Banjar festival tersebut merupakan upaya untuk melindungi warisan budaya dari peluang untuk diakui oleh negara lain.

“Budaya Banjar adalah sebagian dari budaya Melayu, kalau kita tidak tampilkan diajang nasional dan internasional maka kita khawatir akan dicaplok oleh negara lain,” ungkap Rosiyati.

Sehingga menurut Rosiyati, dalam pelaksanaannya akan turut dilakukan pendataan terhadap apa saja yang berpotensi untuk dihak patenkan.

“Panitia akan mengusulkan untuk melihat apa yang perlu dihak patenkan untuk provinsi Kalimantan Selatan. Saya khawatir nanti akan diambil oleh Malaysia dan Singapura,” harapnya.

Rangkaian kegiatan “Festival Banjar” telah dimulai sejak 15 Juli, yang dipusatkan di Museum Nasional, Jakarta.

Yaitu, pesta lukis rumah adat Banjar yang disebut “Mahligai Sasirangan”. Pesta lukis tersebut turut melibatkan pula partisipasi para pelukis dari Universitas Negeri Jakarta.

Tahun ini “Festival Banjar” yang mendapatkan dukungan pula anggaran dari pemerintah provinsi Kalimantan Selatan tersebut, memaksimalkan partisipasi masyarakat umum. rel/ida

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.