BKKBN Pusat Minta Tiap SMK di Kalsel Sisipkan Pelajaran ‘Sekolah Siaga Kependudukan’

0
30 views

BANJARMASIN -Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kepedulian seluruh pihak terhadap masalah kependudukan di Indonesia. Salah satunya dengan mengenalkan isu kependudukan dan keluarga berencana di lingkungan sekolah melalui program yang dikenal dengan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).

Deputi Pengendalian Penduduk BKKBN, Dr Ir Dwi Listyawardani, mengatakan, SSK telah dibangun dalam dua tahun terakhir ini dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah kependudukan yang dimulai dari usia sekolah, terutama tingkat SMA Kamis (5/07).

SSK adalah pengetahuan umum tentang substansi kependudukan dan keluarga berencana yang diintegrasikan dengan mata pelajaran di sekolah, seperti kesehatan reproduksi, kelahiran di usia remaja, pernikahan dini, laju pertumbuhan penduduk, karakter, fungsi keluarga, dan lain-lain.

Hal ini menjadi alasan kenapa Sekolah Menengah Kejuruan Negri 4 dipilih menjadi sekolah siaga kependudukan sebagai contoh untuk sekolah lain agar sekolah lain juga dapat mencontoh seperti SMK 4 sebagai mana mestinya.

Dr Ir Dwi Listyawardani menyampaikan “SSK ini tidak membebani sekolah, guru ataupun murid-murid, karena ini pengetahuan umum yang disisipkan di tiap mata pelajaran, tidak diujikan,” kata Listyawardani saat meresmikan Sekolah siaga kependudukan tersebut.

Saat ini, SSK sudah terbentuk di 180 sekolah di berbagai daerah. BKKBN pusat menargetkan setiap kabupaten/kota memiliki satu SSK sebagai model percontohan bagi sekolah lain. Dan Listyawardani beranggapan bahwa remaja sekarang adalah motor penggerak di berbagai bidang. informasi dan teknologi. Sebutnya

Dengan inin remaja diharapkan bisa jadi motor penggerak isu kependudukan. Mereka bisa menularkan isu kependudukan kepada lingkungannya yang ada di sekitarnya Selain itu, banyak masalah kependudukan yang sebetulnya dekat dengan kehidupan remaja, macam pernikahan dini, perilaku seks bebas, dan narkoba.

Dengan pengetahuan yang cukup sejak dini diharapkan remaja bisa merencanakan masa depannya dengan lebih baik. Remaja jugalah yang akan menentukan apakah bonus demografi yang puncaknya terjadi di Indonesia sekitar tahun 2020-2025 apakah benar-benar menjadi jendela peluang untuk kemajuan bangsa, atau sebaliknya bencana kependudukan Pungkasnya

Febri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here