Bupati Batola Lestarikan Permainan Tradisional Anak-anak

0
2 views

Marabahan – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN)  2019 di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan  digelar di Desa Palingkau, Kecamatan Bakumpai, Kamis (26/9).

Gelaran di halaman di SMPN 2 itu berlangsung semarak dihiasi sejumlah penampilan,  seperti PBB dari Polisi Cilik binaan Polres Batola serta sejumlah permainan tradisional seperti ampar-ampar pisang, injit-injit semut, ular naga, permainan damprak, main tali, dan lainnya.

Yang menarik, seluruh rentetan permainan yang anak-anak itu diikuti langsung Bupati Batola Hj Noormiliyani AS yang menghadiri puncak perayaan HAN.

Malah, bupati perempuan pertama di Kalsel itu, seakan tanpa sadar ikut berbaur bersama anak-anak. Ia tak bedanya seorang guru Taman Kanak-kanak asyik bercengkrama, membimbing dan mengarahkan anak-anak tengah mengelilinginya.

Kecintaan Noormiliyani terhadap anak-anak memang sudah dikenal masyarakat karena tak heran saat tiba di lokasi acara ia langsung membopong seorang anak yang menyambutnya.

Sebelumnya, pada saat peringatan, Noormiliyani dalam sambutannya nampak sangat memperhatikan permasalahan anak mulai masalah pendidikan, kesehatan maupun segala kebutuhan lainnya.

Mantan Ketua DPRD Provinsi Kalsel mengharapkan perhatian yang diberikan terhadap anak menjadi prioritas baik dari pihak terkait maupun para orangtua.

Isteri mantan Bupati Batola H Hasanuddin Murad itu sempat menyinggung kebutuhan gizi anak dalam upaya mengantisipasi terjadinya kekurangan gizi, termasuk dalam mencegah dan mengantisipasi terjadinya stunting.

“Di daerah kita ini anak yang terkena stunting meski tergolong sedikit yaitu sekitar 36 orang,  namun ini tetap menjadi perhatian kita untuk terus mengantisipasinya,” ucapnya.

Dalam upaya mengantisipasi meningkatkan kasus stunting, menurut Noormiliyani, telah dilakukan berbagai upaya, termasuk memberikan sajian beragam bagi posyandu dengan bekerjasama dengan Agus Sasirangan.

Dia mengatakan, tujuannya dilakukannya kerjasama menu dalam upaya membuka selera anak terhadap asupan gizi pada saat di posyandu dengan harapan bisa menghapus kejadian stunting.

Hal itu dilakukan, sebut dia, karena kasus stunting tidak terdeteksi pada saat kehamilan namun baru bisa diketahui setelah anak berusia dua tahun.

Noormiliyani juga mengutarakan, dalam upaya menghilangkan kejadian stunting di Batola pihaknya dengan membuat program bedah kampung terintegrasi untuk desa-desa tertinggal.

Mengingat, lanjutnya, munculnya kejadian stunting biasanya terdapat pada desa-desa tertinggal.

“Di Kecamatan Bakumpai ini masih terdapat tiga desa tertinggal yakni Balukung, Palingkau dan Banitan. Untuk Desa Banitan dilakukan bedah kampung tahun 2019, Balukung tahun 2020, dan Palingkau tahun 2021 mendatang,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here