Kunjungi Pesantren Ubudiyah Bati-Bati, Denny Indrayana Tegaskan Komitmen Pendidikan Keagamaan

0
3 views

PELAIHARI, Komitmen meningkatkan kualitas SDM Kalsel, terus digaungkan kandidat calon gubernur Denny Indrayana. Salah satunya menyokong pendidikan keagamaan, khususnya pesantren, yang menjadi basis masyarakat menuntut ilmu agama dan pengetahuan umum. Selasa (19/11), mantan WamenkumHAM era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono ini mengunjungi Pesantren Ubudiyah Bati-Bati, di Kabupaten Tanah Laut (Tala).

Di salah satu pesantren tertua di Tala tersebut, Denny disambut pengasuh H Rahmat Rodiani, bersama jajaran pengurus Ponpes. Ia mengaku senang atas kunjungan sekaligus silaturahmi Denny bersama rombongan.

“Kami menyambut baik kedatangan Bapak Denny Indrayana ke pesantren Ubudiyah. Semoga bisa mempererat tali silaturahmi serta diberikan kemudahan serta terkabulnya hajat beliau di Pilgub 2020 nanti,” katanya.

H Rahmat yang merupakan putra ke 10 dari pendiri pesantren KH Anang Ramli Haq bin H Abdul Qadir ini menjelaskan, saat ini ada 1.000 santri belajar di tempatnya. Mulai dari jenjang PAUD, ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah. “Kedepannya kami juga akan menyiapkan untuk jenjang perguruan tinggi. Itu sudah menjadi cita-cita almarhum, sudah ada lahan sekitar 11 hektare untuk mewujudkannya,” terang H Rahmat.

Terkait kondisi pendidikan di pesantren saat ini, H Rahmat mengatakan animo masyarakat belajar agama khususnya di Bati-Bati masih sangat tinggi. Hal ini dibuktikan banyaknya santri-yang bahkan datang dari berbagai daerah di Kalsel, belajar di pesantren. “Bati-Bati ini memang menjadi daerah kedua dengan jumlah penduduk terbesar setelah Pelaihari. Maka santri yang belajar juga lumayan banyak,” katanya.

Namun di sisi lain, dia mengatakan adanya kebijakan pemerintah yang membagi kewenangan pendidikan tingkat SMA/sederajat ke provinsi, berdampak juga pada penyelenggaraan pendidikan di pesantren yang notabene tak memiliki ‘payung’ lagi. “Dulu ketika masih di kabupaten, kita masih bisa merasakan bantuan lewat kabupaten. Tapi dengan ditarik ke provinsi, kami di pesantren yang juga memiliki pendidikan level SMA tidak bisa masuk lagi,” ungkapnya.

Hal ini tentunya berimbas pada kebijakan pengembangan pendidikan secara umum. “Dulu tanpa diminta pun, bantuan seperti meja kursi datang sendiri. Sekarang tidak lagi seperti itu,” ujar dia.

Untungnya, kata H Rahmat, saat ini pihaknya masih menerima bantuan dari anggaran BOS pusat. Sehingga masih bisa mengalokasikan anggaran untuk peningkatan mutu pendidikan, termasuk sebagian untuk operasional guru. “Terus terang, untuk gaji guru ya dicukup cukupi aja selama ini. Kalau ditotal rata-rata per bulan hanya digaji Rp 1 juta saja,” ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut, Denny Indrayana mengatakan pendidikan agama sepereagamaan. “Jadi jangan hanya pembangunan ini dinikmati oleh segolongan tertentu saja. Arah pembangunan Kalsel ke depan juga harus fokus pada peningkatan pendidikan agama. Karena dari berbagai silaturahmi ke tokoh agama, ulama, habaib, dan tuan guru, selalu beliau berpesan agar Kalsel tak kehilangan jati diri sebagai provinsi yangti pesantren mesti menjadi perhatian. Pembangunan Kalsel ke depan tak boleh lagi menganak-tirikan pendidikan k religius,” terangnya.

Terkait ketiadaan payung anggaran bagi pendidikan keagamaan, saat ini Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan putusan yang diharapkan bisa mengakomodir kepentingan pendidikan keagamaan. “Kebetulan yang melakukan gugatan ke MK adalah mertua saya sendiri yang juga konsern di pendidikan keagamaan,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here