21 Tahun Berkarya Nabil Salim Luncurkan Sasirangan Milenial

0
80 views

BANJARMASIN – Acara bertajuk “21 Tahun Nabil Salim Berkarya” ditampilkan sekitar 10 koleksi terbaru dari kain sasirangan baik berupa gaun, kebaya dan busana muslim. Sekaligus melaunching sasirangan milenial menyajikan 10 koleksi hasil kolaborasinya bersama perancang lokal dengan Melly, Agus Sasirangan dan Ayu Purhadi. Sehingga beberapa merk dari perancang tersebut juga turut memeriahkan acara itu yakni Paras Ayu Jogja by Ayu Pirhadi, Halilipan by Agus Sasirangan dan Et Neek by Melly, Senin (9/12/2019).

Menurut perancang busana Nabil Salim, 21 tahun berkarya ada kesempatan membuka untuk disainer-disainer Banjarmasin bisa maju ke kancah nasional maupun internasional dimulai dengan mengangkat tema sasirangan. Berawal dari BSF 2019 itu Nabil Salim memulai membuat sasirangan sampai akhirnya diapresiasi ketua APPMI pusat Popy Darsono.

Dikatakannya, motif-motif sasirangannya tanpa harus menghilangkan Pakem. Ada bikin 100 motif dan wajib berbeda 100 motif itu saya bagikan kepada teman-teman designer jadi semua kain yang tampil di panggung itu semua desain lukisan asli original.

“Ada 60-80 baju dijahit oleh saya di desain oleh saya sebagian lagi dijahit oleh teman-teman APPMI, setelah pengembangan motif sasirangan ini saya rasa tidak ada habisnya dan tidak akan pernah habis untuk digali dengan tetap mempertahankan unsur budaya Kalsel,” kata Nabil Salim.

Nabil mengatakan, menjunjung tinggi untuk budaya Kalsel dengan mengangkat sasirangan, tapi kenapa sasirangan ini tidak pernah maju ke nasional? sementara batik bisa sampai internasional. Ini membuat motivasi mengangkat budaya Kalsel melalui setiap rancangan busananya. Dengan bahan-bahan berkualitas tinggi inilah yang mampu akan menembus sutra sasirangan ke tingkat nasional maupun internasional. Mengembangkan ide untuk kemajuan Banua yaitu lewat sasirangan.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin, Ikhsan Al Haque dalam sambutannya menyambut baik rancangan perancang busana tersebut khususnya dalam melestarikan warisan budaya berupa kain tradisional sasirangan. Kain sasirangan telah berumur lebih daru 500 tahun. Kain ini berjenis premium, karena tidak ada kain yang sifatnya tiruan atau cap. Semua handmade. Berbeda dengan kain tradisional lain.

Ikhsan meyampaikan, kain sasirangan dahulu hanya dipakai oleh pihak kerajaan atau untuk ritual pengobatan. Sedangkan masyarakat biasa tidak memakai sasirangan. Kain sasirangan sejak kemunculannya dahulu bersifat eksklusif.

“Melalui rancangan dari desainer yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) Kota Banjarmasin itu, maka kain sasirangan semakin bergengsi dan menjadi kebanggaan banua,” harapnya.

Ida/IB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.