Satu Tahun Kempimpinan Bupati Don dalam Memimpin Nagekeo

0
1.527 views

BUPATI DON menarik perhatian. Terhitung sejak dilantik 23 Desember 2018 menjadi Bupati Nagekeo, Bupati yang satu ini terus membuat gebrakan. Misalnya, terlibat langsung memilih sampah yang berserakan di ruas Kota Mbay.

Gebrakan ini sontak mendapatkan respon publik terutama di media sosial. Banyak pujian dilayangkan. Namun sayang, kini sampah tetap berserakan dan Bupati Don tidak terlihat lagi memilih sampah. Atau gebrakan aneka festival dengan menelan anggaran yang fantastis.

Sempat meriah di awal, tetapi akhirnya hilang entah ke mana tanpa meninggalkan bekas kemanfaatan sedikit pun. Sepihnya pengunjung dan entah bagaimana nasib dari “Keka Literasi” adalah justifikasi untuk apa yang saya sampaikan tadi. Tidak berhenti di sini, gebrakan penataan pasar Danga juga menuai masalah demikian Ketua Gapura mengkritik.

Agustinus Bebi Daga, S.Ip mempertanyakan Penggusuran dan penghilangan aset daerah hingga kini menjadi tanda tanya. Apalagi, penataan pasar ini dikelola dengan tidak transparan, misalnya penimbunan pasar Danga yang katanya menggunakan skema CSR yang sampai hari ini Bupati Don tidak menyampaikan kepada publik lembaga atau perusahaan mana yang bertindak sebagai CSR. Satu masalah lagi perihal THL. Dengan penuh “rasa peduli” Bupati Don menghimbau kepada para THL untuk mandiri dan menjadi wira usaha.

Namun, Bupati tidak menyiapkan keuangan daerah dengan sistem pinjaman lunak yang bisa dikelola oleh wira usaha pemula dengan menggunakan dana APBD II. Dalam konteks ini, rasa peduli tidak hanya menjadi lip service, melainkan dibuktikan dengan tindak nyata seperti mempersiapkan prakondisi menuju kemandirian yang diserukan tersebut.
Di bawah slogan perubahan, pemerintahan dikelola. Namun, perubahan macam apa yang diharapkan?

Mungkin hanya Bupati Don yang tahu. Mantan Ketua DPC GMNI Denpasar ini mengatakan, sampai saat ini penyerapan anggaran sangat lamban, sehingga terkesan semua pengerjaan proyek-proyek pemerintah dilakukan dengan multi years, karena sampai berakhirnya tahun anggaran proyek-proyek di lapangan masih dikerjakan. Apalagi, hasil kunjungan kerja Dewan menunjukkan berbagai proyek bermasalah dan proyek siluman. Sampai di sini, masihkah kita meyakini perubahan yang menjadi jargon Bupati Don?

Kini Bupati Don kembali bikin heboh, dengan tuduhan persekongkolan antara lembaga legislatif dan eksekutif di Kabupaten Nagekeo pada masa yang silam. Tuduhan ini, kemudian berkembang menjadi polemik. Namun, sampai saat ini Bupati Don belum memberikan bukti yang membenarkan pernyataannya tersebut. Mantan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fasiltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Warmadewa Denpasar menyayangkan pernyataan ini harus keluar dari seorang pejabat publik seperti Bupati yang seharusnya mampu memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

Tuduhan persekongkolan yang sampai saat ini belum dibuktikan oleh Bupati Don, merupakan bentuk delegitimasi terhadap lembaga legislatif. Dan ini merupakan persoalan serius yang harus diklarifikasi oleh Bupati Don. Apabila tidak segera diklarifikasi, maka tentunya akan sangat mengganggu harmonisasi antara kedua lembaga ini. Harmonisasi dari kedua lembaga sangat dibutuhkan dalam membangun Nagekeo. Dampak lain yang tidak kalah serius dari tuduhan ini, adalah terdapatnya potensi munculnya polarisasi di tubuh pemerintahan Kabupaten Nagekeo.

Dalam keadaan seperti ini, yang akan menjadi korban tentunya adalah masyarakat. Mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Ngada Bali mangatakan, lembaga legislatif dan eksekutif setiap tahunnya diaudit oleh lembaga pemeriksa keuangan, dan tidak ada temuan persekongkolan seperti yang dikatakan Bupati Don.

Atau, apakah Bupati Don mempunyai lembaga audit tersendiri?Selain tuduhan persekongkolan, Bupati Don juga menghimbau ASN untuk tidak takut terhadap legislatif. Di sisi lain, Bupati Don menghimbau ASN untuk taat kepadanya sebagai pemimpin di lembaga eksekutif. Lantas, kepatuhan macam apa yang diharapkan oleh Bupati yang satu ini?

Mengajak ASN untuk tidak patuh terhadap lembaga legislatif sembari meminta ASN untuk patuh terhadap dirinya. Sebuah himbauan yang tidak hanya kontroversial tetapi juga kontradiktif, serta mirip gaya pemimpin yang otoriter.

Sampai di sini, ada dua pesan untuk Bupati Don. Pertama, rakyat membutuhkan karya nyata yang bermanfaat, bukan sensasi atau serangkaian festival yang entah bagaimana dampaknya bagi masyarakat pasca kegiatan tersebut. Fokuslah pada penyerapan anggaran tinimbang membuat pernyataan yang bikin gaduh. Kedua, jikalau ingin membersihkan lantai yang kotor, gunakanlah sapu yang bersih. (ABD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.