Polda Metro Jaya Bantah Copot Jabatan Kasat Reskrim Polres Jaksel Terkait Dugaan Pemerasan Rp 1 Miliar

0
22 views

KABID Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus membantah bahwa pencopotan AKBP Andi Sinjaya Ghalib dari jabatannya sebagai Kasat Reskrim Polres Jaksel, terkait dugaan karena Andi meminta uang Rp 1 Miliar kepada pelapor yakni Budianto.

 

“Dia bukan dicopot, itu mutasi rutin biasa. Kemarin kan saya luruskan bahwa dia itu bukan dicopot, tapi mutasi biasa. Kenapa kok pada bingung,” kata Yusri di Mapolda Metro Jaya, Senin (13/1/2020).

 

Terkait pernyataan Indonesia Police Watch (IPW) yang menyatakan pencopotan AKBP Andi Sinjaya Ghalib dari jabatannya sebagai Kasat Reskrim Polres Jaksel, terkait dugaan kasus pemerasan lantaran Andi meminta uang Rp 1 Miliar kepada pelapor yakni Budianto, Yusri enggan menanggapinya lebih jauh.

 

“Ngga ada, jangan nyebut-nyebut lah. Ada laporannya ngga? Saya ngga tahu, saya ngga ngerti. Karena dia bukan dicopot, tapi mutasi biasa,” kata Yusri.

 

Sebelumnya Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane memberi apresiasi pada Polri yang sudah mencopot penyidik Polres Jakarta Selatan karena meminta uang Rp 1 Miliar kepada pelapor Budianto.

 

Penyidik yang dimaksud adalah Kasat Reskrim Polres Jaksel AKBP Andi Sinjaya Ghalib. Pencopotan Andi Sinjaya tertuang dalam surat telegram ST/13/I/2020 tertanggal 08 Januari 2020.

 

Surat ditandatangani Karo SDM Polda Metro Jaya Kombes Mardiyono. Dalam surat itu, AKBP Andi Sinjaya digantikan AKBP Mochammad Irwan Susanto yang sebelumnya menjabat Kasubbid Provos Bidpropam Polda Metro Jaya.

 

Sementara Andi dimutasi sebagai Koorgadik Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Metro Jaya.

 

“Tindakan tegas ini perlu dilakukan Polri kepada anggotanya yang brengsek agar citra Polri terjaga dan kepercayaan publik kepada jajaran kepolisian tetap terbangun,” kata Neta, kepada Wartakotalive.com, Sabtu (11/1/2020).

 

Dimintai uang Rp 1 miliar

 

Neta menjelaskan, sebelumnya pada pertengahan November 2020 pelapor dimintai uang Rp 1 miliar oleh Penyidik Polres Jakarta Selatan.

Karenanya pelapor bersama IPW mengadukan kasus itu ke Kapolda Metro Jaya. Laporan resmi diterima Koorsespri Kapolda Metro Jaya.

 

“Saat diminta uang Rp 1 Miliar, pelapor tidak memberikannya dan pelapor merasa diperas penyidik. Akibat pelapor tidak memenuhi permintaan Penyidik, maka tersangka dalam kasus No Sp.Sidik/592/IV/2018/Reskrim Jaksel tgl 16 April 2018 atas nama MY dan Sul tidak kunjung diserahkan Polres Jaksel ke Kejaksaan,” kata Neta

 

“Padahal perkaranya sudah P21. Jika tersangkanya segera dilimpahkan ke Kejaksaan, perkaranya bisa segera tuntas di pengadilan,” kata Neta.

 

Tindakan mengkomersialisasi jabatan yang bisa menghambat upaya penegakan hukum seperti ini, kata Neta, jelas tidak hanya mengganggu profesionalisme Polri tapi juga merusak rasa keadilan masyarakat.

 

“IPW berharap ke depan Polri memperketat pengawasan terhadap anggotanya agar tidak berulah apalagi memeras masyarakat,” tuturnya.

 

“Dan polisi polisi yang brengsek dan mengganggu sikap profesional Polri harus dipecat dari jabatannya, kalaupun dicopot jangan diberi posisi strategis lagi, melainkan dimasukkan kotak agar tidak merusak citra Polri,” papar Neta lagi.

 

okta/dilah/rel

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here