Wabup, Kabag Humpro dan Milenial Batola Antusias Tonton Wayang Kulit Banjar  

0
4 views

Ratusan warga memadati Panggung Utama Lapangan 5 Desember Marabahan, Sabtu (11/01/2020) malam. Mereka mengikuti Pagelaran Wayang Kulit Banjar.

Pertunjukan ini dibawakan oleh group wayang lokal dari Desa Basahab Kecamatan Marabahan yang bernama Wayang Purwa Basahab Group dengan dalang kondang di Kota Marabahan, Amang Midi.

 

Pada pagelaran ini dalang yang pernah diundang ke Jakarta itu membawakan lakon cerita “Pandu Lapas” dengan diiringi kerawitan dari Babai, Kalteng.

Wabup Batola Rahmadian Noor didampingi Kabag Humpro Hery Sasmita menyimak pertunjukan wayang Banjar.

Pagelaran wayang kulit ini juga disaksikan Wakil Bupati (Wabup) H Rahmadian Noor. Wabup yang hadir sekitar pukul 22.00 Wita ini didampingi Kabag Humpro Setda Batola Hery Sasmita beserta panitia Erkansyah dan Bajau Malela.

 

Yang unik, para penonton pertunjukan seni wayang kulit ala Banjar ini ternyata didominasi para generasi millennial baik laki-laki maupun wanita bahkan anak-anak. Mereka yang hadir lebih awal memenuhi kursi yang tersedia sebelum pertunjukan dimulai.

Salah satu panitia, Ofik mengatakan, pagelaran wayang kulit ini diselenggarakan selain dalam rangka turut memeriahkan Peringatan Hari Jadi ke-60 Kabupaten Barito Kuala (Batola) sekaligus merawat tradisi dan melestarikan kearifan lokal di bidang seni dan budaya yang sangat penting.

 

Ia menambahkan, selain bersifat hiburan, kegiatan ini bisa menjadi media bagi masyarakat untuk meresapi nilai-nilai seni dan budaya yang tidak mengenal batas usia yang bisa masuk dalam setiap lingkup kehidupan.

 

“Mari bersama-sama kita lestarikan budaya yang ada, ambil yang baik sebagai tuntunan,” pintanya.

 

Masyarakat Banjar di Kalsel mengenal pertunjukan wayang kulit sejak abad 15 yang dibawakan pasukan Majapahit yang dipimpin Andyaningrat membawa seorang dalang Raden Sakar Sungsang lengkap dengan pengrawitnya.

 

Saat mulai berdirinya kerajaan Islam sekitar tahun 1526 M pertunjukan wayang kulit mulai diadaptasi dengan muatan-muatan lokal dan cita rasa serta estetika masyarakat Banjar dengan dipelopori Datuk Toya.

 

Sekarang Wayang Kulit Banjar telah menjadi seni pertunjukan yang berdiri sendiri dan memiliki spesifikasi yang membedakan dengan jenis wayang kulit lain baik dari segi bentuk, musik (gamelan pengiri, warna, maupun tata cara memainkannya.

 

Walaupun tokoh-tokoh wayang cenderung mengikuti pakem pewayangan dan dikembangkan dari tokoh serta perlambang masyarakat Banjar seperti gunungan/kayon, Batara Narada, Arjunawijaya, Jambu Leta Petruk, Sarawita/Bilung, Subali, R Hanoman, Prabu Rama, Kedakit Klawu atau Raksasa dan lainnya. Humpro Batola

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here