Dokter, Survivor dan Pasien Kanker (Refleksi Hari Kanker Sedunia, 4 Februari)

0
79 views

 

oleh PRIBAKTI B *)

Dokter, profesi yang melibatkan science dan seni. Pengetahuan mengenai keadaan pasiennya, terutama penyakit berat seperti kanker, merupakan tantangan profesional dokter dalam menyampaikan informasi. Ini karena secara psikologi pasien kanker perlu perhatian khusus dan ekstra. Komunikasi dokter –pasien menjadi penting sebab selama hidupnya pasien kanker akan terus melalui proses pengobatan mulai dari kemoterapi, radioterapi ditambah harus mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter dan pasien kanker yang mempunyai psikologi lebih stabil kualitas hidupnya akan lebih panjang.

Dari banyak penelitian , dilaporkan bahwa dokter kerap gagal menyampaikan berita buruk karena tidak diajarkan, tidak punya persiapan, tidak berpengalaman , percaya bahwa berita buruk bisa berdampak dirinya dimusuhi dan kuatir pasien kehilangan harapan. Untuk itu, dokter perlu mengatasi proses ini dengan persiapan terbaik. Di Indonesia , yang merupakan masyarakat hidupnya kolektifis, penyampaian pada pasien bersama keluarga biasa dilakukan. Namun manakala pasien berkeberatan penyakitnya disampaikan pada pihak keluarga, pasien berhak untuk membuat keputusan. Penyampaian berita buruk adalah bentuk komunikasi yang kompleks. Dari pendekatan komunikasi, kita dapat melakukan kolaborasi unsur dari dua hal. Pertama, dimensi sisi yaitu informasi yang disampaikan dan kedua, dimensi hubungan yaitu kenyamanan interaksi. Untuk itu dalam proses berkomunikasi, dokter sebaiknya juga mempertimbangkan unsur verbal dan non verbal .

Kata-kata yang dipilih, selain berisi informasi bermakna, namun juga perlu mempertimbangkan unsur humanis dan kultural. Kode etik sebuah asosiasi medis diluar negeri menyatakan bahwa kehidupan yang sakit dapat dipersingkat tidak hanya oleh tindakan, tapi juga oleh tutur kata atau perilaku dokter. Karena itu, ada baiknya dokter perlu mempertimbangkan dengan pengetahuan, perasaan dan pengalamannya, seberapa detil informasi yang ingin diketahui pasien.

Mengajukan pertanyaan dan kemampuan mendengarkan dengan pendekatan humanis dapat membantu dokter memahami sejauh mana kebutuhan informasi pasien. Dokter yang memilih untuk menggunakan gaya yang diperhalus walau bisa jadi berisiko menghadirkan ketidakpastian pada pasien dan keluarganya yang mengharapkan kebenaran mengenai diagnosis mereka. Memang dokter mungkin cemas pasien akan kehilangan harapan dan bereaksi emosional ketika secara terang menyatakan diagnosis, namun cukup banyak pasien atau keluarganya yang membutuhkan hal itu.

Cara menyampaikan itulah yang perlu dikuasai oleh dokter. Memberi ”clue” bahwa dia akan menyampaikan berita penting akan membuat pasien memiliki persiapan. Pilihan kata yang mudah dipahami oleh pasien, bahasa yang lugas, jelas, tegas namun tidak mematahkan harapan pasien. Bersiap dengan respon pasien dan keluarga seperti pertanyaan lebih spesifik atau penyataan keberatan hingga sikap emosional. Intinya , dokter sebaiknya menyadari dengan bijak bahwa dirinya adalah obat itu sendiri, karena itu obat yang diberikan sebaiknya sesuai dosis yang diperlukan.

Lebih dari itu, dokter memiliki kekuatan memberikan dukungan spesifik dan bermakna besar bagi pasien dalam bentuk kinerja profesional. Sepakat dengan Prof. Dr.Abdurachman dr Mkes, PA(K) dalam orasi ilmiahnya sebagai guru besar Fakultas Kedokteran Unair (2019) menyatakan bahwa kalimat tepat dokter berkhasiat obat. Artinya alat pengobatan yang paling kuat adalah diri dokter itu sendiri. Penjelasan yang jujur terkait bentuk terapi yang dapat dijalankan, kemungkinan keberhasilan, dampak dan terapi, apa saja alternatif solusi yang dapat dilakukan oleh pasien, memberikan gambaran yang menenangkan pasien.

Selain dokter , suasana keluarga juga dapat membuat pasien merasa berdaya atau frustasi. Untuk itu kemampuan berkomunikasi humanis perlu dikuasai keluarga pasien agar dapat memberikan dukungan terbaik. Keluarga yang secara aktif menunjukkan sikap peduli serta dukungan yang diekspresikan tulus, sangat menyamankan pasien. Kesabaran mendengarkan, bukan menggunakan pertimbangan intelektual dari keluarga terhadap kebutuhan pasien. Ketulusan menyediakan waktu untuk menemani, sentuhan yang tepat , kesiapan menolong sangat positif bagi pasien agar tidak berputus asa terutama pada tahap terminal , karena ini adalah kritis bagi pasien, maka seluruh anggota keluarga perlu bersama saling dukung dan berbagi tugas.

Seperti diketahui salah satu kebutuhan dasar manusia adalah dihargai, didengar , diperhatikan dan dianggap penting. Perasaan dirinya berharga, meski dalam kondisi berjuang melawan kanker dalam tubuhnya, dapat dieskspresikan dengan mendukung mereka berkontribusi pada masyarakat luas. Ada sebuah konsep yaitu PSR kepanjangan dari Personal Social Responsibility atau tanggung jawab sosial individu terhadap masyarakat. PSR dapat diekspresikan dalam bentuk bantuan uang, pemikiran, tenaga , waktu dan perasaan survivor dapat menjadikan hidupnya tetap bermakna dengan ber PSR. Kita dapat menjadikan hidupnya tetap bermakna dengan ber PSR.

Kita dapat mendukung survivor (sebutan bagi penderita kanker yang sudah kembali hidup normal setelah sebelumnya berjuang melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya) untuk berbagi pemikiran, perasaan dan upaya –upayanya dalam menghadapi penyakit kanker . Pengalaman yang memicu mungkin karena kebiasaan terdahulu, upaya kreatif yang dilakukan, solusi mengatasi pentingnya dinamika hati dan fisik yang naik turun dan lain-lain, sangat berharga bagi sesama atau bagi yang sehat. Sebab vonis kanker membuat semua terasa gelap. Sebaik apapun cara dokter menyampaikan tetap saja itu berita terburuk. Disini peran survivor sungguh tak tergantikan , dialah sang cahaya ditengah kegelapan. Selamat hari Kanker Sedunia, 4 Februari!

*) Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.