Polda Metro Jaya Tangkap Dokter Aborsi Ilegal dan 2 Pembantunya

0
12 views

Jakarta, Infobanua.co.id – Setelah tiga tahun nyaris tak terdengar, muncul lagi kasus aborsi ilegal. Pelakunya pun pemain lama di kawasan umum sebagai lokasi kegiatan aborsi ilegal, yaitu di kawasan jln. Paseban, Senen, Jakarta Pusat.

Di Hari Valentine Day atau hari kasih sayang, Subdit Sumber Daya dan Lingkungan (Sumdaling) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya mengungkapkan sebuah tempat praktik aborsi berkedok klinik padahal rumah biasa di Jalan Paseban Raya. “Petugas menahan tiga tersangka yang terlibat kegiatan aborsi ilegal ini,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus kepada media di Jalan Paseban ,Jumat, 14/2/20.

Pelaku pertama, MM alias dokter A. “Dia memang dokter lulusan salah satu Universitas di Medan. (Sumatera Utara).dan pernah menjadi PNS ( pegawai negeri sipil) di Riau, tidak pernah masuk lalu dipecat dan memilih pekerjaan seperti yang sekarang,” jelas Yusri.

Lebih jauh Yusri mengatakan, dokter ini adalah pemain lama dalam praktik aborsi ilegal. Selain itu, sang dokter juga pernah terlibat perkara permohonan adopsi anak di wilayah hukum Polres Bekasi, Jawa Barat dan dipidana tiga setengah bulan.

Dalam kasus aborsi, lanjut Yusri, dokter A juga merupakan buronan yang masuk daftar pencarian orang (DPO) dalam kasus serupa pada 2016. “Pada 2016 Polda Metro Jaya membongkar kasus aborsi ilegal di beberapa lokasi. Ternyata dokter AA adalah salah satu pelakunya yang belum tertangkap,” ujarnya.

“Tersangka kedua adalah seorang yang mengaku sebagai perawat. Masih kita dalami keterangannya. Ia bertindak sebagai perantara atau calo bagi yang ingin aborsi,” jelas Yusri.

Selain itu, kata Yusri, ia mempromosikan kegiatan aborsi ilegal itu di jaringan internet. “Sejauh ini pengakuan tersangka sudah berpraktik selama 21 bulan,” katanya.

Memang jika dilihat lebih jauh, alamat praktik aborsi ilegal itu sudah terdaftar di peta layanan google (google map) sebagai Klinik Bunda C. Rupanya itu salah satu modus praktik para tersangka.

Dari pengakuan tersangka, kata Yusri, praktik aborsi ilegal ini sudah menangani lebih dari 1.632 pasien. Sedangkan tarif yang dikenakan bervariasi tergantung usia kandungan; makin banyak bulannya, makin tinggi harganya.

“Satu bulan Rp1 juta, dua bulan Rp2 juta, kalau tiga bulan Rp3 juta. Lebih dari itu Rp 4 juta ke atas,” terangnya.
Tersangka ketiga adalah karyawan dokter dan bidan. Dia Tercatat sebagai pelaku kambuhan yang pernah dipidana selama dua tahun tiga bulan dalam kejahatan yang sama,” fungkas Yusri.

Para tersangka dijerat dengan beberapa ancaman pidana yang tercantum dalam Undang-Undang Kesehatan, UU Tenaga Kesehatan, dan UU Praktik Kedokteran. “Petugas akan mengenakan pasal berlapis. Sanksi pidana di UU itu belum ada yang sampai 10 tahun,” kata Yusri.

Sedangkan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Merdeka Sirait yang hadir di Paseban menegaskan, UU Perlindungan Anak dapat digunakan untuk menjerat para tersangka. “Pengertian anak adalah sejak dalam kandungan hingga usia 18,” ujarnya.

Tak lupa Aris mengucapkan hormat dan salut kepada Subditsumdaling dan Polda Metro Jaya. “Saya acungkan jempol atas pengungkapan kasus ini,” tandasnya.

Penulis: Okta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here