Peran Akademisi dan Mahasiswa Penetral Situasi Terkini

0
20 views

Pontianak – Kapolresta Pontianak Kota, Kombes Pol Komarrudin menjelaskan bahwa, radikalisme sering didengar dan sering diucapkan, namun kita jarang memaknai dan mendalami serta menggali untuk mengupas tuntas apa itu radikalisme dan fenomena fenomena yang sudah terlihat ditengah masyarakat.

Ia menegaskan, sudah sangat tepat, IAIN menyelenggarakan dialog kebangsaan dengan audiens mahasiswa yang merupakan cikal bakal penerus generasi akan datang.

“Untuk memahami sebuah permasalahan, dilihat bukan hanya dari konteks tata bahasa kalimat tapi makna jabaran jabaran yang ada ditengah masyarakat,” ujarnya usai menghadiri dialog kebangsaan di IAIN Pontianak, Kamis (12/3).

Ada hal yang terkadang simpang siur kata Kombes Pol Komarrudin, karena ketidak tahuannya ketidak pahamannya menggunakan kata kata.

Sebagaimana kita ketahui, saat ini ada opini yang terbentuk bahwa radikalisme itu identik dengan islam dengan kelompok islam.

“Padahal tidak, salah besar setiap aksi setiap gerakan itu diidentikan dengan kelompok tersebut. Ini yang tidak dipahami orang orang sehingga diplesetkan,” terang dia.

Sementara sarana yang digunakan saat ini adalah sarana teknologi, sosial media handphone dan sebagainya.

Yang penggunanya itu bukan hanya dari kalangan terpelajar akan tetapi jauh lebih banyak diluar sana orang orang yang mungkin terbatas pengetahuannya atau sudah tersusupi oleh paham paham yang salah tersebut.

“Ini yang kita khawatirkan, makanya hari ini momen yang sangat pas sangat tepat bahwa ditangan dipundak generasi muda khususnya dari akademisi, mahasiswa ini yang nantinya akan meluruskan atau menjadi setidaknya penetral situasi yang saat ini sedang terjadi,” harap dia.

Dalam mencegah radikal kata dia, harus dipahami dulu terhadap ajaran ajaran. Kita harus bedakan dulu, kita tidak mungkin bisa menolak kalau kita tidak tahu. Mana yang benar dan mana yang salah, apa itu radikal mana yang bukan radikal.

“Itu kita tidak tahu. Tapi kalau kita sudah tau, barang yang mau kita tolak itu apa, maka kita bisa menolak,” terang dia.

Artinya setiap ajaran setiap informasi harus kita kaji betul betul mendalam, dan kita harus lebih bijak mencerna berbagai permasalahan berbagai informasi yang masuk ke kita tidak langsung dijadikan itu sebuah patokan.

Apalagi tidak menutup kemungkinan juga bahwa kelompok kelompok tertentu yang menyasar generasi muda didunia pendidikan.

“Untuk bisa ikut bersama sama mereka, jadi kita harus mengetahui dahulu kalau kita tidak tahu bagaimana kita bisa menangkalnya,” pungkasnya. (jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.