Lima Faktor Fatalitas Penyebab Kecelakaan di Indonesia, Jadi Sorotan PBB

0
148 views

Ada cerita rekan saya dari Singapore yang pernah ke Indonesia berkata “Jika Anda bisa berkendara di Indonesia maka Anda bisa berkendara di mana pun di dunia ini”.

Saya pikir, ada benarnya juga apa yang dia bilang, memang karena berkendara di Indonesia perlu kesabaran yang ekstra tinggi dan sabar, untuk bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan.

Kita tidak hanya dituntut untuk memperhatikan jalan-jalan yang rusak tapi kita juga harus banyak mengelus dada untuk perilaku tidak aman dari sesama pengendara.

Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu permasalahan besar yang harus di hadapi bersama, upaya menekan kecelakaan lalu-lintas di Kalsel terus dilakukan oleh Dit Lantas Polda Kalsel. Diantaranya melalui sosialisasi, kegiatan Police Goes to School, pengenalan rambu-rambu kepada pelajar, pemasangan pamflet, baleho, bahkan secara door to door mengajak masyarakat untuk tertib berlalu-lintas, dll.

Hal ini dibenarkan Kasubdit Bingakkkum Ditlantas Polda Kalsel AKBP Afri Darmawan, S.I.K, M.H, Selasa (19/12/2017). Ditlantas Polda Kalsel juga sudah melakukan skala prioritas tindakkan (preemptive, preventive & repressive) laik Jalan kendaraan bermotor, yang kesemuanya bermuara pada keselamatan dan ketertiban dalam berlalu-lintas.

Bahkan dalam rangka pertemuan Direktur Lalu-lintas se Asia Tenggara, persoalan yang disoroti dunia internasional, khususnya PBB.  Negara Indonesia harus lebih memberikan perhatian kepada lima faktor fatalitas  penyebab kecelakaan.

Lima faktor itu yakni, penggunaan helm, sabuk pengaman, berkendara dibawah pengaruh alkohol, speeding (kecepatan), menjaga keselamatan anak dalam berkendara.  Misalnya, jangan membiarkan anak dibonceng di depan. Jika bawa mobil, anak ditaruh ditengah di jok kedua.

Ditambahkan dari kakorlantas, untuk kasus di Indonesia penyebab kecelakaan juga terjadi dari faktorpengendara melawan arus serta suka memotong jalur.

Selain itu, perilaku buruk mengoperasikan telepon seluler saat berkendara menjadi salah satu dari 10 penyebab utama kecelakaan lalu lintas di Indonesia.

Berdasarkan data Korlantas Polri pada Januari hingga Mei 2017, terjadi 37.204 kasus kecelakaan lalu lintas di Indonesia, dengan korban tewas sebanyak 9.034 orang dan luka berat sebanyak 6.357 orang.

Setidaknya ada 10 penyebab utama kecelakaan lalu lintas. Pertama adalah melakukan kegiatan yang menggangu konsentrasi berkendara, yaitu mengoperasikan ponsel sambil menjalankan kendaraan.

Kecelakaan di Indonesia ini ada 10 penyebab utama. Pertama distracted driving, seperti berkendara sambil telepon, SMS-an, makan dan minum ketika berkendara.

Kedua, berkendara terlalu cepat sehingga sulit memberikan reaksi jika terjadi sesuatu. Saking cepatnya, Anda tidak sempat bereaksi untuk keselamatan. Ketiga, tidak memperhatikan marka jalan..

Faktor lainnya yang menjadi penyebab utama kecelakaan adalah menerobos lampu merah, emosi tidak stabil dari pengemudi yang umumnya masih remaja, serta perilaku melawan arus yang menyebabkan kecelakaan fatal karena kendaraan lain datang dari arah berlawanan.

Berbelok tanpa melihat kondisi jalan, berkendara di bawah pengaruh alkohol, balapan liar dan modifikasi kendaraan yang tidak sesuai aturan juga menjadi faktor utama kecelakaan di Indonesia.

Kendaraan dari pabrik sudah didesain sedemikian rupa untuk keselamatan, jadi tidak usah dimodifikasi macam-macam. Apalagi yang berkaitan dengan keselamatan, misalnya modifikasi ban.

Fakta lain, penggunaan sabuk pengaman ternyata bisa mengurangi risiko fatalitas kecelakaan hingga 61 persen.

Agar para pengendara menguasai teknik, peraturan dan etika berlalu lintas. Pengendara juga harus memastikan motor atau mobil dalam kondisi prima sebelum dijalankan untuk menghindari kecelakaan lalu lintas.

Bahkan, angka kematian akibat kecelakaan lebih tinggi dibandingkan dengan kematian akibat narkoba. Keselamatan jalan di Indonesia saat ini terlihat penting hanya ketika banyak orang mudik untuk berlebaran dan hanya terpusat di kota besar saja. Padahal, kecelakaan lalu lintas bisa berlaku di mana saja dan kapan saja.

Menurut data Bappenas, kerugian akibat kecelakaan lalu lintas berpengaruh terhadap Produk Domestik Bruto yang mencapai dua sampai tiga persen, baik kecelakaan langsung maupun tak langsung.

Ini adalah sesuatu hal yang penting, karena melindungi masa depan. Kalau kita pertumbuhan lima persen sekian dan tergerus sekian persen karena korban kecelakaan baik yang langsung maupun tidak langsung, tentu berbahaya. Coba dibayangkan, jika seorang bapak meninggal dunia, yang menerima dampak anak istrinya, anaknya tidak bisa sekolah, dan istrinya jadi janda.

Untuk itu, jika ingin bisa mengurangi angka kecelakaan, semua elemen masyarakat harus ikut berpartisipasi untuk melakukan penyadaran dan juga melakukan antisipasi secara dini agar terciptanya cita-cita sebagai negara yang aman dan nyaman.

Kita harus menurunkan sesuai dengan perintah PBB maupun sesuai Inpres No.3 tahun 2011, bahwa kita harus menurunkan angka kecelakaan di tahun 2020 hinga mencapai 50 persen dari baseline 2010 yang mencapai sekitar 31 ribu sekian. Nah, jika sudah bisa diturunkan, berarti sisanya sekitar 15 ribu lagi dan tidak bisa hanya dengan kita berdoa, ini harus dengan kerja keras.

idayusnita

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.