Keragaman Dasar Persatuan Dan Kesatuan Indonesia

0
90 views

Kotabaru,Info Banua.Desa Gunung Ulin yang terletak di Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru memiliki sebuah waduk yang dibangun pada tahun 2006 pada masa kepemimpinan Bupati Drs. H. Sjachrani Mataja, MM, MBA sebagai penyuplai air bersih bagi warga Kab. Kotabaru.

Sjachrani Mataja yang kini menjabat sebagai Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi Partai Gerindra mengunjungi Desa Gunung Ulin untuk melakukan Sosialisasi 4 (Empat) Pilar MPR RI yang merupakan suatu program rutin MPR RI dalam memberikan pemahaman dan penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, UUD RI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika disambut antusias oleh warga dan merupakan suatu momentum yang baik bagi warga untuk dapat menyalurkan beberapa aspirasi mereka.

Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi 4 (Empat) Pilar dilaksanakan di gedung Aula SMK Islam Al Bukhari, Selasa (13/2/2018),yang dihadiri oleh masyarakat, Tokoh Masyarakat, Kepala Desa beserta perangkat Desa Gunung Ulin serta Kepala Sekolah, Staf Pengajar dan Siswa/i SMK Islam Al Bukhari. Pada kesempatan itu, Drs H. Sjachrani Mataja menjelaskan bahwa Desa Gunung Ulin ini juga merupakan salah satu cerminan keragaman yang ada di Indonesia dalam skala pedesaan, dimana warga desa terdiri dari suku Jawa, Bugis, Mandar, Sunda dan Madura . Keragaman suku warga Desa Gunung Ulin ini mampu membuktikan bahwa keragaman bukanlah suatu hambatan, permasalahan, ataupun kekurangan melainkan sebuah kekuatan dan tantangan untuk membina terciptanya kerukunan, persatuan dan kesatuan serta sekaligus meningkatkan semangat gotong royong.

“Seringkali kita melihat dan atau membaca berita-berita di media massa bahwa telah terjadi suatu konflik antar suku yang disebabkan oleh suatu akar permasalahan yang dapat dikatakan hal sepele. Kejadian ini terjadi bukan di Desa Gunung Ulin tapi kejadiannya disana (jauh dari Katobaru), karena sejak saya dulu menjabat Bupati Kotabaru selama dua periode, konflik antar suku seperti ini tidak pernah terjadi disini,” kata Sjachrani Mataja.

Peritiwa konflik antar suku seperti itu terjadi karena lemahnya dan rendahnya pemahaman nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, UUD RI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sehingga mudah sekali kelompok-kelompok tertentu melakukan suatu agenda terselebung yang dapat membangkitkan emosi, ego primordial, kemarahan dan kebencian sehingga meletuslah konflik antar suku tersebut. Jika seandainya warga yang terlibat dalam konflik tersebut menyadari dan memahami akan niali-nilai luhur yang terkandung dalam 4 (empat) Pilar kebangsaan, maka persoalan-persoalan yang tidak bersifat fundamental dapat dipecahkan melalui musyawarah untuk mufakat yang dilandasi semangat kekeluargaan sebagai bagian dari satu keluarga besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sjachrani Mataja menekankan bahwa sekali lagi perlu adanya dukungan dan bantuan dari pemerintah, pejabat negara, ulama dan tokoh agama lainnya maupun tokoh-tokoh masyarakat untuk dapat memberikan kontribusi positif dalam mendorong semangat kekeluargaan, kebersamaan, persatuan dan kesatuan sekalipun kita berbeda suku, ras, agama dan keyakinan, serta pandangan politik. Para pendiri bangsa mendirikan Negara Indonesia yang kita cintai ini dengan landasan keragaman suku, ras, agama dan keyakinan bertujuan untuk memperkuat tali persatuan dan kesatuan untuk melawan penjajah dan lepas dari segala bentuk penjajahan menuju suatu bangsa yang merdeka.

Menyadari dan memahami sejarah terbentuknya bangsa dan negara ini, H. Sjachrani Mataja, menegaskan bahwa kita sebagai generasi penerus bangsa dan kalian segenap anak-anakku yang masih duduk di bangku sekolah untuk senantiasa belajar dan memahami akan pentingnya persatuan dan kesatuan serta mampu menghadirkan dirinya sebagai motor penggerak untuk merangkul dan menggenggam semangat keragaman sebagai pondasi dasar dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan bagi kita yang merupakan generasi tua pun jangan kalah dan ketinggalan untuk dapat memberikan bimbingan dan arahan kepada anak cucu kita mengenai nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pancasila, UUD RI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika agar anak cucu kita nanti tidak salah arah dalam melangkah sekalipun virus globalisasi terus menderap kehidupan hingga keseluruh pelosok Tanah Air.

Pengaruh negatif akibat globalisasi yang masuk ke Indonesia merupakan suatu tantangan besar bagi kita semua dalam menjaga nilai-nilai dan cita-cita luhur bangsa tidak tergerus dan terlindas dengan mudahnyda oleh perkembangan jaman, teknologi dan globalisasi. “Pengaruh globalisasi membentuk sebagian kita untuk berpikir dan bertindak secara praktis dan pragmatis sehingga perilaku korup tumbuh subur, sikap acuh tak acuh berkembang biak dengan baik, semangat gotong royong memudar dan sebagainya”, ujar Sjachrani Mataja.

Kondisi seperti ini sangat berbahaya jika dibiarkan dan terus terpelihara jika kita telah mengabaikan nilai-nilai luhur dan budaya bangsa kita yang dikenal ramah tamah, guyub, santun dan beradab. Yang menjadi fokus utama kita adalah sesungguhnya keragaman itu merupakan konsentrasi dasar persatuan dan kesatuan kita dalam menjaga keutuhan NKRI agar penjajahan model baru tidak menggerogoti sanubari kita sebagai anak bangsa yang akan merusak mentalitas generasi penerus bangsa.
Bagaimana caranya agar kita mampu menjawab tantangan globalisasi agar keragaman bukanlah suatu momok yang menyeramkan ? Jawabannya, lanjut Sjachrani Mataja, adalah dengan kita terus menerus dan sering menularkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam 4 (empat) Pilar Kebangsaan dan mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, maka Insya Allah bangsa kita tetap akan terjaga gotong royongnya, persatuan dan kesatuan dalam berbangsa yang berjiwa Bhinneka Tunggal Ika.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.