Focus Group Discussion (FGD) Kelompok Diskusi Terpumpun Uniska yang merupakan program akademi baru menggali serta mempelajari pemikiran-pemikiran dan karya-karya dari Tuan Haji Besar Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari yang sangat kekinian (beyond imagination) dan berkelanjutan dengan situasi dan kondisi sekarang. Kajian-kajian ini dilakukan disetiap Program Studi yang ada di Uniska dan setiap bulannya dijadikan FGD (Focuss Group Discussion)
Kali ini Program Studi (S-1) Teknik Sipil, Fakultas Teknik membawakan Judul FGD yaitu Heritage Sungai Tuan Yang Berfungsi Teknis Sebagai Karya Tuan Haji Besar Muhammad Arsyad Al Banjari Dalam Perspektif Teknik Sipil

Sebagian urang banjar, pasti pernah mendengar sosok ulama kharismatik Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari seorang ulama fiqih mazhab Syafi’i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Dia hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Dia mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.
Dia adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.

Tampaknya pada dimensi lain, sosok ulama ini, selain piawai dibidang agama, Arsyad Al Banjari juga dikenal sebagai ahli tehnik dan arsitek ulung, karena membikin Sungai Tuan menjadi sentra irigasi wakrtu itu. Hal inilah menjadi kajian menarik dosen Fakultas Tehnik Uniska Muhammad Arsyad Al Banjari, Adhi Surya Said rela selama dua bulan mengumpulkan literatur dan wawancara ke beberapa sumber baik ke museum Banjarbaru, para tokoh masyarakat serta menggali referensi lain. Guna mengupas sosok Muhammad Arsyad Al Banjari ini.

“Dari kajian dosen Fakultas Tehnik ini, tampaknya Sungai Tuan yang dibikin oleh ulama Arsyad Al Banjari saat ini masih berfungsi teknis untuk itu wajib dijaga dan dilestarikan demi keberlanjutan warisan atau pusaka untuk masa depan sebagai karya teknis Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang sudah berumur 2 Abad,” tegas Adhi, usai acara Diskusi Publik “Heritage Sungai Tuan Yang Berfungsi Teknis Sebagai Karya Tuan Haji Besar Muhammad Arsyad Al Banjari Dalam Perspektif Teknik Sipil,” di Kampus Uniska, Rabu (7/3)

Sungai Tuan dibuat, oleh Arsyad, untuk kebutuhan sistem irigasi pertanian, persawahan dan perkebunan. Karena pada waktu itu sungai tuan juga berfungsi sebagai sistem transportasi air dan sungai. Sungai Tuan harus segera dinormalisasikan karena kondisinya sekarang kritis dengan adanya pendangkalan dan penyempitan sungai.

“Kajian secara teknis dan perhitungan sungai tuan bisa dilakukan dengan penelitian yang mendalam. Normalisasi sungai tuan dengan tujuan dijadikan sebagai heritage atau warisan dunia melalui PBB (UNESCO),” ujarnya.

Pada waktu itu juga Martapura Lama sering kebanjiran sehingga dengan disudetnya sungai martapura, kondisi banjir di Martapura lama dapat ditangani. Sungai Tuan adalah sungai buatan berupa sudetan dari Sungai Martapura Ulu ke Sungai Martapura Ilir. Pertemuan Arus Air dari Riam Kiwa dan Riam Kanan.

Dalam pelaksanaan Syekh Muhammad Arsyad membuat irigasi, agar dapat mengalirkan air yang selalu tergenang di daerah dataran yang terendah, maka beliau menggoreskan tongkatnya sepanjang 8 km. Yang kemudian menjadilah ia anak sungai yang dapat mengalirkan airnya ke sebelah menyebelahnya.

Goresan tongkat yang menjadi anak sungai inilah yang menjadi sumber nama kampung itu, yakni dua ungkapan yang terdiri dari Sungai dan Tuan, sehingga tergabunglah keduanya menjadi nama suatu kampung yaitu kampung Sungai Tuan. Mayoritas penduduknya adalah zuriat Syekh Muhammad Arsyad dari isteri beliau bernama Tuan Palung.

Kemudian terusan atau anak sungai itu disempurnakan, sehingga akhirnya berfungsilah sebagai irigasi yang dapat mengatur jalannya air, dan diperolehlah lahan yang dulunya nonproduktif menjadi lahan yang produktif; dengan demikian konsep ihya ul mawat dalam islam, sudah diterapkan oleh Syekh Muhammad Arsyad sejak dua abad yang silam (200 tahun masehi yang lalu). Dan beliau sangat paham dengan ilmu falak, mengetahui kapan debit air maksimal (pasang) dan kapan air minimal (surut).

Beliau menarik garis dengan ilatung dari Matahari Terbit menuju Matahari Terbenam (Timur ke Barat)
Menurut Adhi, fungsi Sungai Tuan sebagai sistem pengendali banjir pada saat itu memang mumpuni, Dengan mereduksi aliran air Riam Kiwa masuk ke Sungai Tuan sangat mungkin, sehingga pertemuan debit aliran Riam kiwa dengan Riam Kanan menjadi berkurang, karena sudah direduksi oleh sudetan Sungai Tuan yang titik awalnya berada di Jembatan Astambul.

Sehingga debit banjir di Martapura Lama dapat dikendalikan. Menurut data BWS II Kalimantan Selatan bahwa sejak 2016, 2015, 2014 kecamatan Astambul bahkan di daerah sungai tuan sering terjadi banjir (lihat peta banjir).
Sudah 2 Abad sungai tuan mengalami penyempitan dan pendangkalan dengan adanya sedimentasi transpor, dengan debit rata-rata 100 km/jam sungai martapura dan tumbuhnya rumah-rumah di sekitar sungai tuan. Perlu adanya perbaikan kembali dengan normalisasi sungai. Tahun 1962, Ir.Soekarno pernah melakukan normalisasi sungai tuan.

Pernah tahun 2013, zaman Presiden SBY, Menteri Ristek Prof.Ir.H.M.Hatta (Urang Banjar) bersama Bupati Pangeran Khairul Saleh mau melakukan normalisasi sungai tuan tetapi terkendala pembebasan lahan sehingga gagal dilaksanakan.
Didalam Buku Perkapalan Rakyat Kalimantan Menuju Sistem Inovasi Nasional Transportasi Air dan Sungai dikatakan pada Abad ke 18, satu-satunya transportasi air adalah perahu atau jukung (sebutan bahasa Banjar) yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari dengan berbagai macam jenis jukung yang tertua adalah jukung pandan liris (perahu bagiwas) pada abad ke-14 berikutnya jukung sudur pada abad ke-15.

Maka benarlah julukan kota kita adalah kota seribu sungai dimana jalan atau transportasi yang digunakan melalui sungai dan anak-anak sungai.Dengan adanya sungai tuan yang memotong atau menyudet menyebabkan jarak ke makam Orang tua Datuk Kalampayan semakin pendek tidak memutar melalui sungai martapura tetapi masuk ke sungai tuan dan ke Sungai Lok Gabang. Melalui Sungai Tuan lah menuju tempat berkholwat yaitu yang menjadi makam beliau sekarang Makam Datuk Kalampayan di Kalampayan.

Fungsi teknis Sungai Tuan sebagai sistem irigasi, dengan luas lahan 216.50 Ha dengan 22 desa dalam Kecamatan Astambul merupakan areal pertanian, persawahan, perikanan darat dan perkebunan merupakan daerah potensial.
Untuk kemandirian ponpes Dalampagar maka sungai tuan yang berfungsi sebagai sistem irigasi mampu mengaliri sawah dan ladang disekitar kampung dalampagar. Terbukti bahwa perdagangan lada di zaman Penjajah Belanda merupakan daerah pengeksportir lada hitam untuk pasar eropa pada saat itu (wawancara dengan Yusliani Noor)

Dalam survei Januari 2018 bahwa fungsi teknis sungai tuan masih digunakan meskipun kondisi sungai sangat kritis, rata-rata lebar sungai 3-6 meter dengan panjang sungai kurang lebih 8 km.
Dari hasil wawancara dengan penduduk kampung Sungai Tuan menyatakan bahwa Sungai Tuan dibuat oleh Datuk Kalampayan.

Dari hasil wawancara dengan Dwi Putro Sulaksono, praktisi sejarah, petugas museum Lambung Mangkurat, penulis buku Perkapalan Rakyat Kalimantan Menuju Sistem Inovasi Nasional Transportasi Air Dan Sungai, bahwa Sungai Tuan adalah warisan atau pusaka yang diturunkan kepada anak cucu untuk sebagai mana fungsi sungai dijaga dan dilestarikan. Bisa diusulkan untuk jadi heritage ke PBB (Unesco) dengan aturan yang ditetapkan.

rel/hms

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *