PGRI Kalsel Gelar Konferensi Kerja ke-IV, Membangkitkan Kesadaran Kolektif Tingkatkan Etos Kerja

 

Persoalan guru honor mulai SD, SLTP dan SMU yang jumlahnya kurang lebih 6 ribu guru di Kalsel yang belum diangkat menjadi PNS. Menjadi salah satu bahasan konferensi PGRI se Kalsel ke-IV yang digelar di Banjarmasin, yang mengangkat tema “Membangkitkan Kesadaran Kolektif PGRI Dalam Meningkatkan Etos Kerja untuk Pendidikan Berkarakter,” Jumat malam (30/3/2018).

“PGRI Kalsel terus memperjuangkan nasib guru honorer yang jumlahnya kurang lebih ada 6 ribu di Kalsel agar bisa diangkat menjadi PNS oleh pemerintah,” kata Ketua PGRI Kalsel Muhammad Hatta.

Menurut Hatta, pihaknya sudah melakukan pemetaan guru honor, yang masa kerjanya antara 10-20 tahun yang belum diangkat.  Termsuk guru yang masa kerjanya 5 hingga 10 tahun kami memiliki datanya. “Persoalan guru honor ini sudah pernah kami sampaikan ke Dinas Pendidikan Kalsel, guna ditindak lanjuti, Untuk diproses jika ada peluang pengangkatan menjadi PNS,” katanya.

Kekuarangan guru SD, kata Hatta, yang mesti jadi perhatian pemerintah, karena kekurangan guru SD bukan soal mata pelajarannya. Sebab di SD jumlah guru minimaln ada 6 kelas. Jika  di sekolah itu 6 kelas belajar minimal 6 kelas. “Tapi satu sekolah itu juga ada yang 9 kelas, bahkan ada yang 12 kelas. Bahkan tak jarang di Kalsel ini, Kepala Sekolah SD juga merangkap jadi guru kelas,” katanya.

Persoalan lain, kata Hatta, guru mulai SD-SMU diwajibkan meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya. Soal ini, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kalsel sudah memerintahkan para guru yang ada di Kalsel menjalankan delapan  program Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS).

Delapan program APKS itu yak ni, memperluas wawasan dan pengetahuan guru dalam berbagai hal, seperti penyusunan dan pengembangan silabus. Menyusun bahan ajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Menganalisis hasil belajar, menyusun program dan pengayaan, dan membahas berbagai permasalahan serta mencari alternatif solusinya.

Memberi kesempatan kepada guru untuk berbagi pengalaman serta saling memberikan bantuan dan umpan balik. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta mengadopsi pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif bagi guru.

Memberdayakan dan membantu guru dalam melaksanakan tugas-tugas guru di sekolah dalam rangka meningkatkan pembelajaran sesuai dengan standar. Mengubah budaya kerja dan mengembangkan profesionalisme guru dalam upaya menjamin mutu pendidikan.

Meningkatkan mutu proses pendidikan dan pembelajaran yang tercermin dari peningkatan hasil belajar peserta didik dalam rangka mewujudkan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Mengembangkan kegiatan mentoring dari guru senior kepada guru junior. Meningkatkan kesadaran guru terhadap permasalahan pembelajaran di kelas yang selama ini tidak disadari dan tidak terdokumentasi dengan baik.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kalsel Muhammad Yusuf berharap, kekurangan guru di Kalsel segera diatasi. Seiring adanya rencana pemerintah membuka pendaftaran bagi CPNS tahun 2018. “Mudah-mudahan pusat memperhatikan usulan dari Pemprov Kalsel untuk bisa mengangkat guru kontrak yang ada di Kalsel, yang saat ini jumlahnya ada sekitar 6 ribu orang,” katanya.

rel/hms

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Posts