Kasus kurang gizi dan stunting terhadap anak-anak akibat ketidaktahuan orang tua atas pemicu kedua penyakit itu. Stunting ditandai kelainan tinggi badan anak dibanding bocah seusianya.

Kasus kelainan semacam itu mengakibatkan rendahnya SDM yang berkualitas. “Bukannya tidak pandai, tetapi otak anak hanya bisa menerima pelajaran sampai SD saja. Selebihnya dari itu sudah susah dia mencerna pelajaran,” kata Menkes Nila Moeloek saat pembukaan Rakerkesda Provinsi Kalsel di Banjarmasin, Rabu (4/4/2018).

Pada 2013, ia mencatat angka stunting nasional mencapai 37,2 persen. Angka itu menunjukan bahwa dari 10 anak Indonesia, 4 anak di antaranya menderita stunting. Untuk menekan stunting, Nila mengatakan butuh kerjasama dengan pemangku kepentingan lain lewat pemanfaatan Dana Desa yang menjangkau pelosok.

Situasi Stunting di Kalsel antara lain KabupatenTanah Laut 39,85, Kabupaten Kotabaru 47,88, Kabupaten Banjar 48,15, Kabupaten Barito Kuala 47,64, Kabupaten, Kabupaten Tapin 45,32, Kabupaten Hulu Sungai Selatan 49,85. Kabupaten Hulu Sungai Tengah 51,71, Kabupaten Hulu Sungai Utara 56,03, Kabupaten Tabalong 44,64, Kabupaten Kabupaten Tanah Bumbu 44,93, Kabupaten Balangan 42,65, Kota Banjarmasin 35,79, Kota Banjarbaru 34,03, Total keseluruhan Kalimantan Selatan 44,24.
\
Menurut dia, pemanfaatan Dana Desa dari Kementerian teknis memudahkan program GERMAS bisa masuk ke pelosok desa. “Jadi kerjasama Kementerian lain sangatlah penting untuk mencegah stunting,” ucap dia.

Ia menuturkan peran ayah dan ibu memberi pengaruh besar terhadap pertumbuhan anak. Apalagi sosok ibu kandung sangat penting ketika pemberian Air Susu Ibu (ASI) mesti rutin. Selain itu, pola makan ibu juga penting saat mengandung janin dan setelah melahirkan anak. “Janganlah anak diberi makan nasi terus setiap hari,” kata Nila.

Wilayah di Indonesia dengan angka stunting tertinggi adalah Nusa Tenggara Barat karena angka stunting bisa mencapai angka nasional 50 persen ke atas.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Muhammad Muslim mengatakan angka stunting yang paling tinggi terjadi di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Tapi, data yang baru didapat di tahun 2013-2017 angka stunting di HSU sudah menurun. Dinkes Kalsel dan Pemkab HSU bersinergi melalui beberapa program, misalnya saat ibu mengandung, melahirkan, dan pemberian asupan gizi anak.

“Program perbaikan gizi mulai dari kehamilan sampai usia bayi berumur 2 tahun, kita menamakan program itu 1000 hari pertama kehidupan,” ujar Muslim.

Adapun Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor mengatakan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) menjadi fokus utama pemerintahannya. Sebab, kata dia, kualitas kesehatan yang baik turut menjadi indikator pembangunan daerah dan acuan keberhasilan program kesehatan dari pemerintah.

Sahbirin mengakui masih ada sejumlah daerah dengan tingkat perekonomian sangat rendah masih ditemukan stunting dan gizi buruk. ida/inf

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *