Ikatan Refraksionis Optisien Prihatin Penggunaan Gadget Pada Anak

Ketua Ikatan Refraksionis Optisien Indonesia (IROPIN) Dian Leila Sari mengaku prihatin dengan angka kebutaan mata di Indonesia saat ini trendnya tiap tahun terus meningka berada dikisaran 40-50 persen. Penyebabnya dari banyak faktor, kondisi ini harus diatasi serta dicarikan solusi agar angka kebutaan manusia Indonesia turun.

Dian juga mengaku miris, demam gadget yang digandrungi semua orang mulai anak-anak tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga manusia semuanya mengenal gadget. Penggunaan gadget seakan sudah menjadi kebutuhan yang sulit di lepaskan dari kegiatan sehari-hari. Banyak orang yang menggunakan gadget untuk mempermudah tugas dan pekerjaan atau  sebagai pengisi waktu luang.

“Tanpa disadari penggunaan gadget secara terus menerus dapat mengakibatkan berbagai masalah pada mata, seperti mata lelah ,merah, penglihatan buram, mata kering hingga iritasi ringan bahkan kebutaan jika tak ditangani dengan baik. Agar tak terjadi fatalitas hingga menyebabkan pada mata harus ada gerakan untuk mengedukasi masyarakat untuk aktif memeriksakan mata dan terapi penglihatan,” paparnya usai membuka Musda IROPIN Kalsel, Sabtu (7/4/2018).

Menurut Dian, pengaruh mata terganggu akibat sering bermain gadget patut diwaspadai sejak dini. Agar tak terjadi gangguan, masyarakat secara mau memeriksakan kondisi matanya ke dokter mata.  Pemeriksaan sudah harus dilakukan sejak anak usia dini (PAUD) hingga dewasa, terutama yang sering menggunakan laptop, gadget mesti rajin terapi mata.

Peran IROPIN sendiri, kata Dian, selain aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mulai  tingkat PAUD, lingkungan keluarga, orang tuanya, lingkungan sekolah. Menjadi sasaran edukasi yang dilakukan IROPIN. “Pemeriksaan mata harus dilakukan minimal 6 bulan sekali. Peran IROPIN membantu pemerintah untuk penanggulangan kebutaan. Kita berada dibaris terdepan sebelum dokter mata,” ujarnya.

IROPIN juga belum menggelar program bakti sosial tanggal 7 Agustus 2018 secara serentak seluruh Indonesia di 29 cabang se Indonesia. Melakukan program koreksi tajam penglihatan, dengan menyasar anak di bangku sekolah menengah (SMP) dengan membagikan kacamata gratis.

“Kegiatan bakti sosial juga menyambut digelarnya Association Optician yang akan diselenggarakan di Denpasar Bali 16-17 Nopember 2018 dan akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo, akan diikuti 12 negara yang akan membahas tenaga ahli refraksionis optikal,” katanya.

Saat ini kata Dian, jumlah ahli refraksionis optisien (RO) di Indonesia tercatat ada 8 ribu orang, dan 5 ribu lebih sudah memiliki sertifikasi keahlian yang sudah diakui.

 

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Posts