Caleg Gampang Pindah Partai Dinilai Rendah Moralnya

Pendaftaran calon anggota legislatif (caleg) kali ini mengulang fenomena lama, banyak caleg yang pindah partai politik. Hanya saja, dalam Pemilu kali ini, jumlah caleg yang pindah partai memang banyak dibanding dengan Pemilu sebelumnya.

Menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menuturkan, fenomena perpindahan partai politik jelang Pemilu ini subur saat Indonesia kembali menganut sistem multipartai setelah Reformasi.

Reformasi memungkinkan terbentuknya banyak partai politik baru yang menawarkan ideologi yang lebih segar dan beragam dibanding saat Orde Baru.

Caleg yang pindah partai di antaranya, Titiek Soeharto. Anggota DPR dari Golkar itu pindah ke Partai Berkarya yang didirikan adiknya, Tommy Soeharto. Pertengahan Juni lalu, Titiek menyatakan alasan kepindahannya adalah ingin mengkritik pemerintah. Tapi hal itu tak bisa dia lakukan karena Partai Golkar adalah pendukung pemerintah.

“Saya memutuskan untuk keluar dari Partai Golkar dan memilih untuk memperjuangkan kepentingan rakyat melalui Partai Berkarya,” katanya saat deklarasi bergabung ke Partai Berkarya, Senin (11/6/2018) seperti dinukil dari Liputan6.com.

Hal yang mirip terjadi pada Ahmad Lunggana alias Lulung. Politisi dari PPP ini pindah ke PAN karena ada konflik berkepanjangan di PPP. Selain itu, sikap politiknya terhadap kasus Basuki Tjahaja ‘Ahok’ Purnama berbeda dengan sikap politik partai.

Selain pindah dari PPP ke PAN, Lulung juga naik kelas dari anggota DPRD DKI Jakarta menjadi caleg DPR RI.

Konflik pula yang membuat kader Partai Hanura ramai-ramai pindah ke Partai Nasdem. Mereka yang pindah antaranya lain Arif Suditomo, Fauzi Amro, Rufinus Hotmaulana, Dossy Iskandar, hingga Dadang Rusdiana.

Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan yang sempat mampir di Hanura turut pindah ke PDIP. Kini ia maju jadi caleg untuk daerah pemilihan Jawa Barat.

Kader PAN Lucky Hakim dan Indira Chunda Tita Syahrul, juga turut pindah ke Partai Nasdem.

Ketua DPP Nasdem Bidang Media dan Komunikasi Publik Willy Aditya mengatakan, dari 575 caleg yang mereka daftarkan, 15 di antaranya adalah pindahan dari partai lain.

Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris menyesalkan terjadinya pindah-pindah partai ini. Kondisi itu menandakan rendahnya moralitas politisi Indonesia.

“Partai nggak lebih sebagai EO, event organizer aja,” ungkap Syamsuddin di Jakarta, Kamis (19/7/2018) seperti dinukil dari Jawa Pos. Dia menegaskan, banyaknya politisi kutu loncat juga menandakan pragmatisme politik yang luar biasa.

Menurut Titi, kader yang lompat partai ini disebabkan bertemunya dua kepentingan pragmatis. Partai perlu mengusung caleg-caleg yang bisa menggaet suara pemilih. Sedangkan kader, butuh kendaraan partai yang dianggap lebih akomodatif untuk mencapai tujuannya tersebut,” kata Titi, seperti dikutip dari Kompas.com.

Konflik internal partai, seperti yang terjadi di Partai Hanura, turut menyumbang para kader lompat partai, karena kader ingin pencalonannya pada Pemilu mendatang, tetap aman.

Selain itu, ambang batas parlemen (parliamentary threshold) pada Pemilu 2019 sebesar 4 persen suara sah, membuat partai politik gemar membajak kader partai politik lainnya. Hal ini dilakukan agar partai lolos ambang batas dan bisa melaju ke DPR.

Dengan ambang batas ini, LIPI berdasar survei Mei lalu memprediksi hanya akan ada 6 partai politik yang akan lolos ke Senayan.

rel/bjks

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Posts