Politik Cepat Saji

oleh -3 views

oleh Syahirul Alim *)

Cara pandang pragmatisme terhadap berbagai hal belakangan memang marak, sejak makanan cepat saji mewabah seiring perubahan zaman. Yang menggelikan, politik pun ikut-ikutan semakin praktis mengolah cara-cara pintas bagaimana beban elektoral tak memberatkan, lalu berjualan diri dengan cara-cara instan.

Isu-isu pun dibangun sedemikian rupa demi mengurangi beban elektoral yang terlampau berat. Demi nafsu elektabilitas, mereka memobilisasi isu yang membakar semangat, tak peduli jika pun harus saling serang atau saling hujat.

Demi nafsu elektabilitas, mereka memobilisasi isu yang membakar semangat, tak peduli jika pun harus saling serang atau saling hujat.
– –

Laku politik siap saji sepertinya menjadi tren bahkan lambat laun membodohi dan membutakan cara-cara sehat berpikir masyarakat.

Politik dijalankan dengan cara-cara instan, pragmatis, mencari keuntungan materi bersifat keekonomian. Modal politik tak bukan modal duit di mana semakin banyak duit yang dimiliki, maka dipastikan memenangkan ajang kontestasi.

Tidak hanya itu, agar elektabilitasnya melejit, bangunlah isu-isu tertentu secara cepat, terutama yang sanggup membakar semangat, semua tampaknya sudah dipersiapkan di dapur-dapur politik lalu disajikan secara cepat kepada masyarakat. Dapur-dapur itu memang dipersiapkan menggodok dan memasak politik siap saji yang setiap saat dapat dikonsumsi.

Jika dulu orang-orang dipacu untuk belajar, mencari, dan menghimpun banyak ilmu dan ajaran dengan cara tidak instan, kini hanya kepicikan yang dipertontonkan. Mereka kurang belajar, karena yang penting bagaimana caranya pintar berkoar-koar.

Jika dulu ilmu itu menjadi penghias perilaku, kini ilmu diburu sekadar pemanis yang berdaya pikat bagi kebanyakan orang. Pragmatis aja, ilmu itu titel berderet, tak perlu kualitas, yang penting formalitas lalu menjadi pantas.
Ilustrasi Hate Speech

Ilustrasi ujaran kebencian. (Foto: Pixabay)
Mereka yang melacurkan keilmuannya, jelas bukan manusia, karena manusia sejatinya mencintai ilmu, sehingga setiap perilakunya yang mewujud tentu saja cinta, keikhlasan, dan ketulusan yang tidak buta.

Dulu, dulu sekali, saat masih zaman antah berantah, ketika semakin orang banyak belajar, semakin dirinya bertumbuh ibarat pohon-pohon yang dengan buahnya senantiasa memberi manfaat dan manisnya begitu dirasakan masyarakat.

Pohon itu tetap subur dan buahnya pun tak pernah habis dan itulah pohon ilmu pengetahuan hasil dari cara-cara yang tidak instan. Buahnya tentu saja perilaku yang terpuji dan mulia, banyak ide dan gagasan yang kemudian dibicarakan dan dikembangkannya menjadi serentetan buah budaya, kearifan, dan tradisi yang membumi.

Lalu, bagaimana sekarang? Anda lebih pandai menyusun jawaban, menguntainya dengan kalimat-kalimat sumpah serapah, tergantung kepada siapa jawaban itu anda maksudkan.

Ada benarnya salah seorang pengamat politik LIPI, Lili Romli, menyatakan dengan lugas, di mana politik saling serang dengan cara memobilisasi isu tertentu adalah cara paling instan untuk meningkatkan elektoral. Mendongkrak elektabilitas di era saat ini tak ubahnya menyuguhkan kualitas demokrasi cepat saji, yang penting urusan proseduralnya tak melanggar.

Anda mungkin terbiasa menyaksikan, bagaimana elektabilitas dapat terdongkrak dengan cara-cara menggelikan seperti ini. Politik saling serang dan mobilisasi atas isu-isu politik tertentu demi sebuah elektabilitas, justru teramat sangat digemari belakangan ini.

Pidato seorang pemimpin politik sering kali menuai kecaman dan kritik, bahkan tak jarang dihubung-hubungkan dengan isu politik masa lalu yang tak ada kaitannya sama sekali.

Mereka berlomba-lomba jualan isu, saling serang demi menang dan sangat amat takut kalah, jauh dari upaya membangun gagasan yang bermutu atau bernilai kemanfaatan yang berdampak pada geliat kecerdasan masyarakat.
Demokrasi

 

Politik itu telah mencemari cara berpikir kita, bahkan “membuahinya” sehingga menyebabkan kemandegan berpikir untuk adu ide atau gagasan, karena benih yang ditanamkan sekadar bagaimana menang dan pihak lawan kalah dengan memalukan.

Memang, politik itu soal kalah-menang, bukan soal baik-buruk, demikian ketika salah satu ungkapan pidato bersemangat yang meluncur dari mulut salah satu pemimpin politik. Jadi, jika mau menang, mainkanlah isu-isu politik yang ganjil, demi tujuan mengalahkan agitasi segenap lawan politiknya.

Saling serang menjadi tradisi baru dalam berpolitik dan memobilisasi isu demi kepentingan tertentu harus semasif mungkin demi meraih kemenangan. Menariknya lagi, keganjilan itu semakin nyata ketika sebuah serial film bergenre drama fantasi justu dijadikan bahan sebuah pidato politik.

Lebih menggelikan lagi, ketika pidato drama fantasi ini justru diamini segenap politisi bahkan pebisnis, lalu dengan bangga membuat meme-meme unik bergaya pahlawan klasik.

Serendah itukah politik di sini? Ataukah memang kita sendiri justru senang, sekadar menjadi pendukung atau pengusung, sekadar menjadi para pembela yang serba buta? Mungkin saja politik kita lebih rendah dari moralitas bangsa ini yang sudah banyak tergadaikan oleh kepentingan-kepentingan egonya sendiri.

Moralitas politik itu hanya mitos atau fiksi yang hanya kita saksikan di berbagai drama televisi, tak pernah mewujud dalam sebuah dunia nyata. Tapi, itulah pilihan kita, memilih senang atau dirundung malang, memilih muak atau terbahak-bahak, atau mungkin ada juga sebagian kecil yang lebih memilih selamat dengan cara diam.

Mungkin ada benarnya, bahwa air beriak tanda tak dalam, sehingga air yang tenang menunjukkan kedalamannya yang mungkin saja sulit diukur. Kedalaman politik diukur dari ketenangannya, situasi politik yang tenang juga menunjukkan kecerdasan para elite dan masyarakatnya.

*) pemerhati politik

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.