Kematian Ngurahman Tersangka Kasus Narkoba Dinilai Keluarga tak Wajar

0
64 views

 Sidang Praperadilan dipengadilan negeri Sampit, antara Polres Kotim dan pihak tersangka (korban) Ngurahman alias Unying dikuasakan kepada PH Edward Saragih,DH.MH dan Sahala Simanjutak.SH. (zainal).

 

Sampit – Tersangka Ngurahman alias Unying (37) yang terjerat kasus narkotika jenis sabu menjadi hebos dengan kematiannya dianggap oleh keluarga korban diduga tidak wajar. Apalagi pihak keluarga korban mendengar bahwa kasus kematian korban tersebut akan di SP3, dalam hal ini pihak keluarga yang dikuasakan kepada dua pengacaranya Edward Saragih,DH.MH dan Sahala Simanjutak.SH mempraperadilkan pihak Polres Kotim.

Dari penjelasan Kapolres Kotim, AKBP Mohammad Rommel Kamis (29/8) yang lalu, Kronologis meninggalnya tahanan kasus narkoba ini berawal pada Kamis (22/8) korban ada mengeluhkan sakit kepada rekan sesama tahanan pada bagian kepala dan kondisinya lemas.

Pada keesokan harinya pada Jum,at (23/8) pada saat tersangka mengikuti pemeriksaan kesehatan rutin di Polres Kotim, tersangka diketahui ada kenaikan atau peningkatan tensi. Setelah beberapa jam kemudian tersangka dibawa penyidik ke RSUD dr.Murjani Sampit.

“Dari hasil pemeriksaan di RSUD dr.Murjani Sampit, tersangka diketahui ada mengidap penyakit stroke.” Jelas Rommel pada saat itu.

Dari hasil dianogsa juga. Tersangka ini mengidap penyakit stroke. Selama lima hari dirawat di RSUD dr Murjani Sampit, kemudian tersangka dirujuk ke RSUD Dr.Dorys Sylvanus di Palangka Raya Selasa (27/8)

Hasil pemeriksaan tersangka pula, tidak ada ditemukan tanda tanda kekerasan fisik di tubuh tersangka. Sehingga dipastikan tersangka meninggal pada saat itu disebabkan oleh sesuatu penyakit.

Sebagaimana diketahui tersangka ini ditangkap oleh Satresnarkoba Polres Kotim, atas kepemilikannya 10 bungkus narkotika jenis sabu. Tersangka ditangkap di Jalan Rahadi Usman II, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan MB.Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Disisi lain pihak tersangka (korban) melalui pengacaranya, merasa kematian korban ini di duga tidak wajar karena sebelum korban dikebumikan ada beberapa bekas luka lebam di duga kekerasan dan dua pengacara ini juga memperlihatkan fhoto korban kepada awak media di Pengadilan Negeri Sampit.

“Kalau mau di SP3 itu wajar saja sesuai dengan hukum kita, akan tetapi penyebab kematiannya itu patut kita pertanyakan kalau perlu nanti korban kita minta dioutopsi.” Tegas Edward Saragih,SH.MH dan Sahala Simanjuntak,SH kepada infobanua Sampit.

Dalam sidang Praperadilan Perdana di Pengadilan Negeri Sampit Rabu (25/9), Hakim ketua dipimpin oleh Ega Shaktiana, 5 pengacara dari Polres Kotim sebagai termohon dan 2 pengacara pihak korban Edward Saragih dan Sahala Simanjuntak sebagai pemohon. Sidang dilanjutkan pada Kamis (26/9) sekitar pukul 10.00 WIB untuk mendengarkan jawaban masing masing pemohon dan termohon.

Nal/IB.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.