Wah Ada Apa! Pejabat Disperdagin Dipanggil Polres Kotim

  • Whatsapp

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Sampit, Redy Setiawan yang merasa selalu dilangkahi bawahannya dalam mengambil kebijakan (nal/brt).

Sampit – Kisruhnya permasalahan mafia pasar kini menjadi sorotan Polres Kotim dan Kejaksaan Negeri Kotim, buktinya pejabat dilingkungan dinas perdagangan dan perindustrian Sampit dipanggil untuk dimintai sejumlah keterangan.

Kadis perdagangan dan perindustrian Sampit, Redy Setiawan salah satunya pejabat yang dipanggil Polres Kotim. Ditemui infobanua Sampit disela pemakaman kades Bagendang Hulu, kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU) Sampit, Redy mengakui memang benar adanya pemanggilan dirinya terkait dengan mafia pasar.

Namun karena dengan kesibukannya sebagai kepala dinas, pemanggilan untuk konfirmasi atau dimintai keterangan oleh pihak Polres Kotim ditunda dulu. Akan tetapi perihal pemanggilan dirinya tersebut juga pasti akan dia penuhi, hanya saja pada saat ini belum bisa.

“Memang benar saya sudah dihubungi oleh pihak Polres Kotim, dan juga sudah saya sampaikan pada saat ini saya ada kesibukan.”Ujar Redy Rabu (6/11) kepada infobanua Sampit.

Ditambahkan Redy selain dirinya dipanggil di Polres Kotim, Sekretarisnya Zulhaidir juga ikut dimintai keterangan masalah mafia pasar. Untuk masalah mafia pasar dari yang disampaikan oleh Zulhaidir tadi mengatakan, kalau pihak Polres Kotim juga mempunyai data hanya mencocokan saja.

Sementara ini dari penjelasan Zulhaidir hanya tinggal menunggu penjelasan dari pihak PT.Inhutani III Sampit saja, kalau memang terpisah berarti sudah clear tidak ada istilah mafia pasar karena itu kawasan PT.Inhutani III Sampit.

“Kalau kita lihat PT.Inhutani III Sampit itu adalah Badan Usaha Milik Negara bidang kehutanan, jadi kalau kita memerlukan kawasan itu tentunya melalui prosedur atau tahapan seperti Nota perjanjian antara Pemda dan PT.Inhutani III Sampit.”Jelas Redy kembali.

Diakui Redy juga dalam dinas dipimpinnya banyak melangkahi kebijakan pengambilan keputusan tanpa sepengetahuan dirinya, jadi tidak heran kalau dinas yang dipimpinnya ini menjadi sorotan penegak hukum termasuk dari Kejaksaan Negeri Kotim.

“Saya sudah beberapa kali dipanggil Kejaksaan terkait permasalahan pasar ini, namun saya yakin pihak Kejaksaan sudah mengantongi nama nama oknum mafia pasar ini,” tegasnya.

Sementara pihak General Manager PT.Inhutani III Sampit, Ir Aladdin Sinaga,M,Si dihubungi oleh infobanua Sampit melalui telpon selularnya mengatakan, dirinya sekarang berada di Puruk Cawu dan sinyal agak kurang baik. Namun pada intinya 19 kios itu memang ada pengajuan permohonan dan dalam proses di Jakarta, sekarang pihaknya tinggal menunggu proses tersebut.

“Menunggu saya datang saja nanti di Sampit, Senin depan agak siang saya sudah ada di Sampit. Nanti saya akan jelaskan kalau lewat telpon takutnya salah.”Ujar General Manager dalam percakapan melalui telpon selularnya dengan infobanua Sampit. Lalu bagaimana persetujuan PT.Inhutani III Sampit belum keluar bangunan kios sudah berdiri dan sudah ada penarikan sejumlah uang.

Reporter : Zainal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *