PT Permata Indah Sinergi Diduga Langgar Adat, Demang Lahei Barat Tuntut Ritual Ulang dan Sanksi Pelecehan Adat

  • Whatsapp

MUARA TEWEH – Sebelum beropesional perusahaan pertambangan yang ada di Barito Utara terlebih dahulu harus memenuhi pelaksanaan ritual Manyanggara – kegiatan meminta izin dan restu roh gaib. Yang dipercaya dan masih berlaku disebagian wilayah Demang Lahei Barat Barito Utara. Roh para leluhur—yang diyakini sebagai penguasa alam dan penjaga tanah, air dan kayu-kayuan agar tidak marah dan memangsa ke wilayah pemukiman penduduk dan karyawan prusahaan itu sendiri

Kepada Infobanua.co.id, (23//2019) Demang Kepala Adat Lehei Barat melaporkan, PT Permata Indah Sinergi (PIS) yang melakasanakan operasinya di wilayah Desa Teluk Malewai dan Desa Banao Kecamatan Lahei Barat, Kabupaten Barito Utara Kalteng. Saat melaksanakan ritual adat PT PIS ini hanya mau memenuji syarat, tapi PT PIS dinilai hanya memaksakan kehendak. Bahkan terkesan hanya untuk melakukan pelecehan adat di saat ritual.
11
Sikap PT PIS itu, sangat disesalkan oleh Demang Kepala Adat Jimi, karena PT. PIS dan oknum karyawanya ketika melakukan ritual manyanggar. Pada tanggal, 18 Nopember 2019 yang dilaksanakan oleh para mantir dan dihadapan para anggota Kuramil dan anggota Poksek Lahei Barat.

“Sudah diumumkan, bahwa setelah ritual agar selama tiga hari PT PIS tidak beroperasi salama ritual memali, namun kenyataannya PT PIS malah beroperasional dan bekerja,” katanya.

Kata Jimi, selaian melanggar ketentuan seperti yang disebutkan, saat pelaksanaan ritual beberapa oknum karyawan PT PIS, diantaranya yang sudah diketahui namanya malah mengacung-acungkan jempol ke arah kamera. Hal ini seakan sebagai Isyarat, bahwa ritual yang dilaksanakan itu adalah ritual porno.

“Atas kejadian tersebut saya didatangi para mantir dan pisur basir pelaksana ritual. Untuk menyampaikan keberatan mereka. Bahkan secara pribadi dan sebagai demang, saya keberatan dan akan menuntut PT. PIS untuk melaksanakan ritual manyanggar ulang dan membayar denda adat. Kepada oknum karyawan yang diduga telah melecehkan adat harus diganjar dengan hukum adat atas perbuatanya. Apalagi saat ini saya sedang nare aseng, poru ponu atau berduka kerna pada saat ritual hari itu, anak kami meninggal dunia. Saya masih memberi tokeransi namun PT PIS semakin menjadi-jadi,” katanya.

Hison

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *