Waspada Ancaman HIV/AIDS (Refleksi Hari AIDS Sedunia, 1 Desember)

1
234 views
?????????????????????????????????????????????????????????

Oleh PRIBAKTI B *)

Sudah jamak bila HIV/AIDS selalu menjadi isu global  yang menarik untuk diperbincangkan serta menjadi tantangan kesehatan di seluruh dunia. Penyakit ini sangat ditakuti dan kebanyakan orang berupaya untuk menghindarinya serta juga menghindarkan diri dari pengidap atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Masalahnya di masyarakat kita, ODHA dianggap sebagai orang-orang yang patut dikucilkan karena telah menyalahi norma-norma yang berlaku di masyarakat sehingga perlu dibuang  dari tengah keluarga serta dijauhkan dari lingkungan adat istiadat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya banyak pihak yang melakukan peringatan  Hari AIDS  Sedunia tanggal 1 Desember. Banyak lembaga sosialpun turun ke  jalan untuk menyemarakkan peringatan HIV/AIDS tersebut , namun bisa dikatakan peringatan ini hanya sekedar seremonial saja, karena faktanya prevalensi HIV/AIDS tidak berkurang bahkan terus mengalami peningkatan.

Ini karena HIV (Human Immunodeficiency Virus) sendiri merupakan virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia sehingga seseorang mudah terserang penyakit. Orang yang terinfeksi HIV,cepat atau lambat (2 sampai 10 tahun) akan menderita AIDS) (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) jika tidak berobat secara teratur. Sementara AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik defisiensi imun yang berat dan merupakan manifestasi stadium akhir infeksi HIV .

Sejarah HIV/AIDS pertama kali dilaporkan terjadi pada tahun 1981 di Amerika Serikat. Pada awalnya tampak seperti penyakit yang hanya ditularkan oleh laki-laki homoseksual. Semakin lama penyebaran virus ini semakin meluas terutama kepada kelompok-kelompok masyarakat lain seperti pengguna obat-obatan nakotika melalui jarum suntik dan para imigran Haiti.

Di Indonesia sendiri, penyakit HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Propinsi Bali pada tahun 1987, hingga saat ini dilaporkan keberadaannya pada 433 Kabupaten/Kota  dari 514 Kabupaten/kota di 34 provinsi dengan propinsi Bali masuk lima besar jumlah penderita HIV/AIDS tertinggi di Indonesia.

Data Dinas Kesehatan Propinsi Bali mencatat, kasus penderita HIV/AIDS di Bali hingga Maret 2019 berjumlah 21.018 orang. Dalam catatan Kementerian Kesehatan per 2016, diperkirakan ada 640.443 orang Indonesia yang terkena HIV/AIDS. Namun dari angka tersebut, baru 338.363 orang atau 58,7 persen yang mengetahui status penyakit mereka, per Maret 2019. Hampir separuh yang tidak terobati.

Hasil penelitian Stanhope dan Lancaster (2000), menggambarkan bahwa faktor sosial yang berkaitan dengan kurangnya informasi tentang penyebab terjadinya penularan infeksi HIV/AIDS, sehingga kebanyakan individu salah dalam bersikap dan berperilaku. Faktor sosial tersebut juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat mendapatkan sumber informasi baik formal maupun informal sehingga cenderung melakukan tindakan yang berisiko terhadap masalah kesehatan.

Pada umumnya mereka yang terjangkit penyakit HIV/AIDS ini adalah orang-orang yang sering melakukan hubungan badan (seks) dengan berganti-ganti pasangan, pengguna narkoba yang menggunakan alat suntik dipakai secara bergantian. Juga bisa bawaan lahir jika orangtua bayi mengidap penyakit HIV dimana anak yang dilahirkan akan positif mengidap hal yang sama.

Virus ini pada umumnya menyerang kekebalan tubuh dan membuat penderita menjadi semakin lemah. Dapat dikatakan bahwa jalur utama penularan atau masuknya virus HIV ke dalam tubuh manusia berlangsung melalui adanya kontak cairan yang mengandung sel terinfeksi virus atau partikel virus. Yang dimaksud cairan tubuh disini adalah darah, sperma, cairan vagina, cairan serebropinal dan air susu ibu.

Dalam konsentrasi yang lebih kecil virus ini juga terdapat pada air mata, air liur, air ludah dan air kemih. Dengan demikian HIV pada umumnya ditularkan melalui cara transfusi darah, sebelum dan selama proses persalinan/kelahiran, melalui ASI, penggunaan jarum suntik bersama-sama dan hubungan seks anal/oral .

Catatan UNAIDS (Badan PBB yang mengurusi AIDS)  menyatakan Indonesia adalah negara tertinggi kedua untuk kematian penderita AIDS dan berada di peringkat ketiga tertinggi untuk jumlah pengidap HIV di kawasan Asia Pasifik . Jadi  bisa  dikatakan bahwa Indonesia darurat HIV/AIDS. Untuk itu dibutuhkan evaluasi yang mendalam dan dicarikan solusi yang benar-benar solutif untuk memutus mata rantai penularan penyakit ini. Jika tidak, maka akan mengancam keberlangsungan generasi penerus bangsa .

Terlebih lagi saat ini HIV/AIDS sudah mengancam kalangan anak-anak dan ibu rumah tangga. Dan ibu rumah tangga adalah profesi yang terbanyak ditemukan kasus HIV/AIDS. Penularan pada ibu rumah tangga yang paling banyak adalah adalah para istri pengguna narkoba dengan suntik, para pengguna jasa pekerja seks komersial, istri para pria gay.
Semua akibat perilaku yang liberal dan jauh dari nilai agama.

Ada beberapa langkah kongkret yang bisa dilaksanakan sebagai ganti program yang ada sebelumnya dan terbukti gagal menekan prevalensi HIV/AIDS.Yang pertama, perlu evaluasi program pencegahan  saat ini yang kita kenal dengan istilah ABCD (Abtinencia, Be faithfull, Condom, Drug). Tidak berhubungan seks berisiko, setia pada pasangan, pakai kondom dan hindari penggunaan narkoba. Evaluasi ini penting mengingat pencegahan merupakan upaya terbaik mengatasi penyakit HIV/AIDS.

Yang kedua, pola pencegahan AIDS harus diubah , saatnya kini mendorong masyarakat berani berkata TIDAK terhadap hubungan seks yang tidak aman. Selain itu masyarakat juga harus berani berkata TIDAK terhadap penggunaan narkoba. Intinya pencegahan harus mencakup dari taraf kesehatan hingga pada pendidikan kesehatan. Dilevel pendidikan perlu disampaikan pemahaman mengenai HIV – AIDS termasuk imbauan pelatihan untuk berani menyatakan TIDAK terhadap perilaku yang berisiko penularan HIV.

Untuk itu kepada pemerintah baik eksekutif, legislatif , yudikatif  dan lembaga lembaga sosial serta organisasi kemasyarakatan harus lebih giat lagi dalam mengkampanyekan dan mensosialisasikan  secara lebih persuasif, mengenai HIV/AIDS mulai dari daerah perkotaan hingga ke pelosok pedesaan. Pendekatan persuasif  kepada keluarga dan individu  menjadi penting  karena keluarga merupakan kunci yang paling efektif dalam mencegah  kasus HIV/AIDS. Jika tidak, Indonesia terancam gagal penanggulangan HIV/AIDS. Selamat Hari AIDS Sedunia, 1 Desember!

*) Dosen FK ULM dan Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

 

1 KOMENTAR

  1. Setuju. Pemberantasan HIV/AIDS harus berdasarkan fakta bagaimana asal usul dan cara penularan penyakit ini. Berantas narkoba. Berantas perzinahan dan berantas LGBT. Kita harus cepat sebelum terlambat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.