SMSI

Musyrifah Alhadar menjadi narasumber pada acara Diskusi Publik “Lawan Rape Culture di kota ternate”

Musyrifah Alhadar menjadi narasumber pada acara Diskusi Publik “Lawan Rape Culture di kota ternate”

Ternate – Kepala dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (PPPA) Provinsi Maluku Utara (Malut), Musyrifah Alhadar menjadi Narasumber pada acara diskusi public tentang “Lawan Rape Culture di kota ternate” yang di gelar oleh salah satu lembaga organisasi P2TP2A Malut. yang bertempat di café Djarot kelurahan BTN, Kec. Ternate tengah Pada Rabu, (11/12/2019)

Informasi yang di himpun media ini, diskusi sekaligus konfrensi pers tersebut menghadirkan 4 narasumber di antaranya Kepala Dinas (Kadis) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Provinsi Malut, Musyrifah Alhadar, Kadis P3A Kota Ternate Hadija Tukuboya,dan P2TP2A Provinsi Malut, Dewa, serta LSM Pergerakan Perempuan se-Malut,

Kadis P3A Provinsi Malut, Musyrifah Alhadar kepada awak media usai diskusi mejelaskan bahwa pihaknya berkomitmem dan mengsukseskan program P3A dalam hal ini Tri and, akhiri kekerasan perempuan dan anak, akhiri perdagangan orang atau TTPO, akhiri kesejangan perekomonian perempuan. karena Tri And ini sudah mewakili keseluruhan program-program perempuan dan perlindungan anak. P3A yang memiliki banyak program dan penjabaran dari Tri And yaitu, pihaknya sudah mengaktifkan dan para aktifis perempuan sudah membantu kita melakukan pedampingan di tiap-tiap kelurahan maupun desa yang ada di Malut.

” kita sudah aktifkan seluruh program kerja, dan ini merupakan gabungan aktifis seperti LSM dan tokoh masyarakat, tokoh agama dan sebagian bersama-sama memberantas kekerasan perempuan dan anak di Malut, ” katanya,

Lanjut dia, pihaknya melakukan sedini mungkin untuk reproduksi perempuan itu sendiri jadi pihaknya bisa mengetahui terkait dengan reproduksi mereka dan apa yang akan di lakukan sudah di pikirikan efeknya kedepan,

Ketika disentil soal Perempuan pekerja malam, Kata Kadis pihaknya sudah membahasa dan sudah masukan ke Perda nomor 4 Tahun 2019 tentang TTPO. Apa bila mereka melakukan pekerjaan tersebut bukan atas dasar hati nurani mereka akan tetapi dari berbagai tekanan, atau di janjikan kepada mereka, ” kami sudah masukan ke dalam perda dan akan di sosialisasikan di tahun 2020 nanti, mungkin itu akan mengurangi tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak di Malut, ” paparnya,

Menurut Kadis, P3A tidak akan memberikan tolerasi kepada pelaku pemerkosa atau kekerasan terdahap anak, “dan ini merupakan corong bagi kita perempuan-perempuan di Malut, ” ucapnya,

Terpisah Ketua P2TP2A Dewa, ketika di temuai membeberkan, selama tahun 2019 ini pihaknya sudah melakukan pendampingan 33 kasus terkait kekerasan terhadap perempuan dan perlindungan anak, dan pihaknya baru menyelesaikan sebanyaj 7 kasus yang di putuskan oleh pengadilan dan 26 lain masih dalam proses pendampingan.

” kami tidak main-main terkait dengan kasus yang kami dampingi, tidak ada toleransi kepada pelaku-pelaku bejat, dan kami mengawal kasus-kasus tersebut hinggga di persidangan, ” tegasnya.

Sememtaa itu, dirinya bersama Dinas terkait serta Aktifis perempuan Malut akan melakukan sosialisasi di tiap-tiap sekolah dan kampus agar para kaum adam tidak lagi memikirkan kaum hawa dengan pantangam negatif, ” kami akan berikan pencerahan kepada anak-anak di tingkat sekolah dan kampus agar kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak lagi terjadi, apa bila ada yang menemukan kasus tersebut agar segera laporkan ke kami dan akan kami dampingi hingga di persidangan, ” tegasnya.

Diketahui, terjadinya kekerasan dan pemerkosaan terhadap perempuan dan anak adalah orang terdekat dan orang terjauh, contoh salah satu kasus almarhuma Kiki Kumala yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual pada beberapa bulan lalu.

Hana

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan