Pengurus PSHT Minta Maaf, Masyarakat Berharap PSHT Dibubarkan

  • Whatsapp

Sampit,Infobanua.co.id – Pertemuan rapat menyikapi kasus pengroyokan oleh 8 pelaku terhadap korban Herpansyah antara pengurus cabang perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dengan para tokoh dayak, Fordayak (pemuda dayak),Batamad, lembaga dayak LMMD-KT serta keluarga korban pengroyokan warga desa Lubuk Ranggan, Kecamatan Cempaga yang dipasilitasi oleh DAD Kotim Jum,at (14-2-2020) diruang sidang adat.

Rapat dipimpin oleh ketua harian DAD Kotim, Untung didampingi ketua Umum, Taufik Mukri, Dewan pertimbangan, Redy Setiawan dan Supriyadi, Ketua II DAD Kotim, Firdaus Herman Ranggan serta perwakilan dari Polres Kotim.

Hadir juga dalam pertemuan tersebut pengurus cabang PSHT Kotim, Ketua cabang Susanto, wakil ketua I  Harsono, Sekretaris Sukoco, wakil bendahara I Haryanto dalam kesempatan tersebut, pimpinan rapat Untung memberikan kesempatan kepada ketua cabang PSHT menjelaskan selama perjalanan perguruan yang dipimpinnya.

Ketua cabang PSHT, Susanto menjelaskan, kalau perguruan yang dia pimpin tidak ada membedakan suku untuk bergabung dalam PSHT. Kalaupun ada itu adalah perbuatan oknumnya saja, tentang kejadian pengroyokan yang baru saja terjadi itu mereka meminta maaf kepada seluruh masyarakat ataupun warga Kotim.

“Kami sangat mendukung kalau pelaku diproses secara hukum, dan kami juga akan mengeluarkan pelaku ini dari PSHT.” ungkap Susanto dalam pertemuan tersebut.

Pada kesempatan itu keluarga korban pengroyokan warga Desa Lubuk Ranggan yang diwakilkan oleh Silatturahman menyampaikan, kalau perbuatan yang dilakukan oleh para pelaku ini sudah dianggap diluar batas. Pelaku ini juga dianggap tidak menghormati filsapat orang dayak, dimana langit dijunjung disitulah bumi di injak (hormati adat istiadat budaya orang dayak).

“Saya mewakili keluarga korban meminta dengan sangat kepada DAD Kotim, bubarkan saja PSHT ini dibumi habaring hurung dan robohkan saja gerbang PSHT di Jalan Sekar Arum itu.”Tegas Silatturahman yang biasa dipanggil Atur ini.

Dukunganpun muncul dari berbagai tokoh dayak, Redy Setiawan yang juga mantan Kadis Perdagangan dan Perindustrian Sampit. Redy kalau pada saat ini komponen akar rumput dayak mengutuk keras dan meminta kepada mereka harus bubar dari Kotim.

“Permintaan akar rumput ini saya anggap wajar wajar saja, mereka tidak menghendaki kejadian sebelumnya terulang kembali di Kotim yang dirugikan masyarakat dayak disini.” Ungkap Redy Setiawan.

Hasil rapat menyimpulkan, proses pidana sudah ditangani oleh pihak kepolisian, proses hukum adat ditangani oleh DAD Kotim, Bupati dan wakil Bupati diminta segera mengundang FKPD Kotim untuk menggelar rapat, pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada hukum baik itu pidana maupun hukum adat, hukum adat segera akan digelar secepatnya setelah koordinasi dengan DAD Propinsi dan diharapkan semua pihak bisa menahan diri.

“ Sesuai dengan pembicaraan kemaren pemimpin sidang adat nanti kita ambil dari beberapa Kabupaten, termasuk juga para pendawanya.” Tegas ketua harian DAD Kotim kepada infobanua Sampit.

Penulis : Zainal/IB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *