Dinas Pariwisata Haltim Minta Peninggalan Tentara Sekutu di Desa Hatetabako Dijaga dan Dirawat

0
107 views

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Haltim Maba Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) mengunjungi Benteng pertahanan Jepang di Wasile, tepatnya di Desa Hate Tabako, Wasile Tengah, Halmahera Timur. Untuk mengenang sejarah kehadiran tentara sekutu di Haltim.

Menurut Kepala Dinas Parawisata dan Kebudayaan Hardi Musa S.Pd MA pihaknya melakukan survei peninggalan tentara sekutu, Sabtu (22/2/2020).

Situs bersejarah ini memang punya banyak cerita. Sejak Perang Dunia ke-2, kawasan ini menjadi basis tentara Jepang melawan pasukan sekutu. Masih tampak benteng pertahanan yang berada di pesisir pantai di Wasile. Meski beberapa bagian  tampak mulai rusak dengan adanya abrasi laut.

“Kami harap masyarakat yang berada di desa Hatetabako atau disekitarnya menjaga bukan malah sebaliknya. Karena hal ini menjadi nilai kita di mana para nusatawan yang datang ke wilayah kita,” katanya.

Pada masanya, bunker ini digunakan pasukan Jepang saat Perang Pasifik berkecamuk 1943 – 1945. Bangunan seperti ini juga tersebar di beberapa titik di Halmahera seperti di Kao, Galela dan lainnnya selain di Pulau Morotai sebagai basis utama.

Tidak hanya bunker, meriam tempur (bazooka) Jepang masih bisa dilihat di kawasan ini. Moncong meriam menjadi saksi bisu pertempuran pasukan Jepang dan sekutu 1943 – 1944.

Tampak bagian monyong sengaja dirusak oleh pasukan sekutu dengan diledakan menggunakan granat agar tidak berfungsi.

Seperti diketahui kawasan ini dibombardir oleh pasukan sekutu pada November – Desember 1944 silam.

“Di sekitar Wasile, dahulu masih banyak titik meriam tempur seperti di Hate Tabako. Hanya tinggal satu saja yang masih terpelihara. Butuh pihak terkait untuk memelihara agar tetap ada,” tukas Kelong warga Hate Tabako.

Selain itu benteng pertahanan, bunker persembunyian juga bisa ditemui di sini. Para tentara Jepang memfungsikanyan menjadi tempat persembunyian dengan 20 pintu rahasia.

Sekedar informasi, bunker yang berada di Kao dan Tobelo terbuat dari tanah liat yang dipahat apik. Masing-masing pintu terhubung dengan pintu lain dan saling berhubungan.

Jelas banyak cerita sejarah di situs ini. Lokasinya yang strategis juga menjadi pertimbangan untuk dikunjungi oleh wisatawan terkini. Letaknya tidak lebih dari 50 meter dari pesisir pantai Halmahera Timur membuat situs bersejarah begitu memesona.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.