Pilkada Kotabaru akan Bentuk Rezim Gerontokrasi ala Zombie

  • Whatsapp

Oleh:Syahraninew

Kabar mengenai kemungkinan majunya beberapa politisi senior, petahana dan mantan dalam kontestasi pilbup Kotabaru mendatang, mendapat respon beragam dari berbagai pihak. Banyak yang menyambut positif, tapi tidak sedikit yang menanggapi dengan negatif.

Meskipun saya menilai sah-sah saja di alam demokrasi, namun jika nantinya benar-benar terwujud, hal tersebut mengindikasikan kuatnya rezim gerontokrasi di Bumi Saijaan. ” tidak ada regenerasi, politik kita tidak mampu mencetak pemimpin muda yang lebih berkualitas”.

Menurut saya figur yang muncul tak memberikan sedikitpun penyegaran, tapi malah menyegarkan ambisi untuk kekuasaan. Keserakahan melunjak dan meluluhlantakkan kerendahan hati demi egoisme berkuasa seakan tak punya harga diri, padahal mengabdi tidak harus menjadi Bupati.

Generasi gerontokrasi ala zombie seakan mengakar di kota ini diisi oleh para durjana politik yang punya Syahwat kuasa tak ketulungan. Pertanyaannya cari apa dan untuk apa?, Sehingga pemain-pemain lama rela melepaskan jabatan dan bahkan menyambangi kabupaten ini dengan membangun sensasi tanpa bicara solusi.

Akhir-akhir ini juga saya melihat Prof. Syaiful Bahri Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta sebagai putra daerah Kotabaru intens memberikan pandangannya untuk perbaikan Kotabaru, jika sekelas Profesor berkomentar memberikan analisis-analisisnya terhadap Kotabaru, berarti kondisinya sudah akut perlu kemoterapi berkali-kali untuk penyembuhan.

Tapi sebelum KPUD memberikan surat Keputusannya, Silahkan bertransaksi sepuasnya tapi jangan lupa kelak oknumnya akan membayar laku itu semua di depan Tuhan. Jangan sampai politik kekuasaan menghalalkan segala cara, itu keluar dari nilai-nilai keislaman yang dianutnya.

Sebagai penutup Kotabaru butuh pemimpin muda yang lebih fresh, punya visi membangun, berkarakter dan berkapasitas mumpuni. “Butuh penyegaran, wajah baru harus berani tampil di kontestasi yang akan datang”, Kita punya banyak stok pemimpin seperti itu di Kotabaru”.

*) pemerhati sosial politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *